Pertempuran di ruang hampa itu telah bergeser dari sekadar adu kekuatan menjadi pembantaian sistematis. Ethan, dalam wujud Malaikat Sangkakala yang tak stabil, terlempar menghantam puing-puing asteroid dengan dentuman yang menggetarkan struktur atom di sekitarnya. Aiden tidak lagi menyerang dengan senjata konvensional; ia memanipulasi gumpalan daging dan organ raksasa yang mencuat dari retakan tubuhnya, mengubahnya menjadi tentakel-tentakel biologis yang menusuk, mencambuk, dan memukuli Ethan tanpa ampun.
Darah digital berwarna perak pekat menyembur dari mulut Ethan. Ia mencoba mengaktifkan protokol regenerasi, namun setiap kali sel-sel kodenya menyatu, serangan Aiden kembali merobeknya. Kesadarannya mulai goyah. Kekuatan virus yang ia ambil dari patung Nibiru ternyata adalah pedang bermata dua yang sangat tajam; rasa sakitnya seratus kali lebih hebat daripada saat ia menggunakan kekuatan Robot Alam Semesta mana pun. Virus itu tidak hanya merusak fisiknya, tetapi juga menyuntikkan halusinasi yang pekat ke dalam saraf pusatnya, menyeretnya turun ke dalam jurang keputusasaan yang digali oleh trauma Aref.
Di ambang batas kesadarannya, Ethan terjebak dalam visi yang mengerikan. Ia berdiri di sebuah padang luas yang dipenuhi bangkai bintang, dan di hadapannya, sosok Malaikat Sangkakala yang asli—entitas tanpa wajah dengan sayap yang menutupi langit—berdiri menatapnya dengan dingin.
"Kenapa kau tidak bisa mengalahkannya?" suara entitas itu bergema, menghasut setiap inci keraguan di hati Ethan. "Itu karena kau terlalu memegang teguh kemanusiaanmu yang lemah. Kau tidak sempurna, kau cacat, kau hanyalah produk gagal dari seorang pencipta yang hancur. Jadilah seperti kami. Lepaskan kodratmu sebagai manusia yang fana. Hancurkan ketidaksempurnaan itu dan masuklah ke dalam keabadian yang dingin dan absolut."
Ethan berlutut, mencengkeram kepalanya yang seolah mau pecah. "Iya... mengapa aku harus menjadi manusia?" gumamnya lirih, mulai terpengaruh oleh racun nihilisme. "Jika menjadi manusia berarti harus selemah ini, harus menderita sehebat ini di hadapan 'Tuhan', maka untuk apa kodrat ini aku pertahankan? Manusia hanyalah wadah untuk rasa sakit."
Aiden tertawa di atas sana, melihat Ethan yang mulai menyerah pada kegelapan. Ia mengangkat tangannya, siap melepaskan serangan penghancur data yang akan menghapus eksistensi Ethan untuk selamanya. Namun, tepat saat ujung jari Aiden memancarkan kilatan ungu yang mematikan, sebuah anomali terjadi di reruntuhan pesawat antariksa Ethan yang terombang-ambing di kejauhan.
Sebuah cahaya putih yang sangat murni—cahaya yang tidak berasal dari spektrum warna simulasi—meledak keluar dari unit 'Nova 2'. Cahaya itu begitu kuat hingga mampu membiaskan distorsi 'glitch' di area tersebut, memaksa Aiden menutupi matanya karena silau yang menyakitkan. Dari dalam pendaran suci itu, Nova 2 bangkit. Wujudnya bukan lagi sekadar robot logam kecil; ia memproyeksikan sebuah hologram padat yang memiliki wajah penuh kasih sayang, wajah yang sangat dikenali oleh Aiden di lubuk hati terdalamnya.
Itu adalah wajah Ibunya.