Nova Nebula: the time loop (series 2) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #14

Simulasi Kehidupan

Aiden berdiri di titik nol, sebuah koordinat yang tidak memiliki dimensi ruang maupun waktu. Di hadapannya, Singularitas itu berdenyut—bukan sebagai cahaya yang menyilaukan, melainkan sebagai kehangatan yang melampaui logika seluler. Suara Sang Arsitek, atau apa pun yang manusia sebut sebagai Tuhan, menggema bukan di telinga, melainkan di dalam inti atom keberadaannya. "Engkau telah menghancurkan yang lama untuk memberikan ruang bagi yang baru, Aiden. Sebagai pahlawan yang selamat dari kepunahan emosi negatif, engkau berhak atas satu permintaan. Katakan, apa yang kau inginkan dari kanvas yang masih kosong ini?"

Dengan hati yang berat oleh beban ribuan siklus yang tak terlihat namun terasa di sumsum tulangnya, Aiden menatap hamparan kehampaan. Ia tidak meminta kekayaan, ia tidak meminta kekuasaan untuk memerintah galaksi, bahkan ia tidak meminta keabadian. "Aku ingin mengakhiri siklus Robot Galaksi," jawab Aiden dengan suara yang tenang namun mutlak. "Aku ingin dunia di mana kekuatan tidak ditentukan oleh seberapa besar rasa sakit yang kami serap. Aku ingin mengakhiri penderitaan yang lahir dari kontrak-kontrak suci ini."

Seketika, realitas di sekelilingnya mulai melengkung. Sebuah visi simbolis yang sangat familiar namun terdistorsi muncul kembali sebagai gerbang transisi. Di tengah kehampaan, Aiden melihat pohon keabadian yang rimbun. Ia melihat sosok Zara mendekat. Namun, ada yang berbeda; kulit Zara putih pucat seperti porselen tanpa pori-pori, dan wajahnya rata tanpa mata—sebuah manifestasi visual bahwa Aiden telah benar-benar menghancurkan kodrat manusianya yang normal. Tidak ada lagi pernikahan, tidak ada lagi proses melahirkan secara biologis; yang ada hanyalah penciptaan ulang. Mereka berdua memakan buah pengetahuan tersebut, sebuah janji suci untuk melahirkan alam semesta yang baru. Detik berikutnya, Titik Cahaya Keberisian meledak hebat, menyebarkan partikel-partikel realitas ke segala arah dalam sebuah 'Big Bang' yang megah.

Aiden merasakan kesadarannya ditarik masuk ke dalam aliran waktu yang baru. Ia merasa terlahir kembali, namun kali ini ingatan tentang permintaannya untuk menghentikan siklus terasa samar, seperti kabut yang tertiup angin pagi. Aiden terbangun dengan sentakan kecil. Ia berada di sebuah kamar kecil yang familiar. Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyinari poster-poster di dinding. Ia melihat tangannya—tangan seorang anak kecil. Tidak ada bekas luka bakar atom, tidak ada denyut energi gelap. Alam semesta ini terasa begitu normal. Tidak ada berita tentang Robot Galaksi di televisi, tidak ada ancaman dari langit. Ia merasakan kehangatan keluarga; entah ayahnya masih ada di sana atau ia hanya tinggal bersama neneknya, semuanya terasa cukup.

Namun, seiring berjalannya waktu, perasaan aneh mulai merayap di balik tengkuknya. Sebuah rasa *déjà vu* yang kronis. Saat ia tumbuh menjadi remaja, Aiden mendapati dirinya bekerja di sebuah toko kue kecil milik keluarga Zara. Aroma tepung dan gula itu sangat nyata, namun setiap kali ia menatap mata Zara, ia merasa ada sebuah memori yang terkunci di balik iris matanya. Ia bertemu Kai di perjalanan menuju SMA. Dalam satu iterasi, Aiden adalah korban perundungan yang dibela oleh Kai; di iterasi lain, justru Aiden yang menghajar para perundung itu demi Kai. Perkelahian itu selalu terjadi, seolah-olah takdir sedang mencoba mencari jalan keluar dari labirin yang sama.

Lihat selengkapnya