Nova Nebula: the time loop (series 2) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #6

Reset dan Resiko

Setelah peristiwa traumatis di Nibiru yang meninggalkan residu energi aneh di dalam jiwanya, Aiden masih terus berjuang keras untuk mencerna setiap fragmen pengalamannya. Mimpi-mimpi buruk yang kini terasa jauh lebih nyata—hampir seperti transmisi data yang langsung disuntikkan ke saraf pusatnya—terus menghantuinya setiap kali ia memejamkan mata. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang bergejolak hebat di dalam rongga dadanya; sebuah kekuatan baru yang terasa jauh lebih masif, namun di saat yang sama, memancarkan aura kegelapan yang dingin dan purba. Meskipun badai batin sedang mengamuk, kehidupan di Akademi Pelindung Galaksi tetap berjalan dengan ritme yang seolah-olah tidak terpengaruh, seakan-akan semesta sedang berusaha menutupi anomali yang ada pada diri Aiden.

Pelatihan harian di bawah pengawasan ketat Guru Lumari, wali kelas mereka yang memiliki disiplin baja, terus berlanjut tanpa henti. Aiden, Zara, Kai, dan Ray dipaksa untuk terus mengasah sinkronisasi antara pikiran dan kekuatan supranatural mereka. Di bawah bimbingan Guru Lumari, mereka mulai memahami lapisan-lapisan teknik yang lebih kompleks—dari cara mempertahankan struktur atom di bawah tekanan tinggi hingga cara melipat waktu dalam skala mikro. Namun, di balik kemajuan teknis yang pesat itu, bayangan tragis tentang Lusilu dan pengorbanannya yang menyakitkan tetap membekas secara permanen di benak mereka. Sosok pahlawan yang jatuh itu menjadi pengingat bisu bahwa di dunia ini, bahaya yang paling mematikan bukanlah monster dari luar angkasa, melainkan kegelapan yang tumbuh secara perlahan di dalam hati sang pelindung itu sendiri.

Ketegangan di Akademi mencapai titik didih baru ketika muncul sebuah masalah yang melibatkan seorang siswa bernama Ethan. Pemuda itu dulunya dikenal sebagai salah satu murid paling berbakat dengan kepribadian yang hangat, namun belakangan ini perilakunya berubah drastis menjadi sangat mencurigakan. Ethan sering terlihat menyendiri di sudut-sudut koridor yang gelap, dengan tatapan mata yang memancarkan kemarahan dan frustrasi yang tertahan. "Ethan dulunya adalah siswa yang sangat baik dan penuh empati," bisik salah seorang instruktur senior kepada Aiden dan kawan-kawannya saat mereka melintasi aula utama. "Tapi serangkaian kejadian traumatis menghancurkannya. Ia sering dirundung secara sistematis oleh kelompok lain, dan rasa terasing itu perlahan-lahan mulai menggerogoti stabilitas mentalnya."

Nova, yang melayang di samping Aiden, memberikan analisis data yang lebih mendalam melalui proyeksi layarnya. "Kondisi mental yang labil adalah katalisator tercepat bagi kerusakan energi 'Robot Galaksi'," Nova menjelaskan dengan nada informatif yang dingin. "Jika emosi negatif seperti dendam dan rasa sakit mendominasi kesadaran pengguna, kekuatan yang seharusnya menjadi pelindung akan tercemar secara molekuler. Ia akan berbalik menjadi senjata penghancur yang tidak lagi mengenali kawan maupun lawan." Kekhawatiran para pengajar terbukti menjadi kenyataan pahit hanya dalam hitungan hari. Ethan mulai bertindak di luar kendali; fasilitas latihan Akademi hancur berantakan akibat ledakan energi yang tidak stabil, menciptakan gelombang kepanikan di antara para siswa lainnya.

Aiden dan teman-temannya akhirnya berhasil melacak keberadaan Ethan di sebuah ruang latihan bawah tanah yang sunyi dan terisolasi. Mereka datang bukan untuk bertarung, melainkan untuk mencoba berbicara dari hati ke hati, berusaha membujuk Ethan agar mengendalikan emosinya sebelum energi keruh itu menelan jiwanya sepenuhnya. Namun, Ethan hanya menanggapi kehadiran mereka dengan tawa sinis yang terdengar menyakitkan. "Membantuku? Untuk apa kalian repot-repot datang ke sini? Apa kalian pikir pahlawan-pahlawan kecil seperti kalian bisa benar-benar mengerti apa yang aku rasakan setiap malam?" katanya dengan nada suara yang menusuk tajam.

"Kalian tidak tahu bagaimana rasanya disakiti berkali-kali oleh orang yang seharusnya kalian lindungi! Kalian tidak tahu rasanya direndahkan, dihina-hina seperti sampah, dan akhirnya ditinggalkan sendirian dalam kegelapan!" lanjut Ethan dengan teriakan yang penuh dengan kepedihan mendalam. Matanya mulai memancarkan pendaran hitam yang tidak wajar.

Lihat selengkapnya