Nova Nebula: the doom impact (final series) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #8

Planet Penuh Dosa

Mesin pesawat antariksa yang membawa Ethan, Zara, Ray, dan Kai menderu rendah, membelah kegelapan hampa yang kini terasa semakin pekat dan tidak stabil. Namun, keheningan di dalam kabin tiba-tiba pecah oleh bunyi sirene merah yang melengking tajam. Panel kendali berkedip-kedip histeris, menampilkan peringatan kritis: 'Fuel Depleted – Emergency Landing Required'. Seolah-olah sistem semesta sengaja menarik mereka jatuh, pesawat itu tersedot oleh gravitasi sebuah planet misterius yang tidak terdaftar dalam peta galaksi mana pun—sebuah koordinat tersembunyi yang lahir dari fragmen memori Aref yang paling busuk.

Pesawat mereka mendarat darurat dengan guncangan hebat di sebuah daratan yang diselimuti kabut berwarna ungu tembaga. Saat pintu palka terbuka, mereka tidak disambut oleh kedamaian, melainkan oleh hiruk-pikuk yang memekakkan telinga. Kota di planet ini tampak seperti perpaduan distopia futuristik dan pasar gelap yang kumuh. Namun, yang paling mengerikan adalah wajah para penduduknya. Ribuan orang yang berlarian di jalanan, berteriak, tertawa histeris, hingga menangis tersedu-sedu, semuanya memiliki raut wajah yang identik: wajah 'Adik Aref'. Ribuan replika sang pecandu judi kini menghuni dunia ini sebagai manifestasi dari parasit sosial.

Atmosfer planet ini terasa berat, seolah-olah udara itu sendiri mengandung racun keputusasaan. Di setiap sudut jalan, meja-meja judi digelar secara terbuka. Mesin slot berteknologi tinggi memancarkan cahaya neon yang menyilaukan, sementara dadu-dadu raksasa dilemparkan di tengah alun-alun. Ini adalah "Planet Penuh Dosa", sebuah monumen untuk kehancuran finansial dan moral yang dialami keluarga Aref di dunia nyata.

Di tengah pasar, Ethan dan kawan-kawan terhenti oleh pemandangan sebuah keluarga yang sedang hancur. Replika Adik Aref yang berperan sebagai seorang ayah sedang berlutut di hadapan istrinya, memegang selembar tiket lotre dengan tangan gemetar.

"Aku harus menang kali ini! Aku harus tetap optimis, ini adalah putaran keberuntunganku!" seru sang ayah dengan mata yang merah karena kurang tidur.

"Cukup! Tolong berhenti!" tangis sang istri, wajahnya kusam dan kurus. "Satu-satunya cara pasti untuk menang dalam judi adalah dengan berhenti melakukannya. Kita sudah kehilangan rumah, kita sudah kehilangan segalanya!"

"Jangan hentikan aku! Kita mencari uang dari sini, tahu! Mau kerja apa lagi? Berjualan di pinggir jalan saja selalu dirombak paksa kepolisian karena tidak ada izin dan dianggap mengganggu ketertiban! Di sini, setidaknya aku punya harapan!" teriak sang ayah sebelum akhirnya berlari kembali menuju mesin judi, meninggalkan keluarganya yang hancur berkeping-keping.

Pemandangan itu membuat Zara mengepalkan tinjunya. "Ini bukan sekadar permainan... ini adalah virus yang memakan jiwa mereka."

Mereka menyadari bahwa pusat dari segala kekacauan ini berada di sebuah istana megah yang menjulang tinggi di pusat kota—sebuah bangunan yang dibangun dari emas hasil korupsi dan penderitaan rakyat. Di sana, bertahta seorang ratu yang memiliki wajah persis seperti 'Ibu Aref'. Ratu tersebut hidup dalam kemewahan yang memuakkan, dikelilingi oleh puluhan selir pria yang tunduk pada setiap keinginannya.

Lihat selengkapnya