Nova Nebula: the doom impact (final series) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #9

Tuhan di Alam Semesta

Kehampaan di pusat koordinat galaksi itu kini bukan lagi ruang kosong, melainkan singgasana bagi sebuah anomali yang melampaui logika penciptaan. Di hadapan Ethan dan teman-temannya, sosok Aiden berdiri—atau lebih tepatnya, mengapung—sebagai entitas raksasa yang mendistorsi spektrum cahaya di sekitarnya. Pemandangan itu adalah paradoks visual yang menyakitkan mata: Aiden mengenakan kaus putih yang tampak sangat bersih, suci, dan bercahaya, namun kontras itu justru mempertegas kengerian di wajahnya. Daging dan organ berwarna kuning kemerahan mengalir kental dari retakan besar di pipinya, berdenyut mengikuti detak jantung mekanis yang terinfeksi virus. Ia telah melepaskan cangkang manusianya untuk menjadi sesuatu yang delusional, sebuah manifestasi dari kegilaan Aref yang mencapai titik kulminasi.

Suara Aiden menggelegar, bukan melalui udara, melainkan merambat melalui struktur atom dan frekuensi radio di seluruh galaksi. Suara itu berat, berlapis-lapis, dan penuh dengan arogansi yang memuakkan.

"Aku adalah anak Tuhan... atau mungkin, akulah Tuhan dari alam semesta ini," ucap Aiden, matanya berkilat dengan kegilaan yang dingin. "Akulah yang maha mengetahui, pemegang otoritas tunggal atas kebenaran. Hitam, putih, bahkan abu-abu yang terselip di lipatan realitas ini, semuanya ada dalam genggamanku."

Ia merentangkan tangannya, dan jutaan partikel cahaya di sekitarnya membentuk pola fraktal yang rumit. "Cerita adalah hidup, dan hidup hanyalah sebuah skenario dari diri kalian yang fana. Wahai engkau, makhluk-makhluk rendah, jangan biarkan dirimu menjadi hitam hanya karena kau merasa putih. Takdirmu adalah garis yang kutarik, dan kebebasanmu adalah izin yang kuberikan. Jangan sombong di hadapanku, karena akulah satu-satunya yang memegang kendali di panggung sandiwara ini!"

Ethan, yang berdiri di anjungan pesawat dengan tangan gemetar, mencoba melakukan upaya terakhir untuk menjangkau nurani sahabatnya. "Aiden! Hentikan ini! Kamu tahu, jauh di dalam sana, kamu adalah orang yang baik dan tulus. Kamu yang dulu selalu ingin melindungi kita tanpa pamrih. Kamu tidak perlu menjadi Tuhan atau monster ini. Cukup jadilah Aiden yang kami kenal... jadilah dirimu sendiri!"

Tawa Aiden meledak, sebuah suara distorsi yang menyakitkan telinga. "Aku sudah seperti ini dari dulu, Ethan! Kau saja yang terlalu buta untuk melihatnya. Inilah diriku yang sesungguhnya. Diri aku yang baru, diri aku yang lama... sementara kemanusiaanku yang lemah nan fana itu? Sudah hangus menjadi abu! Kodratku sebagai manusia telah kukubur dalam-dalam di dasar neraka simulasi ini!"

Aiden mulai melakukan monolog yang semakin dalam masuk ke dalam labirin psikologisnya. "Bahkan pada saat aku sendiri, saat aku melihat ibuku membusuk dan ayahku menghilang melalui portal piksel itu tanpa menoleh sedikit pun, aku mulai mempertanyakan kodrat. Aku lelah menjadi manusia, Ethan. Lemah. Fana. Dilahirkan hanya untuk diajarkan cara patuh, diperkerjakan seperti mesin, dikawinkan untuk memproduksi beban baru, melahirkan, menjadi rapuh, lalu mati. Apakah itu arti sesungguhnya dari eksistensi? Sebuah siklus tanpa makna?"

Wajah raksasanya mendekat ke arah pesawat, memancarkan aura tekanan yang luar biasa. "Lalu agama bicara tentang neraka dan surga. Dosa dan pahala. Padahal dalam realitas, dosa adalah abu-abu, dan pahala pun abu-abu. Itu tidak berarti apa-apa bagiku! Siklus itu hanya membuat neraka dan surga kepenuhan orang-orang yang bingung. Bagaimana mungkin manusia bisa bahagia di surga jika mereka tahu orang yang mereka cintai sedang dibakar selamanya di neraka karena kesalahan yang tak bisa diampuni? Itu tidak realistis! Realitas yang sesungguhnya adalah putaran... sebuah 'loop' yang berputar tanpa henti."

Aiden menatap Ethan dengan tajam. "Aku mendapatkan pencerahan ini saat menyentuh patung terkutuk di planet Nibiru. Di sanalah aku bertemu dengan Tuhan dari dunia kita yang sebenarnya... seorang Ayah yang ternyata hanyalah pria depresi di depan monitor. Dan kini, akulah yang mewarisi tahtanya."

Lihat selengkapnya