Nova Nebula: the doom impact (final series) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #6

Siklus yang Tak Berujung

Cahaya fajar menyelinap masuk melalui celah ventilasi kayu yang sudah mulai lapuk, membawa aroma debu dan sisa embun pagi. "Ethan", yang kini terjebak dalam jaring takdir sebagai protagonis utama dalam iterasi *loop* terbaru, mengerang pelan saat merasakan usapan lembut di dahinya. Ia membuka mata dan menemukan sosok neneknya—satu-satunya wali yang ia miliki di dunia ini—berdiri di samping tempat tidur dengan senyum yang terasa begitu familiar, namun menyimpan kekosongan yang asing. Sensasi 'déjà vu' menghujan kesadarannya; setiap inci ruangan ini, dari retakan di dinding hingga pola sprei yang pudar, terasa seperti kaset lama yang diputar kembali.

"Bangun, Cu. Nanti kau terlambat ke toko," suara neneknya terdengar parau namun hangat.

Ethan bangkit dengan tubuh yang terasa berat, seolah memori dari ratusan kehidupan sebelumnya menumpuk di pundaknya. Setelah sarapan singkat yang sunyi—sebuah adegan yang persis sama dengan fragmen pembuka 'Nova Nebula' yang pernah ia baca dalam mimpinya—Ethan berangkat menuju Toko Kue Mama Zara. Di sepanjang jalan, ia mencoba menata kepingan ingatannya. Ia ingat bermain petak umpet dengan Zara di balik karung-karung tepung, ia ingat bagaimana Mama Zara sering menjewer telinga mereka berdua sambil tertawa dan menyebut mereka seperti anak kembar yang tak terpisahkan. Ia bahkan teringat saat-saat ia menangis di pojok pasar karena diganggu anak-anak nakal, dan Zara-lah yang datang dengan gagah berani mengusir mereka.

Namun, di balik kenangan manis itu, ada rasa dingin yang merayap. Pengulangan ini terasa terlalu presisi, terlalu sempurna untuk menjadi sebuah kebetulan.

Perjalanan menuju sekolah menengahnya pun tidak luput dari naskah yang sudah tertulis. Di sebuah gang sempit, langkah Ethan dihentikan oleh gerombolan anggota OSIS yang memiliki tatapan mata dingin dan sombong. Saat penghinaan verbal mulai berubah menjadi kontak fisik, tiba-tiba sosok **Kai** muncul dari balik bayangan. Dengan keberanian yang meledak-ledak, Kai berdiri di depan Ethan, menepis tangan sang pembully dengan gerakan yang sangat identik dengan apa yang terjadi di seri pertama.

"Jangan sentuh dia, atau kalian berhadapan denganku!" gertak Kai.

Kejadian itu berlanjut hingga bel pulang berbunyi. Di tengah perjalanan pulang, takdir mempertemukan mereka dengan "Ray" yang tengah berlari kencang, dikejar oleh sepasukan robot patroli bersenjatakan senapan laser. Ethan, Kai, dan Zara yang secara kebetulan berada di sana, membantu Ray bersembunyi di balik bangunan tua di gang buntu. Saat itulah, "Robot Nova" yang berada dalam dekapan Ray memancarkan cahaya putih yang menyilaukan, sebuah energi atom yang murni merobek realitas. Mereka berempat kembali mendapatkan kekuatan mereka, melakukan aksi heroik melawan mesin-mesin besi tersebut, dan akhirnya menyepakati kontrak dengan Nova: "Jika semua kejahatan di galaksi ini dimusnahkan, satu permintaan kalian akan dikabulkan."

Namun, saat janji suci itu diucapkan, perspektif narasi tiba-tiba melompat keluar dari bingkai layar televisi tabung yang bergetar.

Kita kini berada di sebuah ruangan yang remang-remang, statis, dan berbau sirkuit terbakar. "Aiden" yang sebenarnya—bukan Ethan yang sedang memerankan dirinya—berdiri tegak di depan televisi tersebut. Aiden menatap layar dengan tatapan kosong, menyaksikan "dirinya yang lain" menjalani skenario pahlawan cupu yang membosankan. Di sampingnya, muncul sosok "Aref", sang Animator yang kini hanya berupa entitas cahaya biru yang redup dan rapuh.

Aiden menoleh perlahan pada penciptanya, hatinya dipenuhi kebingungan yang bercampur dengan rasa jijik. "Apakah ini menceritakan tentang aku? Kok… dasar cupu," kata Aiden, suaranya terdengar berat dan sarkastik.

Lihat selengkapnya