Nova Nebula: the doom impact (final series) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #12

Kehancuran Dunia Nova

Hening yang memekakkan telinga menyelimuti pusat galaksi yang retak. Aiden, sang "Tuhan" yang tadinya bertahta dengan arogansi mutlak, kini tampak kerdil di tengah hamparan data yang mulai tidak stabil. Kata-kata dari proyeksi ibunya melalui Nova 2 telah meruntuhkan tembok kebencian yang selama ini memenjarakan kewarasannya. Air mata yang nyata kini mengalir deras, membasahi pipinya yang hancur. Cairan bening itu membasuh sisa-sisa daging dan organ kuning kemerahan yang tadinya merupakan simbol dari energi korup virus Aref.

Aiden menatap kedua tangannya. Ia melihat jemarinya yang masih berpendar ungu, sisa-sisa kekuatan yang ia gunakan untuk menyiksa Ethan dan menghapus teman-temannya. Rasa mual akibat penyesalan menghujam ulu hatinya. Ia menyadari betapa jauh ia telah melangkah ke dalam kegelapan, menciptakan neraka atas nama surga, dan menghancurkan satu-satunya hal yang berharga dalam hidupnya: ikatan persahabatan.

Dengan sisa-sisa kesadaran murninya, Aiden memusatkan seluruh energinya. Ia tidak lagi menggunakan amarah sebagai bahan bakar, melainkan cinta dan rasa bersalah. Cahaya keemasan yang lembut mulai memancar dari dadanya, menetralkan kabut hitam yang menyelimuti ruang hampa tersebut. Perlahan tapi pasti, kode-kode yang telah dihapus mulai tersusun kembali. Partikel cahaya berkumpul, membentuk siluet yang kian jelas, hingga akhirnya Zara, Kai, dan Ray muncul kembali di hadapannya.

Ketiganya tampak limbung, wajah mereka pucat dan penuh kebingungan, seolah baru saja ditarik dari tidur panjang yang mengerikan. Mereka menatap Aiden dengan sisa-sisa ketakutan, namun pemandangan yang mereka lihat bukanlah monster yang haus darah, melainkan seorang pemuda yang sedang hancur oleh tangisnya sendiri.

"Maafkan aku..." ucap Aiden, suaranya parau dan bergetar hebat. "Maafkan aku atas semua kegilaan ini. Selama ini, aku menutup mata. Aku mengira aku sendirian di dunia yang kejam ini, mengira tidak ada satu pun jiwa yang benar-benar peduli. Aku membiarkan diriku ditelan oleh kebencian, kemarahan, dan rasa kehilangan yang tidak pernah kusembuhkan."

Ia menarik napas panjang, mencoba menahan isak tangis yang meledak-ledak. "Ternyata aku salah besar. Kalian ada di sini. Kalian selalu ada. Kalian adalah hadiah terindah yang pernah kutrima di semesta yang fana ini, dan aku... aku sungguh tidak pantas mendapatkan teman seperti kalian."

Untuk memberikan penghormatan terakhir, Aiden menggunakan kekuatannya untuk memutar kembali memori kolektif mereka. Ia ingin sebelum dunia ini berakhir, mereka mengingat mengapa mereka pernah bersama. Ruang di sekitar mereka berubah menjadi bioskop raksasa yang menampilkan fragmen-fragmen kehidupan yang paling hangat.

Muncul bayangan masa kecil Aiden dan Zara di Toko Kue Mama Zara. Terlihat Aiden kecil yang kurus sedang berlari mengejar Zara di antara tumpukan kotak kue yang harum. Mereka bermain petak umpet di balik karung tepung, melompat kotak di pelataran toko, hingga mencoba bermain engrang di mana Aiden selalu terjatuh karena keseimbangannya yang payah, sementara Zara tertawa lebar sambil mengulurkan tangan untuk membantunya bangkit. Memori itu berlanjut saat mereka remaja; Aiden yang tekun membersihkan meja dan merapikan kursi-kursi kayu agar toko tetap nyaman, sementara Zara memberikan potongan kue sisa yang sengaja ia simpan untuk Aiden agar sahabatnya itu tidak kelaparan. Itu adalah masa-masa di mana kemiskinan tidak terasa menyakitkan karena mereka memiliki satu sama lain.

Lalu, memori berganti ke koridor sekolah yang dingin. Aiden melihat dirinya sendiri sedang tersudut oleh gerombolan pembully, sebelum Kai datang seperti badai, berdiri tegak di depan Aiden dan mengusir para perundung itu dengan tatapan matanya yang tajam. Itu adalah awal dari keberanian yang Aiden pelajari dari sosok Kai.

Lihat selengkapnya