Nova Nebula: poor child (series 1) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #14

Permintaan Terakhir atau Bukan?

Setelah guncangan dahsyat dari runtuhnya dimensi akibat tiupan Sangkakala mereda, Zara terbangun dalam keheningan yang absolut. Di telapak tangannya, Chip Reset milik Aiden masih memancarkan pendaran cahaya biru yang hangat, sebuah sisa-sisa energi kehidupan dari pria yang memilih untuk menjadi tumbal bagi keberlangsungan kosmos. Zara merasakan kekuatan yang tak terlukiskan mengalir melalui pembuluh darahnya, sebuah sinkronisasi antara dua jiwa yang kini menyatu dalam satu raga. Dengan perlahan, ia memejamkan mata, membiarkan kesadarannya tersedot ke dalam titik nol—sebuah singularitas di mana ruang dan waktu tidak lagi memiliki makna. Di sana, di tengah kehampaan yang bercahaya, Zara berhadapan dengan sebuah kehadiran yang maha luas, sebuah entitas tanpa bentuk yang getarannya memenuhi seluruh eksistensi. Dialah Sang Arsitek, Sang Pencipta, Sang Penguasa Tertinggi.

"Engkau yang memegang kunci reset terakhir... apa yang sebenarnya engkau inginkan dari kehampaan ini?" Suara itu tidak terdengar oleh telinga, melainkan bergema langsung di dalam inti atom penyusun jiwa Zara.

Zara berlutut, air matanya jatuh dan menguap menjadi partikel cahaya sebelum menyentuh lantai imajiner singularitas tersebut. "Aku mohon," bisik Zara dengan ketulusan yang sanggup menggetarkan pilar-palan langit. "Jangan biarkan pengorbanan mereka sia-sia. Jangan biarkan luka ini terus menganga. Biarkan... biarkan semua orang bahagia." Ia tidak meminta keabadian untuk dirinya sendiri, tidak meminta kekayaan galaksi, atau kekuatan yang bisa menghancurkan bintang. Ia hanya meminta sebuah dunia di mana senyum tidak lagi dibayar dengan nyawa.

Dalam momen sakral tersebut, terjadi sebuah simbolisasi mistis yang melampaui logika manusia. Di dalam kehampaan itu, proyeksi spiritual Aiden muncul di samping Zara. Mereka berdiri di hadapan sebuah pohon cahaya yang buahnya bersinar seperti permata pengetahuan. Layaknya Adam dan Hawa dalam siklus kosmik yang baru, mereka memakan buah dari pohon keabadian tersebut—sebuah tindakan yang menandakan penyerahan diri sepenuhnya untuk menjadi benih bagi alam semesta yang akan lahir. Itu adalah janji suci yang tertulis dalam kode genetik semesta: bahwa cinta dan pengorbanan adalah satu-satunya bahan baku untuk menciptakan realitas yang lebih baik.

Seketika, sebuah titik cahaya putih yang menyilaukan meledak dari pusat singularitas. Cahaya ini bukanlah api penghancur, melainkan manifestasi dari emosi positif keteraturan yang murni. Gelombang ledakan energi ini menyapu seluruh kehampaan abadi dengan kecepatan yang melampaui cahaya, merobek sisa-sisa kegelapan Malaikat Sangkakala dan memutar balikkan jarum jam realitas. Kekuatan luar biasa itu bekerja dengan presisi atomik; planet-planet yang tadi hancur berkeping-keping mulai menyatu kembali, debu-debu kosmik kembali menjadi bintang yang bersinar terang, dan sungai-sungai kehidupan mulai mengalir lagi di seluruh galaksi. Semua nyawa yang terenggut dihidupkan kembali dalam sebuah dunia yang baru, sebuah dunia yang "bersih" dari memori tragis tentang kiamat yang baru saja terjadi.

Namun, tepat di saat ledakan cahaya itu mencapai puncaknya, Zara merasakan sensasi 'déjà vu' yang sangat tajam dan menyakitkan. Ada sebuah tarikan aneh dalam kesadarannya, seolah-olah ia sedang ditarik kembali ke dalam sebuah lingkaran yang tak berujung. Ia merasakan sebuah *loop* waktu, sebuah siklus abadi di mana awal adalah akhir, dan akhir adalah awal. Zara merasakan jiwanya terlahir kembali, menyusut kembali menjadi wujud seorang anak manusia.

Lihat selengkapnya