Nova Nebula: poor child (series 1) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #11

Rahasia Gelap Akademi

Keheningan malam di koridor asrama pecah berantakan saat Guru Lumari tiba di lokasi dengan jubah peraknya yang berkibar panik. Pemandangan di depannya adalah neraka elektrik; Ray berdiri di pusat badai, tubuhnya bukan lagi sekadar inang bagi kekuatan Nova, melainkan menjadi anomali energi yang murni. Lumari segera merentangkan tangannya, mencoba memancarkan gelombang penenang frekuensi tinggi untuk meredam fluktuasi saraf Ray. Namun, sebelum gelombang itu menyentuh targetnya, sebuah ledakan statis yang memekakkan telinga menghantam udara. Energi listrik Ray kini terlalu liar, terlalu pekat oleh residu emosi negatif, hingga memancarkan gelombang tolak yang membuat Guru Lumari dan anak-anak lainnya terlempar mundur beberapa meter.

"Energinya sudah mencapai titik jenuh! Dia tidak lagi mengendalikan kekuatan itu, kekuatan itulah yang mengendalikan raganya! Mundur semuanya!" seru Guru Lumari dengan nada yang jarang sekali terdengar—nada ketakutan.

Ray, yang kini hanya terlihat seperti siluet gelap di balik tirai petir, menggeram. Matanya tidak lagi memiliki pupil, hanya berisi cahaya putih kebiruan yang menyilaukan. Tiba-tiba, pintu asrama terbuka kasar. Ratizan, kakak laki-laki Ray yang selalu tampak angkuh, muncul dengan wajah tegang. Namun, kehadirannya justru menjadi pemicu ledakan emosi Ray yang paling dalam. Tanpa peringatan, Ray melepaskan busur petir raksasa tepat ke arah kakaknya. Ratizan bereaksi cepat, menciptakan perisai energi padat, namun dampak hantamannya begitu kuat hingga ia terpelanting menabrak dinding koridor.

"Ray! Apa yang kau lakukan, sialan?! Kau hampir membunuh saudaramu sendiri!" teriak Ratizan, suaranya bergetar antara amarah dan rasa tidak percaya. Ia bangkit dengan mata menyala merah, memanipulasi potongan logam dari dekorasi dinding dan puing-puing bangunan, meluncurkannya ke arah Ray seperti peluru kendali. Pertarungan saudara itu pecah di tengah lorong sempit, menciptakan simfoni kehancuran antara kilatan listrik dan benturan logam yang memekakkan telinga.

Aiden, Zara, dan Kai mencoba merangsek maju untuk melerai, namun panas yang dihasilkan oleh energi Ray membuat udara di sekitar mereka seolah mendidih. Di tengah kekacauan yang semakin tak terkendali itu, sesosok figur otoritas paling tinggi di akademi muncul. Kepala Sekolah Orion berdiri di ujung lorong. Wajahnya yang biasanya sekeras batu kini tampak retak oleh kesedihan yang mendalam.

"Cukup! Hentikan kegilaan ini sekarang juga!" Suara Orion menggelegar, lebih berat dari dentuman mesin pesawat tempur.

Dengan satu hentakan kaki, Orion melepaskan gelombang manipulasi energi tingkat tinggi. Sebuah perisai transparan raksasa muncul di antara kedua putranya, mendorong mereka menjauh secara paksa. Namun, Ray yang sudah kehilangan akal sehatnya justru menyerang sumber energi yang menahannya. Sebuah sambaran petir hitam menghantam dada Orion. Sang Kepala Sekolah terhuyung mundur, memegangi dadanya yang terbakar, namun ia tetap berdiri tegak demi menjalankan tugasnya yang paling menyakitkan.

Lihat selengkapnya