Nova Nebula: the time loop (series 2) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #1

Loop Awal atau Bukan?

Aroma kopi yang pekat dan harumnya roti bakar yang baru saja keluar dari pemanggang memenuhi ruang makan, menyambut pagi yang cerah di kediaman keluarga Aiden. Sinar matahari menerobos masuk melalui celah jendela, memantulkan cahaya keemasan di atas meja kayu tempat Aiden duduk bersama nenek, ayah, dan ibunya. Suasana pagi itu terasa begitu hangat, tenang, dan normal—sebuah kontras yang sangat mencolok dengan sisa-sisa mimpi aneh yang menghantuinya sejak ia masih kecil. Dalam tidurnya, Aiden sering melihat fragmen kehancuran yang mengerikan; bintang-bintang yang padam satu per satu, planet yang retak, dan suara tiupan sangkakala yang frekuensinya seolah membelah langit. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha mengenyahkan imaji visual yang mengganggu itu dari benaknya. "Hanya mimpi," bisiknya dalam hati, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa dunia yang ia pijak saat ini adalah satu-satunya realitas yang nyata.

"Aiden, habiskan sarapanmu. Nanti keburu dingin dan tidak enak lagi," tegur ibunya dengan nada lembut namun penuh perhatian, menyadarkannya dari lamunan yang dalam. Aiden tersentak kecil, lalu menatap piringnya yang masih penuh. "Ah, maaf Bu. Aku hanya sedikit melamun," sahut Aiden sambil segera menyendok nasi goreng dengan cepat. Ia tahu ia harus bergegas. Pagi ini, ia memiliki jadwal pekerjaan paruh waktu di toko kue milik keluarga Zara. Uang tambahan dari hasil keringatnya sendiri sangat berarti untuk membantu ekonomi keluarganya, dan ia tidak ingin datang terlambat meskipun hanya satu menit.

Setelah berpamitan dengan sopan dan mencium punggung tangan neneknya, Aiden melangkah keluar rumah dengan penuh semangat. Langkah kakinya terasa ringan menyusuri jalanan kota yang mulai berdenyut oleh aktivitas penduduk. Sambil berjalan, pikirannya melayang pada sosok Zara, gadis manis pemilik toko kue yang sudah dikenalnya sejak kecil. Aiden merasa sangat nyaman berada di dekat Zara dan ibunya; mereka sudah seperti keluarga kedua baginya. Setibanya di depan toko, aroma manis mentega dan adonan roti yang sedang dipanggang langsung menyerbu indra penciumannya, memberikan rasa nyaman yang familier.

"Selamat pagi, Aiden! Kamu datang tepat waktu seperti biasanya," sapa Zara dengan senyum cerah yang membuat matanya yang berbinar tampak semakin indah. Aiden membalas senyuman itu dengan tulus. "Pagi, Zara. Siap untuk bekerja?" Tanpa menunggu instruksi lebih lanjut, Aiden segera mengambil kain lap dan mulai membersihkan kursi-kursi kayu di area pengunjung. Namun, karena terlalu bersemangat, ia menarik kursi sedikit terlalu kasar hingga menimbulkan suara decit yang keras.

"Aiden, kalau lagi menyusun kursinya tolong pelan-pelan, jangan dijatuhkan begitu," seru Mama Zara sambil terkekeh dari balik konter kasir. "Nanti kursinya rusak sebelum ada pelanggan yang duduk." Zara yang baru saja keluar dari dapur membawa nampan berisi 'croissant' hangat ikut menimpali. "Iya, Aiden. Santai saja. Ingat tidak waktu kita masih kecil dulu? Kamu selalu bergerak sangat cepat dan bersemangat seperti itu sampai-sampai pernah menabrak rak tepung." Aiden tertawa kecil menanggapi godaan itu. "Bagaimana aku bisa lupa? Dulu kita sering main petak umpet di taman belakang toko ini sampai baju kita kotor semua. Dan kamu, Zara, selalu saja punya tempat persembunyian yang tidak masuk akal sampai aku menyerah mencarimu."

Lihat selengkapnya