Nova Nebula: the time loop (series 2) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #11

Keruhnya Sang Elektro

Halaman utama Akademi Pelindung Galaksi yang biasanya menjadi simbol kedamaian dan disiplin kini berubah menjadi episentrum badai listrik yang mengerikan. Di tengah pusaran debu dan aspal yang retak, Ray berdiri dengan tubuh yang gemetar hebat, namun bukan karena kedinginan. Aura energi yang menyelimutinya tidak lagi memancarkan cahaya biru neon yang menenangkan, melainkan berubah menjadi petir hitam legam yang berderak dengan suara memekakkan telinga. Guru Lumari segera melangkah maju, mencoba merapal frekuensi harmonisasi untuk menstabilkan aliran energi Ray, namun upayanya terasa bagaikan menyiramkan setetes air ke dalam kawah gunung berapi. Ray tetap diam membisu. Tatapannya kosong, memancarkan kehampaan yang begitu dingin hingga sanggup membekukan keberanian siapa pun yang melihatnya. Ia telah kehilangan kendali atas dirinya sendiri, memendam rasa sakit yang selama ini ia kunci rapat-rapat di balik topeng ketenangannya.

Ledakan emosi itu memicu manifestasi kekuatan manipulasi elektro yang brutal. Gelombang energi elektromagnetik murni menyapu area tersebut, menciptakan dentuman sonik yang melemparkan Aiden, Zara, dan beberapa instruktur mundur hingga beberapa meter. "Energinya telah lepas kendali sepenuhnya! Jangan mendekat tanpa perlindungan sirkuit isolasi!" teriak Guru Lumari sambil memberi isyarat agar semua murid berlindung di balik barikade energi. Di tengah kekacauan itu, Aiden menyadari bahwa ini bukan sekadar malfungsi kekuatan; ini adalah pemberontakan jiwa. Ray selama ini memikul beban ekspektasi yang tidak manusiawi sebagai putra Orion. Ia dipaksa untuk menjadi replika sempurna ayahnya, disiapkan menjadi ahli waris takhta Akademi—sebuah posisi yang bagi Ray terasa seperti penjara emas yang mencekik kebebasannya.

Beban itu semakin berat dengan kehadiran kakaknya, Ratizan. Berbeda dengan Ray yang enggan, Ratizan justru sangat ambisius dan haus akan kekuasaan. Ratizan merasa dialah yang lebih pantas memimpin Akademi, dan kecemburuannya terhadap Ray telah membengkak menjadi kebencian yang nyata. Tekanan dari obsesi Orion dan belati iri hati dari kakaknya, ditambah dengan selentingan rahasia gelap mengenai asal-usul 'Robot Galaksi' yang mulai terendus oleh Ray, telah menghancurkan benteng mentalnya. Rasa frustrasi yang menumpuk selama bertahun-tahun kini mencemari intisari kekuatannya, mengubah arus listrik yang seharusnya melindungi menjadi aliran kegelapan yang menghancurkan.

Puncak dari tragedi keluarga ini pecah ketika Ratizan muncul di halaman, menantang adiknya dengan angkuh. Pertempuran saudara pun tak terelakkan. Ray melepaskan badai petir hitam, sementara Ratizan membalas dengan manipulasi magnetik yang masif, menarik puing-puing bangunan untuk dijadikan perisai dan senjata. Suara benturan energi mereka mengguncang seluruh pulau terapung, menciptakan kilatan cahaya yang membutakan. Namun, di tengah kemelut itu, kesadaran Ray seolah terputus sepenuhnya dari logika. Secara mendadak, ia mengalihkan serangan kilatnya langsung ke arah Aiden. Aiden yang tidak siap terpaksa berguling menghindar, hatinya mencelos melihat sahabatnya menyerang dengan niat membunuh.

Lihat selengkapnya