Di dalam kediaman keluarga Ray—tempat yang kini dihuni oleh Aiden yang telah bertukar posisi—udara terasa berat dan statis, seolah-olah molekul oksigen di sana enggan untuk bergerak. Sisa-sisa bau hangus dari sirkuit robot patroli yang baru saja mereka hancurkan masih menggantung di ruang tamu. Mereka berempat duduk melingkar dalam keheningan yang menyesakkan, sementara Nova, robot televisi kecil yang misterius, melayang di tengah ruangan. Layar kacanya yang cembung memancarkan diagram energi fraktal yang berpendar keemasan, memantul di mata Aiden yang kini tampak lebih kelam dan tajam.
"Kekuatan kalian bukanlah sekadar alat," suara Nova bergema, jernih namun mengandung peringatan purba. "Ini adalah resonansi jiwa. Frekuensi bio-elektrik kalian terikat langsung pada sistem limbik. Rasa sakit, kehilangan, dan kemarahan bukan hanya perasaan; mereka adalah kontaminan mekanis. Jika emosi negatif ini meluap, energi kalian akan 'mengeruh', berubah menjadi substansi hitam yang destruktif dan tak terkendali."
Nova kemudian menampilkan visualisasi 'Chip Reset'. "Hanya ini satu-satunya cara untuk memurnikan kembali inti yang telah terkorupsi. Ambil dari mereka yang telah jatuh, atau kalian sendiri yang akan menjadi sampah galaksi berikutnya."
Aiden mendengarkan penjelasan itu dengan dagu bertumpu pada tangan. Ia tidak tampak takut; sebaliknya, ia terlihat haus. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang meresahkan.
Keesokan harinya, takdir memberikan panggung bagi kekejaman yang baru lahir. Sebuah ledakan dahsyat merobek langit pusat kota, meruntuhkan pilar-pilar beton layaknya ranting kering. Di tengah puing-puing itu berdiri Lusilu. Mantan pahlawan itu kini tampak seperti mayat hidup dengan aura hitam pekat yang membungkus tubuhnya. Matanya yang merah berkilat penuh kebencian saat ia melihat tim Aiden mendekat.
"Mereka semua... hilang dalam kehampaan," desis Lusilu, suaranya parau seperti gesekan logam karatan. "Dunia ini mengambil cahaya dari mataku, maka aku akan mengambil nyawa dari dunia ini!"
Aiden melangkah maju paling depan, mendahului Zara dan Kai. Ia menatap Lusilu bukan dengan empati, melainkan dengan penilaian seorang predator terhadap mangsanya. Pertempuran pecah dalam sekejap. Aiden menyerang dengan gaya yang sama sekali berbeda dari sebelumnya; gerakannya brutal, efisien, dan penuh dengan niat menyiksa. Ia menikmati setiap jeritan Lusilu saat hantaman energinya merobek pelindung musuh. Saat Lusilu tumbang bersimbah darah hitam, Aiden berjongkok di atasnya. Dengan gerakan lambat yang sengaja, ia mencabut 'Chip Reset' dari gelang Lusilu sambil membisikkan sesuatu yang membuat Lusilu gemetar di detik-detik terakhirnya.
Setelah pertempuran itu, mereka menemukan Dokter Likton yang disekap di dalam bangkai pesawat antariksa milik Lusilu. Ilmuwan itu segera dibawa dalam perjalanan menuju Akademi Galaksi. Di dalam kabin pesawat yang meluncur menembus atmosfer, Dokter Likton memberikan peringatan yang sama, namun dengan nada yang lebih klinis dan mengerikan.
"Rasa sakit adalah katalisator kegelapan," jelas Likton sambil menatap Aiden dengan ragu. "Jika kalian membiarkan noda itu menetap, nyawa kalian akan terintegrasi dengan kekeruhan itu sendiri."
Aiden hanya terdiam, namun di dalam benaknya, sebuah melodi mulai tercipta. Sebuah lagu tentang kehampaan yang mulai ia nikmati.
Sesampainya di Akademi, mereka melewati serangkaian ujian yang melelahkan. Fisik, mental, dan sinkronisasi tim dilakukan di bawah pengawasan ketat para instruktur. Mereka resmi menjadi siswa, namun bagi Kai, tempat ini terasa seperti penjara yang menunggu untuk mengeksekusi mereka.
Malam itu, di balkon asrama yang menghadap ke arah nebula, Kai tampak gemetar. "Apa gunanya semua ini?" tanyanya dengan suara pecah. "Kita melihat Lusilu. Kita melihat bagaimana pahlawan berakhir menjadi monster. Aku takut, Aiden... aku takut aku akan berakhir sama seperti dia. Mengeruh dan kehilangan segalanya."
Aiden yang berdiri di balik bayangan, melangkah mendekat. Cahaya bulan Aether Isle membuat wajahnya tampak seperti patung porselen yang dingin. "Kau merasakannya, kan, Kai?" bisik Aiden. "Noda itu. Titik hitam di tengah dadamu yang mulai berdenyut setiap kali kau merasa takut."