Nova Nebula: the time loop (series 2) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #10

Bayangan Sang Malaikat

Sekembalinya dari Planet Lukas, koridor Akademi Pelindung Galaksi yang biasanya terasa dingin kini sedikit menghangat oleh aura apresiasi. Guru Lumari, sang instruktur yang dikenal tak kenal ampun dan hemat bicara, berdiri di depan barisan dengan tatapan yang menunjukkan secercah kebanggaan langka. "Kalian telah melakukan pekerjaan yang melampaui ekspektasi di Planet Lukas," ucapnya dengan nada berat, memberikan validasi yang terasa bagaikan oase di tengah gurun emosional yang gersang bagi Aiden, Zara, dan Ray. "Kalian tidak hanya menghentikan korupsi, tapi kalian memberikan harapan pada mereka yang telah lama kehilangan suaranya. Itu adalah esensi sejati dari seorang Pelindung."

Aiden dan teman-temannya merasakan kelegaan sesaat. Pujian itu setidaknya memberikan makna pada luka-luka baru yang mereka dapatkan. Namun, di balik senyuman tipis yang mereka paksakan untuk menghormati momen tersebut, duka atas kepergian Kai tetap menjadi lubang hitam yang tak terlihat. Keberhasilan misi di Lukas tidak bisa menambal kekosongan posisi Kai dalam formasi mereka. Hari-hari berikutnya pun diisi dengan rutinitas latihan dan pembelajaran teori yang padat, namun ada sesuatu yang secara perlahan mulai bergeser di dalam dinamika tim mereka. Perubahan itu paling nyata terlihat pada Ray.

Ray, yang biasanya menjadi penyeimbang tim dengan ketenangan dan logikanya, kini tampak semakin menarik diri ke dalam cangkang keheningan. Ia menjadi lebih pendiam, seringkali tertangkap basah sedang menatap tangannya sendiri dengan tatapan murung yang dalam. Interaksinya dengan Aiden dan Zara menjadi sangat terbatas; ia seolah-olah sedang membangun tembok energi yang tak terlihat untuk memisahkan dirinya dari dunia luar. Bahkan ketika mereka mencoba menghabiskan waktu libur bersama untuk sekadar melepas penat, Ray hanya hadir secara fisik. Senyumannya kini terasa hampa, sebuah topeng mekanis yang ia gunakan untuk menutupi kemurungan yang semakin pekat di balik sorot matanya.

Ketegangan itu memuncak pada suatu sore ketika mereka sedang beristirahat di taman gantung Akademi. Ray tiba-tiba memecah kesunyian dengan pertanyaan yang menusuk tajam, seolah-olah ia telah memendamnya sejak lama. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu di Planet Nibiru, Aiden?" tanya Ray, matanya lekat menatap Aiden, mencari celah dalam kejujurannya. "Dan mengapa saat kami menemukanmu, kau tergeletak di depan sebuah patung raksasa yang kehilangan kepala dan kedua lengannya? Pemandangan itu sangat mengerikan, Aiden. Seolah-olah kau sedang bersujud pada simbol kehancuran."

Aiden tersentak. Pertanyaan itu menghantamnya lebih keras dari serangan laser Bimikus. Ia teringat jelas bahwa dalam penglihatannya, patung itu memiliki wajahnya sendiri—lengkap dengan kepala dan sayap. *Kenapa mereka bilang patung itu tanpa kepala padahal itu adalah wajah diriku?* batin Aiden penuh kebingungan. Namun, melihat kecurigaan di mata Ray, Aiden memilih untuk memendam kebenaran tersebut. "Aku tidak ingat banyak, Ray," bohong Aiden, mencoba mengendalikan nada bicaranya agar tetap tenang. "Mungkin aku hanya pingsan karena kadar oksigen di sana sangat tipis. Kau tahu sendiri atmosfer Nibiru sangat beracun. Tidak ada yang aneh, sungguh."

Ray tidak membalas, namun keraguan di wajahnya tetap ada. Aiden pun segera mengalihkan pembicaraan, mencoba melarikan diri dari tekanan pertanyaan yang mengancam akan membongkar rahasia "Roh Tuhan" yang kini bersemayam di dalam dirinya. Malam itu, ketegangan tersebut terbawa hingga ke alam bawah sadar Aiden. Ia kembali terjerumus ke dalam mimpi yang sangat nyata, berdiri di padang pasir merah Nibiru di bawah bayang-bayang Malaikat Sangkakala yang agung namun mengerikan.

Lihat selengkapnya