Nova Nebula: the doom impact (final series) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #10

Malaikat Sangkakala

Lompatan hiper-ruang itu berakhir dengan guncangan yang mengoyak sistem navigasi pesawat. Di hadapan Ethan, Planet Nibiru membentang bukan sebagai benda langit yang alami, melainkan sebagai pusat distorsi realitas yang mengerikan. Seluruh permukaan planet itu dipenuhi dengan 'glitch' masif yang berdenyut seirama dengan detak jantung virus. Tekstur tanah sering kali menghilang, memperlihatkan kehampaan hitam di bawahnya, sementara objek-objek bebatuan muncul dan lenyap secara acak seolah-olah mesin render alam semesta sedang mengalami kegagalan total. Atmosfernya berat, berbau logam terbakar, dengan cahaya merah darah yang mendominasi cakrawala, menciptakan kesan bahwa planet ini adalah luka yang menganga di tubuh galaksi.

Ethan melangkah keluar dari palka pesawat yang mendesis. Setiap langkahnya terasa berat, bukan karena gravitasi, melainkan karena tekanan psikologis dari lingkungan yang tidak stabil. Sambil berjalan menyusuri dataran yang retak, sebuah pertanyaan mengusik benaknya.

"Mengapa aku tidak bisa menggunakan kekuatan manipulasiku untuk meniru kekuatannya?" gumam Ethan pada dirinya sendiri. Kekuatan dasarnya untuk meniru kemampuan lawan seolah-olah terkunci oleh gembok yang tak terlihat. "Pasti ada alasannya. Mungkin ini sudah diatur dalam skenario Aref... sebuah aturan sistem yang tidak bisa kulanggar selama aku masih menjadi 'program' biasa."

Beberapa kilometer dari tempat pendaratan, ia menemukan sisa-sisa dari sebuah kota mati. Bangunan-bangunannya hancur, namun kehancurannya tidak terlihat alami; tembok-temboknya terpotong oleh garis-garis digital dan jendela-jendelanya memancarkan statis televisi. Kota ini tampak ditinggalkan dalam kepanikan luar biasa, menyisakan keheningan yang mencekam di bawah langit merah.

Tepat di alun-alun kota yang sunyi, Ethan menemukan apa yang dicarinya. Berdiri di atas podium batu yang retak, sebuah patung malaikat sangkakala menjulang tinggi. Patung itu terlihat sangat kuno, seolah-olah sudah ada di sana jauh sebelum simulasi 'Nova Nebula' pertama kali dijalankan. Namun, kondisinya sangat memprihatinkan; patung itu kehilangan kepala dan kedua lengannya, menyisakan batang tubuh bersayap yang tampak menderita.

"Apakah patung ini yang Aiden sebutkan dalam racauannya?" Ethan berbisik, suaranya gemetar. "Kelihatannya sudah berabad-abad ada di sini, membusuk bersama rahasia penciptanya. Apakah aku benar-benar harus menyentuhnya?"

Ethan mengulurkan tangannya yang gemetar. Begitu ujung jarinya menyentuh permukaan batu dingin patung itu, sebuah ledakan sensorik menghantam kesadarannya.

"Aaaarrghhh!" Ethan tersungkur, memegangi kepalanya yang terasa seperti dihantam oleh ribuan kilatan listrik. Rasa sakit itu tak tertahankan. Serangkaian penglihatan brutal melintas di benaknya seperti film yang diputar dengan kecepatan cahaya. Ia melihat Aiden di 'loop' ke-444, berdiri di tempat yang sama, menyentuh patung yang sama. Ia melihat bagaimana virus itu pertama kali merayap masuk ke dalam kode Aiden, mengubah pahlawan itu menjadi wadah kegelapan.

Dalam penglihatan itu, Ethan melihat Aiden yang pingsan setelah menyentuh patung, lalu terjebak dalam mimpi metafisika. Di sana, Aiden bertemu dengan entitas berjubah misterius yang mengaku sebagai "Tuhan". Sosok itu perlahan menyatu dengan Aiden, membisikkan keraguan tentang kodrat manusia hingga Aiden mulai membenci takdirnya sendiri. Dan yang paling mengejutkan, di balik jubah entitas itu, Ethan mengenali wajah yang sangat familiar—wajah Aref, sang Animator, namun dalam versi yang lebih tua dan penuh otoritas.

Tiba-tiba, memori itu bergeser. Ia melihat sebuah fragmen percakapan antara Aref dan seorang anak kecil yang sangat mirip dengan Aiden.

Lihat selengkapnya