Nova Nebula: the doom impact (final series) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #4

Dunia Nyata di Balik Nova Nebula

Perspektif narasi tiba-tiba berderak, seolah-olah pita seluloid realitas ditarik paksa hingga putus. Lapisan demi lapisan 'Aether Isle', teknologi atom, dan kemegahan kosmik 'Nova Nebula' terkelupas bagaikan kulit ari yang membusuk, menembus batasan fiksi menuju sebuah dimensi yang jauh lebih dingin, statis, dan menyesakkan. Selamat datang di "Dunia Nyata"—sebuah tempat di mana keajaiban tidak pernah terjadi dan warna-warni digantikan oleh spektrum kelabu yang monoton.

Di dalam sebuah kamar sempit yang pengap, cahaya biru pucat dari monitor komputer menjadi satu-satunya sumber kehidupan yang tersisa. Udara di sana berbau debu, sisa mi instan yang mengering, dan aroma kimia dari obat-obatan. Seorang pria muda tampak terduduk kaku dengan posisi bahu yang merosot tajam. Ia baru saja melakukan sesuatu yang ganjil; seolah-olah keluar dari portal piksel yang sama dengan yang digunakan oleh ayah Ethan di seri sebelumnya. Dengan gerakan gemetar, ia melepaskan kacamata 'Virtual Reality' (VR) yang melingkari kepalanya—sebuah alat yang bukan sekadar perangkat hiburan, melainkan jembatan satu arah yang ia bangun untuk melarikan diri dari raga manusianya.

Nama pria itu adalah 'Aref'.

Wajahnya pucat pasi, hampir transparan di bawah sinar LED, dengan kantung mata hitam yang menandakan ia tidak pernah benar-benar tidur selama berbulan-bulan. Di hadapannya, deretan layar menampilkan jendela perangkat lunak animasi yang sangat kompleks: barisan kode skrip yang berderet seperti barisan semut, model 3D karakter Aiden dan Ray yang sedang "dirender", serta 'timeline' video yang berisi ribuan fragmen penderitaan. Aref adalah sang Animator, sang Arsitek, sekaligus "Tuhan" yang disembah dan dikutuk oleh Aiden di dalam simulasi. Ruangannya adalah manifestasi dari kekacauan jiwanya; botol-botol pil penenang yang kosong berserakan di atas meja, bersaing tempat dengan tumpukan bungkus makanan instan dan asbak yang penuh.

Dahulu, 'Nova Nebula' diciptakan dengan niat yang murni. Dalam sketsa-sketsa awalnya bertahun-tahun lalu, itu adalah cerita anak-anak yang ceria tentang persahabatan dan eksplorasi galaksi yang penuh harapan. Namun, seiring dengan hancurnya kesehatan mental Aref, dunia itu ikut membusuk. Trauma masa kecilnya—pelecehan seksual yang dialaminya saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar—telah menciptakan lubang hitam di dalam hatinya yang tak pernah bisa ditutup. Ada aib besar yang ia sembunyikan rapat-rapat, sebuah rahasia yang membuatnya merasa jijik pada tubuhnya sendiri, memicu pertanyaan eksistensial yang menyiksa: Mengapa aku harus dilahirkan sebagai manusia? Mengapa aku harus memikul beban daging dan perasaan yang rapuh ini?

Tekanan hidup yang bertubi-tubi membuatnya kecanduan obat penenang, sebuah jalan pintas untuk membungkam suara-suara di kepalanya. Akibatnya, visi artistiknya pun terdistorsi. Animasi 'Nova Nebula' berubah menjadi sesuatu yang sangat 'disturbing', penuh dengan kekerasan psikologis dan simbolisme kematian yang gelap. Akibatnya, otoritas penyiaran melarang tayangannya di televisi karena dianggap membahayakan mental penonton anak-anak. Keputusan itu memutus sumber penghasilan utamanya, memaksanya terjun ke dalam realitas yang paling ia benci: bekerja serabutan sebagai pelayan restoran di malam hari. Bagi Aref, mengenakan seragam pelayan dan tunduk pada pelanggan adalah penghinaan terhadap dirinya sendiri, sebuah pekerjaan yang ia anggap tidak layak, namun tidak punya pilihan lain untuk sekadar membeli listrik agar komputernya tetap menyala.

Aref adalah tawanan di kamarnya sendiri. Ia membenci interaksi sosial karena setiap kali ia melangkah keluar, ia merasa semua orang bisa melihat lubang di jiwanya. Trauma perundungan saat kuliah, di mana ia hanya bisa diam membeku saat dipermalukan oleh mahasiswa lain, membuatnya lebih memilih terkurung dalam kegelapan simulasi. Namun, neraka yang sesungguhnya justru ada di dalam rumahnya sendiri.

Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka tanpa ketukan. Ibunya melangkah masuk dengan wajah yang keras dan penuh tuntutan. Tidak ada kasih sayang di matanya, hanya rasa lapar akan materi. Ibunya telah lama mengorupsi uang hasil kerja keras Aref, menggunakannya untuk membiayai gaya hidup mewahnya sendiri dan para lelaki simpanannya.

"Aref, mana uang untukku bulan ini?" tanya ibunya dengan suara melengking yang menusuk telinga. "Anak laki-laki harusnya menafkahi ibunya kalau sudah dewasa. Jangan jadi benalu di rumah sendiri!"

"Mohon maaf, Bu... aku sedang tidak punya uang. Proyek animasiku sedang diblokir," kata Aref dengan suara yang nyaris berbisik, saking lelahnya.

Lihat selengkapnya