Nova Nebula: the time loop (series 2) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #7

Lembah Kehilangan

Keputusan untuk melarikan diri sejenak dari tembok-tembok kaku Akademi Pelindung Galaksi terasa seperti satu-satunya cara bagi Aiden dan Kai untuk tetap waras. Pagi itu, mereka menyelinap melalui barisan pepohonan 'bioluminescent' yang memagari sisi luar asrama, meninggalkan hiruk-pikuk pelatihan simulasi yang melelahkan. Mereka berjalan menyusuri kota terapung yang arsitekturnya merupakan perpaduan ganjil antara teknologi masa depan yang dingin dan keasrian hutan purba yang lebat. Langkah mereka melintasi jembatan gantung di atas air terjun raksasa yang airnya tampak berkilau seperti permata cair, lalu mendaki bukit-bukit curam yang puncaknya menyentuh awan buatan. Bagi Aiden, udara segar di luar sana seharusnya menjadi penawar racun bagi jiwanya yang terbebani memori Nibiru. Namun, ia menyadari ada sesuatu yang salah. Kai, sahabatnya yang biasanya penuh semangat dan humor, tampak berjalan dengan bahu yang merosot. Senyum yang tersungging di bibirnya terasa hambar, sebuah topeng plastik yang tidak mampu menutupi kekosongan di matanya.

Setelah berjam-jam mendaki dalam keheningan yang canggung, mereka akhirnya tiba di tepi sebuah jurang yang sangat curam, yang oleh penduduk lokal disebut sebagai celah pembuangan termal. Di dasar lembah yang dalam itu, terlihat aliran lava merah menyala yang terus bergejolak, memancarkan panas ekstrem yang sanggup menggetarkan udara di sekitar mereka. Pemandangan itu luar biasa mengerikan namun di saat yang sama memiliki daya tarik yang memukau—sebuah representasi visual dari kehancuran yang murni. Panas yang menjilat-jilat dari bawah sana seolah menjadi pengingat bahwa di balik kemegahan 'Aether Isle', ada tungku penghancur yang siap menelan apa pun.

Kai tiba-tiba berhenti tepat di ujung tebing. Ia menatap ke arah lautan api di bawah sana dengan tatapan kosong, namun sebuah senyuman kecil yang aneh menghiasi wajahnya. "Aiden," katanya dengan suara pelan yang hampir tenggelam oleh deru lava di bawah, "menurutmu, apa arti dari semua sandiwara ini?"

Aiden mengerutkan kening, merasakan firasat buruk yang mulai menusuk dadanya. "Maksudmu? Sandiwara apa, Kai?"

"Semua ini," Kai merentangkan tangannya, menunjuk ke arah Akademi di kejauhan dan lembah maut di bawah mereka. "Kekuatan super yang kita banggakan, Akademi megah yang mengurung kita, pertempuran demi pertempuran yang tidak pernah berakhir… apa gunanya kita melakukan semua ini jika pada akhirnya kita hanyalah bidak dalam permainan yang sudah diatur?"

Aiden terdiam seribu bahasa. Ia memahami lubang hitam yang sedang menyedot kesadaran Kai. Setelah menyaksikan Ethan hancur oleh emosinya sendiri dan mendengar penjelasan Nova bahwa hanya akan ada satu pahlawan yang tersisa di akhir siklus, benih-benih keraguan memang mulai tumbuh subur. Mengapa mereka harus ditempa menjadi senjata jika ujung-ujungnya mereka harus menyaksikan satu sama lain lenyap? Apakah pengorbanan darah dan air mata ini sepadan dengan sebuah dunia baru yang dibangun di atas kuburan kawan-kawan sendiri?

"Kita hanyalah alat, Aiden," lanjut Kai, suaranya kini mulai bergetar hebat meskipun ia berusaha mempertahankan nada datarnya. "Kita adalah alat pembersih bagi sistem ini. Kekuatan kita… cepat atau lambat pasti akan menjadi keruh dan hitam. Kita akan membusuk dari dalam, dan pada akhirnya kita sendiri yang akan mati karena hukum alam semesta ini hanya menyisakan satu pemenang. Apakah menurutmu itu manusiawi? Apakah kau merasa adil jika salah satu dari kita harus hidup di atas kematian yang lain?"

Lihat selengkapnya