Nova Nebula: the doom impact (final series) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #3

Sang Malaikat yang Mengambil Takdir

Gema kematian Kai masih menyisakan retakan pada psikologis penghuni Akademi Aether Isle, namun bagi Aiden, itu hanyalah sebuah langkah pembersihan yang logis. Suasana di dalam ruang kelas Guru Lumari pagi itu terasa begitu kaku; oksigen seolah-olah dipenuhi oleh partikel ketakutan yang kasat mata. Aiden duduk di baris tengah, punggungnya tegak sempurna, menatap papan tulis hologram dengan sepasang mata yang kehilangan binar manusianya. Di sekelilingnya, siswa-siswi lain berbisik dengan wajah pucat, namun Aiden hanya diam, sesekali jemarinya mengetuk meja dengan irama yang sinkron dengan detak jantungnya yang mendingin.

Guru Lumari berdiri di depan kelas. Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak layu, ada gurat kemurungan yang dalam di bawah matanya. Dengan suara yang sedikit bergetar, ia mengumumkan perintah harian. "Situasi galaksi sedang tidak stabil. Saya memerintahkan kalian semua untuk melakukan patroli sektor luas," ucapnya tanpa menatap langsung ke arah Aiden. Misi rutin ini, yang seharusnya menjadi ajang pembuktian kepahlawanan, kini terasa seperti pengasingan massal demi menghindari ketegangan di dalam akademi.

Selama patroli berlangsung, tim mereka melintasi berbagai sistem bintang. Mereka bertemu dengan para pengungsi Alien yang memohon bantuan medis dan perlindungan. Namun, Aiden menjalankan tugasnya dengan cara yang sangat mekanis dan brutal. Jika ada alien yang menghalangi jalur komunikasinya atau terlalu lamban memberikan informasi, Aiden tidak segan-segan menggunakan tekanan atom untuk membungkam mereka. "Waktu adalah variabel yang tidak boleh kalian buang," desis Aiden dingin kepada seorang tetua alien yang ketakutan. Ia tidak peduli pada kebencian yang mulai tumbuh di mata para penduduk galaksi; baginya, efisiensi adalah satu-satunya bentuk keadilan yang tersisa.

Saat berada di kokpit pesawat, sebuah panggilan hologram masuk dari Zin, sang informan. Zin melaporkan adanya aktivitas mencurigakan di Planet Lukas yang melibatkan para pemimpin korup. Namun, saat Aiden menerima laporan itu, ia menangkap sesuatu yang ganjil. Ia menoleh ke arah Guru Lumari yang sedang memantau koordinat. Ada sebuah frekuensi energi yang tidak selaras memancar dari tubuh sang guru—sebuah noda kecil yang hanya bisa dilihat oleh mata yang sudah terbiasa dengan kegelapan. Firasat itu mencekam, kuat, dan penuh ancaman.

Setibanya di Planet Lukas, Aiden bergerak lebih cepat dari bayangannya sendiri. Tanpa memberikan ruang bagi diplomasi yang biasa dilakukan Zara, Aiden langsung menyergap 'Bimikus', sang pemimpin korup yang baru saja tertangkap. Sebelum Bimikus sempat membuka mulut untuk memberikan pembelaan atau mengungkapkan rahasia konspirasinya, Aiden dengan gerakan kasar merebut gawai energi di lehernya. Dengan tatapan kosong, ia mencabut 'Chip Reset' milik Bimikus secara paksa. "Kau tidak layak bicara," ucap Aiden datar, mengabaikan teriakan protes dari rekan-rekan setimnya. Ia kini bukan lagi Aiden yang mencari kebenaran; ia adalah malaikat yang sedang menyortir nyawa berdasarkan kadar noda yang ia persepsikan.

Kembali ke Akademi, ketegangan antara Aiden, Zara, dan Ray mencapai titik jenuh. Zara dan Ray mulai menarik diri, mereka merasa sedang berjalan di samping sebuah bom waktu yang memiliki wajah sahabat mereka. Aiden, menyadari kegelisahan itu, justru membiarkan aura berbahaya mengelilinginya seperti jubah hitam yang tak terlihat.

Ia berjalan menyusuri lorong sepi menuju kantor Guru Lumari. Saat pintu terbuka, ia mendapati sang guru sedang menatap ke luar jendela dengan bahu yang merosot. "Aiden," sapa Guru Lumari, suaranya mengandung kepedihan yang luar biasa. "Aku khawatir melihatmu. Perubahan ini... ini bukan jalan seorang pelindung. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam jiwamu?"

Aiden tidak mendekat, ia hanya berdiri di ambang pintu dengan senyuman maut yang tidak mencapai matanya. "Kekuatanmu, Guru... aku bisa merasakannya bergetar," kata Aiden, suaranya rendah dan mengancam. "Ada noda yang merayap di dalam intimu. Sama seperti yang kulihat pada Kai. Kau menyembunyikan penderitaan di balik ketegasanmu."

Aiden melangkah maju, bayangannya menutupi tubuh Guru Lumari. "Seharusnya kau sedikit lebih ceria dengan tingkah lakumu yang biasanya feminin namun tegas, tapi sekarang... kau lebih murung dari pemakaman. Kau sudah terkorupsi oleh beban masa lalumu sendiri."

Tanpa memberikan kesempatan bagi Guru Lumari untuk membela diri, Aiden menerjang. Dengan manipulasi atom yang presisi, ia melumpuhkan sang guru dan menyeretnya ke ruang isolasi yang sama tempat Kai meregang nyawa. Ia mengikat Guru Lumari di kursi besi itu. Aiden mulai berjalan memutar, jemarinya membelai udara seolah sedang memainkan piano imajiner, dan ia mulai melantunkan nyanyian interogasi yang kelam.

Lihat selengkapnya