Langit di atas kampus pagi itu berwarna abu-abu pekat, seolah atmosfer bumi sedang merefleksikan suasana hati Aref yang kian membusuk. Ia berjalan dengan langkah gontai, bahunya merosot ke depan, dan kepalanya tertunduk seolah beban dosa seluruh dunia sedang menekan tengkuknya. Di bawah tatapan sinis ribuan mata, Aref merasa seperti serangga yang sedang diamati di bawah mikroskop. Setiap langkahnya diikuti oleh bisik-bisik tajam yang merobek kesunyian.
"Lihat, si sakit jiwa baru saja datang!" celetuk seorang mahasiswa bertubuh tegap yang sedang nongkrong di selasar. Seketika, tawa membahana meledak di sana, sebuah simfoni ejekan yang sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Aref. Ia tidak menjawab. Ia tidak marah. Ia hanya menatap ke depan dengan pandangan kosong yang mengerikan—sebuah ekspresi penderitaan yang begitu dalam hingga tak ada lagi air mata yang sanggup melukiskan kepiluannya.
Namun, di tengah lautan kebencian itu, ada dua anomali. Seorang gadis bernama Zahra, yang wajahnya menjadi cetak biru bagi karakter Zara di 'Nova Nebula', dan seorang pemuda bernama Khaizan, yang kelak menjadi inspirasi bagi sosok Kai. Zahra tampak sangat tertarik pada Aref, sebuah ketertarikan yang janggal dan bersifat 'toxic'. Aref, dengan segala trauma dan luka di masa kecilnya, tidak mampu membalas perasaan itu dengan benar. Ia ingin mencintai, tapi ia takut disentuh; ia ingin ditemani, tapi ia benci kedekatan.
Kelompok perundung kembali mencegat jalannya di depan tangga. "Woi, orang gangguan jiwa, ke sini kau!" teriak sang pemimpin dengan nada merendahkan.
Aref berhenti, suaranya pelan dan murung. "Iya, kenapa?"
"Kenapa kamu enggak bersihin WC hari ini? Ini penggosok WC kamu, ambil!" Pemuda itu menyodorkan alat pembersih yang kotor tepat ke wajah Aref.
"Tapi... ini jadwal tugasmu hari ini," kata Aref, mencoba memberikan pembelaan terakhirnya yang lemah.
"Aku bilang ini tugas kamu sekarang!" bentak si perundung. Dengan kasar, ia mendorong bahu Aref hingga pria itu tersungkur di lantai koridor yang basah. Penggosok WC itu dilemparkan tepat ke kepala Aref, membasahi rambutnya dengan air bekas cucian. "Woi, gila, bersihin sekarang atau aku sebarluaskan lagi gosip tentang aib masa lalumu? Kamu mau satu kampus tahu seberapa rendahnya kamu?" ancamnya dengan seringai penuh kemenangan.
"Iya... aku bersihkan," jawab Aref pasrah. Ia bangkit berdiri, merasakan air dingin merembes ke pakaiannya, sementara tawa di sekelilingnya terdengar semakin nyaring.
Beberapa waktu kemudian, saat Aref sedang berlutut di lantai WC yang dingin, Zahra datang mendekat. "Mau aku bantu?" tanyanya, tangannya terulur hendak mengambil penggosok WC itu.
"Enggak usah, biar aku saja!" Aref menepis tangan Zahra dengan kasar. Sentuhan fisik adalah pemicu instan bagi traumanya. Ia tidak bisa membiarkan siapa pun masuk ke dalam ruang pribadinya, bahkan orang yang mengaku ingin menolongnya.
"Oh... baik deh kalau begitu," kata Zahra, wajahnya tampak terkejut sekaligus tersinggung.
"Mohon maaf," gumam Aref singkat, ada rasa bersalah yang menusuk, namun ketakutannya jauh lebih besar daripada sopan santunnya.