Saat lonceng berbunyi tiga kali, penduduk taman tahu satu penghuni telah mati hari ini.
Suara itu menggema hingga menembus tulang telinga. Setiap bunyi diselimuti sihir yang membuat semua kegiatan terhenti. Dengan gestur yang sama, para penduduk berdiri, menegakkan kepala, menatap langit, menarik napas, lalu tersenyum—dengan ikhlas.
Baru saja ritual penghormatan itu selesai, laki-laki kecil dari Bangsa Rosman bernama Dien, berlari menuju tanah lapang.
Ia mendekati petugas dan bertanya,
“Apakah ibuku baik-baik saja?” Dien membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Ia takut pertanyaannya justru membuat nama ibunya disebut.
Petugas itu menatap Dien lebih lama dari yang perlu.
“Dien… apakah kau mendengar kami menyebut sebuah nama?”
Dien menggeleng. “Tidak.”
“Kalau begitu, bukan Bangsa Rosman yang berpulang.”
“Bangsa Atland?”
“Ya. Dan berita ini hanya untuk keluarganya.”
Dien terdiam.
Kata berpulang, masih menggantung di kepalanya.
“Maafkan aku telah merepotkanmu,” katanya akhirnya. “Ibuku baru berangkat ke Kerajaan Han. Tidak mungkin dia yang berpulang.”
Petugas itu mengangguk, lalu mengubah nada bicaranya.
“Dien, bukankah ini hari pertamamu masuk sekolah sihir?”
“Benar, Ari Kick,” jawab Dien.
“Aku sedang menuju gedung tua untuk menimba ilmu dasar—agar menjadi penyihir penjaga yang kuat sepertimu.”
“Kau akan tumbuh kuat seperti leluhurmu,” kata petugas yang ternyata bernama Ari Kick.
*
Dien berjalan menuju gedung tua. Langkahnya biasa—tidak berlari, tidak ceria. Kelopak matanya sayu, seperti kurang tidur.
Di perjalanan, ia bertemu Sem—anak dari perempuan yang tadi ia khawatirkan. Sejatinya, Dien adalah keponakan dari ibunda Sem dan memanggil perempuan itu; Bibi Aida.
Sejak ibu Dien meninggal, ia dibesarkan oleh Bibi Aida dan suaminya, Paman Nazer.
Di depan jalan menuju gedung tua, Sem sudah lebih dulu menunggu.
Ketika Dien mendekat, Sem bertanya, "Dari mana?"
“Aku ke tanah lapang.”
“Untuk apa, kau ingin kabur di hari pertama?”
“Tentu tidak. Bibi bisa marah kalau aku kabur. Tadi malam kami sudah menyiapkan semua yang kita perlukan, termasuk camilan mamidobaos, untuk kita makan hari ini,” jelas Dien sambil terus berjalan.
“Pantas saja kau terlihat masih mengantuk,” kata Sem sambil tersenyum tipis.
Mereka berhenti di depan gedung tua. Bangunan itu dikelilingi pagar besi karasani yang dapat memanjang sendiri. Di sana berdiri pria berwajah hewan sebagai penjaga gerbang. Mereka adalah Golongan Sulmen. Besar dan menakutkan.