Setelah berhasil menaklukkan kegelapan Guru Lumari dan menyerahkan 'Chip Reset' terakhir kepada Kepala Akademi Orion, Aiden berdiri di balkon menara utama dengan perasaan yang berkecamuk. Ada rasa lega yang hambar, seolah-olah ia baru saja menutup buku yang penuh dengan noda darah. Namun, di balik kelegaan itu, bayangan wajah teman-temannya terus menghantuinya. Ia membayangkan bagaimana perasaan orang tua Zara yang menanti kabar di planet asal mereka, atau keluarga Kai yang mungkin tidak akan pernah tahu bahwa putra mereka telah melompat ke dalam kebinasaan demi menjaga martabatnya. Beban sebagai pahlawan yang selamat mulai terasa lebih berat daripada beban saat berperang; ia merasa seperti anomali yang seharusnya tidak ada.
Ketenangan yang ia cari ternyata hanyalah ilusi singkat. Tanpa peringatan, saat Aiden sedang berjalan di lorong sunyi menuju asramanya, beberapa penjaga elit diperintahkan oleh Orion untuk menyergapnya. Aiden tidak diberi kesempatan untuk bertanya. Ia dilumpuhkan dengan borgol penahan energi atom dan diseret jauh ke bawah tanah, menuju sebuah ruangan kuno yang bahkan tidak tertera dalam peta digital Akademi. Ruangan itu memancarkan aura yang berbeda; dinding-dindingnya terbuat dari batu hitam obsidian dengan ukiran simbol-simbol prasejarah yang berdenyut dengan cahaya biru pucat yang dingin. Udara di sana terasa statis, seolah-olah waktu telah berhenti beribu-ribu tahun yang lalu.
Orion berdiri di tengah altar lingkaran, wajahnya yang biasanya tegas kini tampak diterangi oleh ambisi yang fanatik. Ia menatap Aiden bukan sebagai seorang murid atau putra angkat, melainkan sebagai sebuah instrumen yang sudah matang untuk dipanen. "Kau memiliki frekuensi yang paling murni, Aiden," ucap Orion, suaranya bergema datar di ruangan yang kedap suara itu. "Kekuatan Malaikat Sangkakala yang bersemayam dalam kodratmu bukan sekadar senjata untuk berpatroli. Ia adalah kunci. Aku akan menggunakanmu sebagai persembahan agung dalam ritual 'Resonansi Agung' untuk mengatur ulang tatanan galaksi ini sesuai kehendakku."
Aiden terperangah, rasa dikhianati membakar dadanya. Ia mencoba memberontak, mengerahkan kekuatan atomnya untuk menghancurkan borgol tersebut, namun Orion jauh lebih berpengalaman. Dengan satu lambaian tangan, Orion mengaktifkan sirkuit pengisap energi di bawah altar, mengikat Aiden dalam posisi salib di atas batu hitam tersebut. Orion mulai merapal mantra-mantra dalam bahasa kuno yang terdengar seperti gesekan logam, bahasa yang tidak dimengerti oleh logika manusia namun mampu menggetarkan setiap molekul di ruangan itu. Cahaya terang mulai memancar dari pusat altar, menusuk mata Aiden dengan rasa sakit yang luar biasa.
Kejutan terbesar bagi Aiden bukanlah niat jahat Orion, melainkan apa yang ia lihat di pinggir ruangan. Di sana, barisan siswa dan siswi Akademi—rekan-rekan sejawatnya yang selama ini ia anggap sebagai kawan seperjuangan—berdiri menyaksikan prosesi itu. Tidak ada air mata. Tidak ada simpati. Sebaliknya, mereka justru tertawa terbahak-bahak, saling berbisik dan menunjuk-nunjuk penderitaan Aiden seolah-olah ia adalah badut dalam sirkus yang menghibur. Mereka menertawakan setiap rintihan kesakitan yang keluar dari mulutnya. Di titik itulah, sesuatu di dalam diri Aiden patah. Sisa-sisa terakhir keyakinannya pada kemanusiaan dan kebaikan runtuh total. Ia merasa dikhianati oleh sistem, oleh guru, dan oleh spesiesnya sendiri.