Nova Nebula: the time loop (series 2) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #5

Jejak Masa Lalu

Aiden berdiri di landasan pacu dermaga udara 'Aether Isle' dengan beban mental yang seolah sanggup meruntuhkan gravitasi di bawah kakinya. Keputusannya untuk menuruti panggilan metafisika dari mimpinya telah bulat, meski nuraninya terus berperang melawan rasa bersalah karena harus meninggalkan tim. Di depannya, pesawat antariksa ramping yang sebelumnya mereka rebut dari Lusilu kini telah bertransformasi; Dokter Likton telah memodifikasi mesin intinya dengan teknologi pelompat ruang (space-jump) untuk menempuh perjalanan antarplanet yang melampaui peta galaksi konvensional. Pesawat itu kini berdiri diam, menjadi satu-satunya jembatan tunggal antara Aiden dan takdir yang memanggilnya dari kegelapan ruang angkasa. Teman-temannya berdiri mengantar dengan formasi yang menyesakkan dada—sebuah pemandangan perpisahan yang terasa sangat familiar, seolah-olah mereka telah melakukan adegan ini ribuan kali di masa lalu.

"Hati-hati, Aiden," bisik Zara dengan suara yang hampir pecah oleh getaran kecemasan. Matanya yang jernih kini dipenuhi bayangan ketakutan akan kehilangan yang tak terjelaskan. "Kami akan terus memantau sinyalmu dari sini. Kami akan menunggumu, berapa pun lamanya." Zara menggenggam tangan Aiden sesaat, memberikan kehangatan yang seolah menjadi jangkar terakhir bagi kemanusiaan Aiden sebelum ia melesat ke kehampaan.

"Jika terjadi sesuatu yang di luar kendalimu, segera aktifkan sinyal darurat. Kami akan langsung melompat ke koordinatmu tanpa peduli aturan akademi," timpal Kai dengan nada tegas yang dipaksakan. Ia berusaha menutupi kekhawatiran batinnya dengan sikap disiplin prajurit, namun binar matanya tidak bisa berbohong bahwa ia merasa kehilangan separuh kekuatannya tanpa kehadiran Aiden.

Ray, yang sedari tadi bersandar pada pilar metalik dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca, hanya mengangguk pelan saat Aiden menatapnya. Aiden memahami tatapan itu; ada rahasia besar yang masih disembunyikan Ray tentang hubungan darahnya dengan Orion dan sejarah 'Robot Galaksi' yang jauh lebih kelam dari sekadar dongeng pahlawan. Ray seolah tahu bahwa apa yang akan dihadapi Aiden di Nibiru adalah cermin dari masa lalu mereka semua yang telah terhapus. Setelah perpisahan yang singkat namun sarat emosi itu, Aiden melangkah masuk ke dalam kokpit. Mesin pesawat menderu halus, membelah awan 'Aether Isle', dan dalam sekejap, ia melesat menembus lubang cacing menuju koordinat terlarang.

Perjalanan menuju Nibiru memakan waktu beberapa hari dalam kesunyian yang mencekam. Di dalam kabin yang sempit, Aiden terus memutar kembali rekaman suara "Malaikat Sangkakala" dalam ingatannya. Apakah ini sebuah takdir yang agung, ataukah hanya sebuah halusinasi dari sirkuit energinya yang mulai keruh? Pertanyaan itu berputar tanpa henti seperti badai di kepalanya. Akhirnya, sistem navigasi pesawat berbunyi nyaring; mereka telah tiba di orbit Nibiru. Planet itu tampak suram, misterius, dan dibalut oleh atmosfer berwarna merah darah yang pekat—sebuah pemandangan yang memberikan efek kejut luar biasa karena sangat identik dengan visi dalam mimpinya. Aiden mendaratkan pesawatnya di sebuah dataran luas yang gersang, tempat di mana debu merah menutupi reruntuhan megah yang tampak seperti sisa-sisa peradaban dewa yang telah lama musnah secara tragis.

Lihat selengkapnya