Nova Nebula: the doom impact (final series) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #1

Kehidupan yang Tertukar

Suasana di dalam kamar penginapan mewah Akademi Pasukan Pelindung Galaksi—atau yang lebih dikenal oleh para elit sebagai asrama eksklusif Aether Isle—terasa sangat mencekam pagi itu. Cahaya matahari buatan yang menembus jendela kristal seharusnya memberikan kehangatan, namun bagi sosok yang baru saja tersentak bangun, ruangan itu terasa lebih dingin daripada ruang hampa di luar angkasa. Aiden mengerang pelan, kepalanya berdenyut seakan ribuan jarum elektromagnetik sedang menusuk saraf pusatnya. Ia membuka mata, menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran hologram geometris yang rumit dengan tatapan kosong yang menyiratkan disorientasi total.

Memori terakhirnya adalah kegelapan, suara sangkakala, dan wajah dingin ayahnya, Kepala Sekolah Orion. Namun, ada sesuatu yang sangat janggal dalam aliran ingatannya, seolah-olah fragmen jiwanya telah dipaksa masuk ke dalam cetakan yang salah. "Persetan dengan ayah... yang seenaknya membuangku ke tubuh seseorang yang sok misterius ini," desis Aiden, suaranya parau, berat, dan dipenuhi oleh amarah yang tertahan. Ia menyentuh permukaan tempat tidur yang dilapisi sutra sintetis bermutu tinggi, lalu menunduk melihat piyama sutra berwarna biru tua yang melekat di tubuhnya. Piyama itu terasa asing, potongannya tidak pas dengan cara ia memandang dirinya sendiri, dan teksturnya terasa sangat tidak nyaman di kulitnya yang biasanya terbiasa dengan kain katun murah dari Bumi.

Tiba-tiba, sebuah suara halus namun monoton memecah keheningan yang menyesakkan itu. "Selamat pagi, Tuan Ray," sapa sebuah robot humanoid dengan wajah berbahan polimer yang dibentuk menyerupai senyum manusia yang kaku. "Sarapan Anda sudah siap di meja utama. Sensor nutrisi Anda menunjukkan tingkat glukosa yang rendah." Suara itu seperti rekaman yang terus berulang tanpa jiwa, membuat Aiden merasakan gelombang kejengkelan yang mendalam. Ia menatap robot itu dengan dahi berkerut, mencoba memproses informasi yang sama sekali tidak sinkron dengan identitasnya. "Siapa Ray? Kenapa besi tua ini memanggilku Ray? Aku Aiden!" batinnya berteriak, mencoba menyanggah nama yang terasa seperti kutukan itu. Namun, setiap kali ia mencoba meneriakkan identitas aslinya, ada sesuatu dalam resonansi tenggorokannya yang terasa berbeda.

Rasa lelah yang teramat sangat menyelimuti Aiden, sebuah kelelahan eksistensial yang membuatnya enggan meski hanya untuk sekadar menurunkan kaki dari tempat tidur. "Baik, aku lagi lelah, hus-hus, pergi sana!" jawabnya dengan nada kasar dan penuh frustrasi. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya tanpa melalui saringan logika, seolah-olah tubuh yang ia tempati memang memiliki kecenderungan untuk bersikap arogan. Robot itu terdiam selama tiga detik, memproses perintah negatif tersebut dengan presisi mekanis, lalu perlahan mundur ke sudut ruangan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Aiden akhirnya beranjak. Tubuhnya terasa lebih berat dari biasanya, seolah gravitasi di Aether Isle sengaja ditingkatkan untuk menekan jiwanya. Ia berjalan terseok menuju meja makan yang dipenuhi dengan hidangan mewah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—buah-buahan eksotis dari nebula jauh, protein sintetis kelas satu, dan minuman berwarna emas yang berkilauan di bawah lampu ruangan. Pemandangan itu seharusnya memanjakan mata, namun bagi Aiden, semuanya tampak terlalu sempurna, terlalu artifisial, dan sangat asing. Aroma makanan yang menggiurkan itu justru terasa hambar di penciumannya.

Lihat selengkapnya