Kehampaan putih yang murni dan dingin mulai menelan sisa-sisa cakrawala galaksi. Tidak ada lagi bintang yang berkedip, tidak ada lagi nebula yang menari; yang tersisa hanyalah suara statis dari sistem yang sedang menghapus dirinya sendiri. Setiap inci dari dunia *Nova Nebula* kini hanyalah deretan kode yang rontok, meninggalkan *glitch* kotak-kotak yang terdistorsi sebelum akhirnya lenyap menjadi ketiadaan. Di tengah kekosongan absolut itu, partikel virus yang tadinya menginfeksi Aiden mulai memadat, berkumpul, dan membentuk kembali sosok manusia yang paling bertanggung jawab atas semua penderitaan ini: 'Aref'.
Aref jatuh terduduk, lututnya menghantam lantai putih yang tak berwujud. Pakaiannya yang kumal dan wajahnya yang tirus mencerminkan jiwanya yang telah lama kering. Ia mencengkeram kain celananya dengan tangan gemetar, sementara isak tangis yang tertahan selama ribuan tahun simulasi akhirnya pecah.
"Mengapa aku harus menjadi monster seperti ini?" raung Aref, suaranya parau menembus keheningan putih. "Mengapa aku harus membunuh jiwaku sendiri? Mengapa aku menciptakan siklus 'loop' yang menyiksa ini, dunia simulasi yang penuh darah, dan animasi gelap yang hanya memantulkan bau busuk hatiku?"
Ia menunduk, air matanya jatuh ke lantai yang segera menghapusnya. "Aku gagal... aku benar-benar gagal. Aku merasa tidak ada satu pun manusia di bumi yang pernah menyayangiku tanpa syarat. Ibuku... wanita yang seharusnya menjadi tempatku pulang, justru menjadikanku mesin uang untuk membiayai gaya hidupnya dan selingkuhannya. Dan adikku... dia terjebak dalam lubang judi *online* yang tak berujung, menyeretku masuk ke dalam utang yang bukan milikku. Aku lelah menjadi tulang punggung bagi orang-orang yang hanya ingin mematahkan tulangku."
Tiba-tiba, memori masa lalu yang murni—sebelum racun dunia masuk ke dalam nadinya—muncul seperti proyektor rusak di hadapannya. Aref melihat dirinya saat masih kecil, duduk di depan televisi tabung yang bergetar bersama ayahnya. Di layar, tokoh-tokoh kartun melompat dengan gagah berani, menyelamatkan dunia dengan senyuman.
"Lihat, Ayah! Keren banget melihat mereka menggunakan kekuatannya!" seru Aref kecil dengan mata berbinar penuh kagum. "Nanti, kalau aku sudah besar, aku akan membuat animasi yang jauh lebih keren dari ini!"
Ayahnya mengusap rambut Aref dengan lembut, satu-satunya momen kasih sayang murni yang pernah ia rasakan. "Iya, Ayah nantikan ya, Jagoan."
Namun, layar memori itu mendadak retak. Aref melihat pertemuannya dengan **Khaizan** di bangku SD. Mereka adalah dua anak yang terasing, yang melarikan diri ke dalam buku gambar untuk mempelajari anatomi dan teori animasi. Namun, Khaizan memiliki beban yang bahkan lebih berat dari Aref. Khaizan adalah saksi bisu dari kekejaman ayahnya yang pecandu alkohol. Aref teringat saat mereka duduk di pojok kelas, dan ia melihat lengan Khaizan yang dipenuhi bekas luka sayatan dari pecahan botol kaca. Fisiknya disiksa oleh ayahnya, sementara psikologisnya diperkosa oleh ibunya yang menuntut kesempurnaan akademik di tengah badai rumah tangga yang hancur.
Lalu, memori paling gelap itu datang—kejadian di belakang gedung sekolah dasar, di mana sekelompok siswi yang lebih tua memberinya sesuatu yang dikira permen, namun ternyata adalah narkoba yang menghancurkan syarafnya, diikuti dengan tindakan pelecehan yang merampas harga diri Aref saat ia bahkan belum mengerti arti kedewasaan. Tragedi itu bersambung dengan perceraian orang tuanya di masa SMP, saat ia memergoki ayahnya berselingkuh, menghancurkan satu-satunya pilar keamanan yang ia miliki.