Nova Nebula: the doom impact (final series) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #7

Virus dalam Sistem

Guncangan realitas yang dipicu oleh kehancuran televisi di ruang hampa Aiden melemparkan Ethan, Zara, Ray, dan Kai ke dalam sebuah dimensi yang melampaui batas nalar manusia. Mereka mendarat di sebuah alam abstrak yang sureal, sebuah wilayah yang seolah-olah merupakan tempat pembuangan bagi aset-aset digital yang rusak. Di sini, langit tidak memiliki warna—hanya kekosongan putih yang menyakitkan mata—dan daratan di bawah kaki mereka terasa seperti ilusi yang bisa retak kapan saja.

"Kita di mana ini?" tanya Zara, suaranya gemetar, bergema di ruang yang seolah tak berujung. Keberaniannya yang biasanya meluap kini mengerut di hadapan ketidakteraturan kosmik ini.

Ethan berdiri, menepuk-nepuk debu piksel dari pakaiannya. "Aku juga tidak tahu, Zara. Tapi melihat kode-kode yang melayang di udara, sepertinya kita berada di 'balik' 'loop'. Ini adalah isi perut dari simulasi 'Nova Nebula' yang sudah hancur," jawab Ethan dengan nada yang berat. Ingatan dari 666 kehidupan sebelumnya mulai mengendap, memberinya intuisi yang tajam namun menyakitkan.

Mereka mulai menjelajahi tempat itu. Mereka melewati lorong-lorong tak berujung yang dindingnya terus bergeser, menciptakan labirin mental yang dirancang untuk mematahkan kewarasan. "Jangan terkecoh," peringat Ethan. "Setiap lorong ini adalah jebakan. Kita harus mencari anomali, sesuatu yang berbeda, jika ingin maju ke tahap berikutnya."

Setelah berjam-jam (atau mungkin hitungan detik, karena waktu tidak berlaku di sini), mereka tiba di sebuah bangunan yang tampak seperti hotel tua yang telah lama ditinggalkan. Debu tebal menyelimuti furnitur usang, dan suasana sunyi di sana terasa menekan dada. Di lobi hotel itu, sebuah tulisan muncul di dinding dengan tinta hitam yang menetes: "Satu di antara kalian adalah bukan bagian dari kalian. Temukan sang Impostor."

Ketegangan meningkat. Mereka saling menatap dengan penuh kecurigaan. Ethan, mencoba memecah suasana yang mencekam sekaligus menguji reaksi rekan-rekannya, tiba-tiba melakukan tindakan konyol. Ia mengeluarkan suara-suara aneh yang terdistorsi, "ouiaoouiiiai... ouiaoouiiiai," sambil berputar-putar tiga kali di tengah lobi.

Pada putaran ketiga, suara Ethan semakin keras dan melengking. Respon yang muncul sungguh mengejutkan. Kai, yang biasanya tenang namun tegas, tiba-tiba meledak dalam amarah yang tidak masuk akal. "Raw, raw, raw, raw!" teriak Kai sambil menggeritkan gigi.

Ethan tertegun, merasa bersalah karena leluconnya memicu kemarahan yang begitu primitif. "Mrawau..." gumam Ethan meminta maaf. Namun, Kai tidak berhenti. Ia terus menggeram dengan suara yang semakin dalam, "Raw, raw, raw, raw, raaaw, raw, raw, raw!"

Ethan kembali menunduk, "Mrawau, mrawau." Di tengah kegilaan suara-suara itu, Zara tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Tawa itu memecah keheningan hotel, mengembalikan sedikit kewarasan ke dalam ruangan. Namun, ada satu orang yang hanya berdiri diam. Ray. Ia menatap mereka tanpa emosi, tanpa kedipan, seolah-olah ia adalah manekin yang diprogram untuk mengamati.

"Itu dia," tunjuk Ethan. "Ray yang asli tidak akan sedingin itu melihat kekonyolan kita."

Begitu identitasnya terbongkar, sosok Ray palsu itu mulai mengalami 'glitch'. Tubuhnya memanjang dan melintir sebelum akhirnya hancur menjadi serpihan data hitam. Pintu hotel terbuka otomatis, membebaskan mereka kembali ke alam abstrak. Di luar, mereka menemukan Ray yang asli sedang duduk bersandar di sebuah tiang kabel, wajahnya tampak sangat bingung.

Lihat selengkapnya