Suasana hening yang menekan kini menyelimuti ruang tamu rumah Aiden yang sederhana. Aroma kayu tua dan sisa-sisa ozon dari pertempuran singkat namun intens melawan robot-robot misterius tadi siang masih tertinggal di udara, menciptakan atmosfer yang berat. Kelelahan fisik dan kebingungan eksistensial terpancar jelas dari wajah Aiden, Zara, Kai, dan Ray. Di tengah ketegangan itu, Nova—robot televisi kecil yang tampak antik namun menyimpan teknologi luar biasa—melayang tenang di udara. Layarnya yang tadinya statis kini memancarkan cahaya biru lembut, menampilkan diagram geometris rumit yang terus berputar, memvisualisasikan data yang hendak ia sampaikan kepada para remaja yang baru saja terpilih sebagai penjaga galaksi tersebut.
"Kekuatan yang baru saja bangkit di dalam sel-sel tubuh kalian bukanlah energi biasa," Nova memulai penjelasannya, suaranya yang sintetik namun tenang bergema di ruangan yang sunyi itu. "Energi ini berasal dari inti Robot Galaksi, sebuah jaringan energi subatomik yang sangat kompleks. Ia memberikan kalian kemampuan untuk memanipulasi hukum fisika, namun kalian harus mengerti bahwa energi ini bersifat organik—ia sangat sensitif terhadap kondisi emosi dan stabilitas mental penggunanya."
Kai, yang sejak tadi terus memijat lengannya yang masih terasa pegal dan bergetar akibat lonjakan listrik, mendongak dengan tatapan cemas. "Maksudmu, kekuatan kami bisa berubah hanya karena kami merasa sedih atau marah? Bukankah itu berarti kekuatan ini sangat tidak stabil?" tanyanya, mencoba mencerna implikasi dari senjata yang kini bersemayam di dalam nadinya.
"Lebih dari sekadar fluktuasi emosi sesaat, Kai," jawab Nova, layarnya menampilkan visualisasi jantung yang berdegup kencang. "Trauma yang mendalam, kehilangan yang tidak terselesaikan, serta beban mental yang terlampau berat… semua itu bertindak seperti kontaminan. Semakin sering kalian bertarung dan terpapar pada kekacauan galaksi, semakin besar risiko energi kalian akan terpolusi. Bayangkan kekuatan ini seperti aliran air pegunungan yang sangat jernih. Awalnya, air itu murni, namun setiap kali kalian membiarkan emosi negatif menguasai diri, itu seperti mencampurkan lumpur ke dalamnya. Lama-kelamaan, air itu akan menjadi sangat keruh, beracun, dan pada akhirnya tidak bisa lagi digunakan untuk melindungi apa pun."
Mendengar penjelasan itu, Zara menatap telapak tangannya sendiri. Ia mencoba memanggil sedikit percikan kekuatan waktu yang tadi sempat ia gunakan, namun yang ia rasakan hanyalah getaran halus yang dingin. Perasaan aneh bercampur kekhawatiran mulai merayap di hatinya. Mimpi-mimpi buruknya tentang kehancuran dan perasaan 'déjà vu' yang semakin kuat seolah-olah menjadi bukti bahwa ia sudah pernah mendengar peringatan ini sebelumnya, mungkin di kehidupan yang telah terhapus oleh waktu. Firasat buruk bahwa sejarah akan terulang kembali mulai membayangi pikirannya.
"Lalu, jika energi kami mulai menjadi keruh, apa yang bisa kami lakukan untuk menghentikannya?" tanya Aiden dengan nada tegas. Sebagai sosok yang secara alami merasa harus melindungi teman-temannya, ia tidak ingin melihat Zara atau Kai berakhir menjadi monster akibat kekuatan yang seharusnya menjadi anugerah ini.
"Ada sebuah solusi teknis yang disebut 'Chip Reset'," Nova menjawab, layarnya kini beralih menampilkan gambar sebuah mikrokontroler kecil yang berkilauan dengan cahaya putih murni. "Chip ini berisi kode pemulihan orisinal yang mampu melakukan dekontaminasi dan memurnikan kembali energi yang telah tercemar. Masalahnya adalah, Chip Reset ini tidak bisa dibuat begitu saja. Kalian hanya bisa mendapatkannya dari musuh atau pahlawan lain yang kekuatannya sudah terkorupsi total. Itu adalah satu-satunya sumber energi pemulihan yang cukup kuat untuk melakukan 'reset' sistem."