Keheningan di asrama Akademi Pelindung Galaksi kini terasa seperti kutukan yang nyata bagi Aiden. Setiap sudut ruangan yang dulunya dipenuhi tawa santai Kai, analisis tajam Ray, dan kehangatan Zara, kini hanya menyisakan gema hampa yang menyiksa. Aiden merasa seolah-olah ia sedang berjalan di atas pecahan kaca emosi; setiap langkahnya dibarengi rasa bersalah yang berat karena ia adalah satu-satunya yang tersisa. Kehilangan sahabat-sahabatnya secara beruntun menciptakan lubang hitam di dadanya, namun di tengah keputusasaan yang melumpuhkan itu, sebuah api kecil tetap menyala. Ia menyadari bahwa jika ia menyerah sekarang, maka pengorbanan Kai di jurang lava, kematian tragis Zara, dan kejatuhan Ray akan menjadi sia-sia. Ia harus terus berdiri, meski kakinya gemetar, demi mengenang mereka yang telah menjadi abu.
Suatu pagi, Orion memanggil Aiden untuk sebuah misi mendesak di Planet Ozi'lon. Namun, Aiden tidak dikirim sendirian. Ia dipasangkan dengan Zin, informan dari Lukas, dan yang paling menyesakkan adalah keterlibatan Ratizan. Kakak kandung Ray itu masih menyimpan api dendam yang membara terhadap Aiden. Sepanjang perjalanan di dalam pesawat antariksa, atmosfer di dalam kabin terasa sangat dingin dan mencekam. Ratizan tidak pernah melepaskan pandangan benci dari Aiden. Puncaknya, di tengah observasi radar, Ratizan merenggut kerah baju Aiden dengan kasar hingga punggung Aiden terbentur dinding metalik. "Kau adalah noda dalam sejarah keluarga kami, Aiden," desis Ratizan dengan nada dingin yang menusuk. "Kau bertanggung jawab atas kematian adikku. Kau membiarkannya mengeruh sementara kau tetap hidup sebagai pahlawan palsu. Aku tidak akan pernah memaafkanmu sampai kau merasakan rasa sakit yang sama."
Aiden tidak membalas dengan kekerasan. Ia hanya menatap mata Ratizan dengan kesedihan yang tulus, mencoba menjelaskan bahwa semua itu adalah kecelakaan tragis yang juga menghancurkan jiwanya sendiri, namun Ratizan sudah tertutup oleh kabut kebencian. Zin segera menengahi mereka, mengingatkan bahwa mereka memiliki tugas profesional yang jauh lebih besar di Ozi'lon. Begitu pesawat mereka menembus atmosfer Ozi'lon, pemandangan di bawah sana segera mengalihkan perhatian mereka. Planet itu tampak kelabu dan tertutup oleh kabut kesedihan. Di jalanan kota yang arsitekturnya bergaya barok namun futuristik, mereka menyaksikan praktik perbudakan yang sangat sistematis. Penduduk lokal tampak ketakutan, bekerja di bawah todongan senjata robotik sebagai pelayan paksa. Pemandangan ini hampir sama menyedihkannya dengan Lukas, namun dengan aura penindasan yang jauh lebih personal.
Mereka menyusup ke pemukiman kumuh dan bertemu dengan sekelompok pemberontak yang kurus kering. Dengan suara gemetar, mereka mengungkapkan kebenaran yang mengguncang fondasi kepercayaan Aiden. "Planet kami tidak dikuasai oleh alien penjajah atau diktator asing," bisik seorang penduduk dengan nada takut yang mendalam. "Penguasa baru kami adalah perempuan yang kalian kenal sebagai Guru Lumari. Guru kalian di Akademi telah berubah menjadi sosok tiran yang sangat kejam. Ia menghancurkan struktur sosial kami dan memperbudak siapa pun yang dianggapnya lemah. Ia adalah monster yang lahir dari dendam masa lalu."