Nova Nebula: poor child (series 1) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #13

Kebangkitan Malaikat Sangkakala

Aiden, Zara, dan Kai melangkah melewati gerbang utama Akademi Galaksi dengan beban yang jauh lebih berat daripada sekadar keletihan fisik. Di dalam genggaman Aiden, chip reset milik Guru Lumari berdenyut redup, membawa serta sisa-sisa dendam dan penyesalan dari Ozi'lon. Suasana di akademi kini telah berubah total; tidak ada lagi keriuhan tawa para murid di koridor kristal. Yang tersisa hanyalah kesunyian yang mencekam, seolah-olah udara itu sendiri sedang menahan napas menunggu sebuah bencana besar. Mereka menyerahkan chip tersebut kepada Kepala Sekolah Orion di ruang pusat kendali. Orion menerima benda itu dengan tangan yang dingin dan wajah yang sepenuhnya hampa. Kehilangan Ray tampaknya telah mematikan sisa-sisa kemanusiaan di dalam dirinya, menyisakan seorang pria yang kini hanya digerakkan oleh kepatuhan buta pada protokol kuno.

Waktu yang telah diramalkan dalam naskah-naskah terlarang pun tiba. Ritual kebangkitan Malaikat Sangkakala—entitas kosmik yang dikatakan sebagai penyeimbang sekaligus pemusnah—akan segera dimulai. Orion menjelaskan dengan nada monoton bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk melakukan pemurnian total terhadap kekacauan yang telah mengakar di seluruh galaksi. Sebuah ruangan kuno yang terletak di fondasi terdalam akademi disiapkan. Simbol-simbol topologi seperti Möbius Strip dan lingkaran singularitas terukir di dinding dan lantai, memancarkan cahaya ungu magis yang menggetarkan batin siapa pun yang melihatnya.

Ratizan, yang kini menjadi satu-satunya pewaris garis keturunan Orion yang tersisa, melangkah maju menuju altar pusat. Wajahnya tegar, namun matanya yang memerah tidak bisa menyembunyikan duka mendalam atas kematian adiknya. Ia telah menerima takdirnya sebagai wadah biologis bagi sang Malaikat. "Ini adalah tugasku sebagai putra Orion," katanya dengan suara bergetar namun penuh tekad. "Aku percaya pada kalian... tolong, jaga apa yang tersisa dari dunia ini." Aiden, Zara, dan Kai berdiri terpaku, merasa terjepit di antara kewajiban pahlawan dan kengerian melihat sahabat mereka mengorbankan nyawanya. Namun, setiap pintu keluar telah dikunci; sistem ini tidak memberikan ruang untuk negosiasi.

Ritual pun meledak dalam simfoni cahaya yang menyakitkan mata. Orion memimpin dengan rapalan mantra dalam bahasa primordial yang terdengar seperti gesekan bintang-bintang. Cahaya putih yang menyilaukan memancar dari titik singularitas di tengah ruangan, diiringi suara-suara kuno yang menggema langsung ke dalam kesadaran mereka. Saat entitas Malaikat Sangkakala memasuki tubuh Ratizan, sebuah pemandangan mengerikan terjadi. Punggung Ratizan seolah terbelah, dan sepasang sayap hitam legam yang pekat—lebih gelap dari lubang hitam—merobek keluar. Matanya berubah menjadi biru bercahaya yang memancarkan kekosongan abadi. Energi dahsyat yang dilepaskan mengguncang seluruh pulau terapung 'Aether Isle', menciptakan gelombang kejut yang merambat hingga ke ujung galaksi terjauh. Retakan-retakan besar muncul di struktur akademi, dan lampu-lampu kristal padam satu per satu, menyisakan kegelapan yang hanya diterangi oleh aura kematian.

Di tangan Ratizan yang kini bukan lagi sepenuhnya manusia, muncul sebuah Terompet Sangkakala raksasa yang berkilauan dengan materi eksotis. Tiupan pertama Sangkakala menggema menembus ruang dan waktu, mengirimkan gelombang frekuensi rendah yang memengaruhi sinapsis setiap makhluk hidup. Dampaknya sangat instan dan mengerikan; gelombang itu membangkitkan semua emosi negatif kekacauan yang selama ini terpendam. Di berbagai planet, penduduk mulai saling menyerang, kemarahan yang tak terkendali meledak, dan ketakutan berubah menjadi kegilaan massal. Bahkan di dalam akademi sendiri, para murid dan instruktur mulai kehilangan kendali, berubah menjadi agresif dan saling menghancurkan dalam amukan tanpa alasan.

Lihat selengkapnya