Setelah melewati rentetan penjelasan teknis dari Dokter Likton selama perjalanan lintas angkasa yang mendebarkan, Aiden, Zara, Kai, dan Ray kini berdiri di ambang pintu kenyataan yang baru. Kesadaran bahwa mereka bukan lagi sekadar remaja biasa yang merisaukan nilai sekolah atau uang jajan tambahan mulai meresap jauh ke dalam sumsum tulang mereka. Mereka adalah anomali kosmik, calon pahlawan yang detak jantungnya kini selaras dengan frekuensi galaksi. Di pundak mereka yang masih muda, nasib triliunan nyawa mulai dititipkan, dan untuk memikul beban tersebut, mereka harus membuktikan diri melalui inisiasi suci di Akademi Pelindung Galaksi. Aether Isle bukan sekadar sekolah; ia adalah kawah candradimuka tempat mentalitas baja ditempa dari api ketidakpastian.
Dokter Likton berdiri tegak di hadapan mereka di aula kedatangan yang luas. Wajahnya yang semula tampak rapuh kini mengeras penuh wibawa, meskipun binar kebanggaan sulit disembunyikan dari balik lensa kacamatanya yang telah diperbaiki. "Kalian telah mengetahui teori dasar tentang energi keruh dan Chip Reset. Namun, pengetahuan tanpa penguasaan adalah racun," katanya dengan suara yang menggema kuat. Ia tidak memberikan ruang untuk bernapas atau sekadar bertanya tentang jadwal istirahat. "Saatnya membuktikan apakah kalian adalah pewaris sejati kekuatan Robot Galaksi atau hanya sekadar kesalahan sistem. Ujian masuk kalian dimulai detik ini." Ujian tersebut dirancang untuk menguliti lapisan jati diri mereka, mengukur kekuatan fisik, ketahanan mental, ketajaman strategi, dan yang paling krusial: sinkronisasi kerja sama tim.
Sebelum Aiden sempat melontarkan protes tentang kelelahan mereka, Dokter Likton mengangkat telapak tangannya. Dengan perpaduan kekuatan teleportasi dan telekinesis yang luar biasa, sebuah pusaran cahaya keperakan yang membutakan mata menyelimuti tubuh mereka berempat. Dalam fraksi detik, molekul udara di sekitar mereka bergeser. Pemandangan dermaga udara hilang, digantikan oleh arena latihan virtual raksasa yang tak berbatas. Ruang simulasi ini adalah mahakarya teknologi Aether Isle; pemandangan di sekitar mereka terus bermutasi secara organik, berpindah dari padang pasir yang membara hingga hutan lebat yang menyimpan predator mekanis. Suara Dokter Likton terdengar dari segala penjuru melalui sistem audio sensorik. "Ujian ini terdiri dari tiga tahap yang akan menghancurkan ego kalian: Fisik, Mental, dan Tim. Selamat berjuang."
Tahap Pertama: Ujian Fisik
"Ujian Fisik dimulai. Persiapkan sistem saraf kalian." Tanpa peringatan, simulasi berubah menjadi hamparan gurun yang tak berujung. Pasir kuning keemasan terbang tertiup angin kencang yang suhunya mampu melepuhkan kulit. "Kalian harus menempuh jarak 500 kilometer dalam waktu yang sangat terbatas. Jika satu orang tertinggal, semua gagal."
Aiden, Zara, Kai, dan Ray saling bertukar pandang kilat. Mereka mengangguk serempak, sebuah insting kolektif yang mulai tumbuh. Mereka mulai berlari secepat kilat. Aiden memfokuskan pikirannya pada atom-atom pasir di bawah kaki mereka, mengubah struktur longgar pasir menjadi jalur kristal yang kokoh dan licin, membuat langkah timnya jauh lebih ringan. Zara mengaktifkan denyut energinya, memanipulasi persepsi waktu di sekitar mereka; bagi dunia luar mereka bergerak seperti kilat, namun bagi mereka, waktu seolah membeku, memberikan ruang untuk bernapas di tengah panas yang menyiksa. Kai bertugas meringankan massa tubuh mereka dengan memanipulasi gaya gravitasi, membuat lari mereka terasa seperti melayang di atas permukaan gurun. Sementara itu, Ray menggunakan indra elektromagnetiknya untuk memetakan jalur tercepat, menghindari jebakan lubang pasir dan badai ion yang mengintai. Meskipun harus menghadapi monster gurun mekanis dan tebing curam yang muncul tiba-tiba, mereka berhasil menyentuh garis finis dengan napas tersengal namun penuh rasa bangga.
Tahap Kedua: Ujian Mental
Kegembiraan fisik mereka segera dipadamkan saat medan latihan berubah menjadi ruangan gelap gulita yang kedap suara. Kesunyiannya begitu pekat hingga mereka bisa mendengar detak jantung mereka sendiri. "Ujian Mental dimulai. Hadapilah kegelapan yang kalian sembunyikan di balik kekuatan kalian."