Novel DT || The Hidden Soul Of Kaz

Hiday atrum
Chapter #7

Asebel

Faeyis Asebel.

Gedung kedutaan Asebel tidak kalah memikat. Meski sederhana, wujudnya terasa agak istimewa. Dinding logam putih memantulkan cahaya, sementara atap berbentuk kubah dari batu alam mengilap berwarna merah merona. Seluruhnya memberi kesan mahal dan unggul, menonjol di antara bangunan lain di sekitarnya.


Asebel merupakan entitas yang berdiri di puncak kekuasaan. Kerajaan Asebel tercatat sebagai kerajaan terkuat di seluruh Dunia Tersembunyi. Karena eksistensi tersebut, asebel memegang Otoritas mutlak atas setiap kerajaan yang berada di Dunia itu.


Otoritas tersebut memungkinkan pengiriman asebel ke seluruh penjuru kerajaan di Dunia Tersembunyi sebagai duta resmi. Kehadiran para duta ini berfungsi menjaga keseimbangan—menegakkan perdamaian, sekaligus menindak penjajahan yang melanggar aturan yang telah ditetapkan.


Dalam data yang tertulis ada dua puluh satu asebel bertugas di Kerajaan Han, bertebaran di lima bagian, utara, selatan, barat, timur dan utama.

Pagi ini, satu asebel akan dipindahkan ke Negeri Malivolia, sebuah bangsa beringas yang dikurung dengan dinding setinggi awan.


Asebel yang akan pergi itu adalah Faeyis Asebel. Para Asebel di kerajaan ini menggunakan pakaian yang amat tertutup. Sekilas, mereka seperti mumi berkain sorban. Padahal sejatinya, tubuh asebel keras bagaikan besi, ia tidak memiliki rambut atau bulu sama sekali, matanya terbuat dari cahaya, ia tidak butuh oksigen untuk bernafas, tidak butuh baterai karena bukan robot.

Keberangkatan Fae (Faeyis), akan dilakukannya sendiri. Fae adalah asebel tanah, ia bisa membuat tanah bergerak dan membawanya pergi. Bahkan ia bisa meleburkan tubuhnya menyatu dengan pasir-pasir.


Faeyis adalah asebel yang berbakat, ia kuat dan cerdas. Di gedung kedutaan itu, ia mengantar beberapa berkas. Kemudian pria seperti mumi berjubah merah mengizinkannya pergi. Seperti tidak ada kepedulian, tapi memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena para Asebel, tidak perlu makan, tidak perlu minum, bahkan tidak perlu tidur. Mereka juga sangat kuat sampai-sampai untuk mengalahkan satu asebel saja, mungkin perlu 1.000 pasukan elit yang sangat berpengalaman dalam perang, bersamaan dengan 1.000 kemampuan atau anugerah ajaib mereka; tetap akan sulit untuk mengalahkan satu sosok asebel mana pun saja. Kendati demikian, asebel memiliki usia yang amat pendek, 30 tahun—adalah batas hidup mereka. Setiap kali belum ada yang mati, maka belum ada pula kehidupan baru terlahirkan.

Jumlah mereka akan tetap sama. Namun mereka juga bertumbuh seperti makhluk lainnya; dari cangkang-bayi-tua dan lalu mati.

Setelah diizinkan pergi, Fae berjalan dengan tenang, ia akan bergerak santai menuju negeri para pembantai; yaitu Negeri Malivolia.


*


Gadis cantik yang sejak kemarin menarik perhatian Dien melangkah keluar dari aula pertandingan para Rosman.

Di sisinya, tiga han biasa berjaga dengan sikap waspada.

Gadis kecil itu berhenti sejenak, lalu berkata lembut;

“Aku ingin berkeliling ke pertengahan kota. Hatiku rindu belanja—melihat pedagang yang melamun. Jangan terlalu mencemaskanku, aku mohon.”

Tiga han saling pandang, lalu mengikuti langkahnya. Kereta kencana merah muda telah menunggu. Gadis itu naik lebih dulu. Dua han bersiap duduk di bagian belakang, sementara satu lainnya menaiki kuda di depan.

“Op… op… op!”

Gadis itu mengangkat tangan, menghentikan langkah dua han di belakang.

“Kalian di sini saja!”

Mereka terdiam, ragu.

Namun perintah itu tidak ditarik kembali.

Pengendara kuda di depan diberi isyarat untuk langsung berjalan.

Ia menunduk patuh.

Kereta pun melaju—gadis itu pergi hanya dengan satu penjaga dari Bangsa Han.


Perjalanan berlangsung aman dan tenteram. Suara roda beradu dengan batu jalanan, menjadi irama yang menenangkan.


Pasar hampir terjangkau.

Sejak tadi, gadis itu tidak menoleh ke bagian belakang. Di sana tergantung sebuah baju terusan panjang, menyerupai blazer, menjuntai hingga mata kaki. Niatnya sederhana—mengambil pakaian itu untuk menutupi busana yang sedang dikenakan.

Saat tubuhnya berbalik, jari-jarinya hampir menyentuh kain tersebut.

Napasnya tercekat.

Di balik kereta, rosman itu tertidur lelap. Penutup kepalanya telah bergeser—dan sepasang telinga panjang menjulang samar di balik rambut.

“Celaka,” gumamnya nyaris tanpa suara.

“Ada apa, putri?” tanya pengendara kuda dari depan.

“Ada rosman di kereta kita.”

“Apa?” suaranya menegang.

“Bagaimana bisa?”

“Penutup kepalanya terbuka,” jawab sang putri. Suaranya bergetar, panik tertahan.

“Gawat.”

Kereta dihentikan mendadak. Pengendara itu meloncat turun, segera menutup bagian belakang dengan kain tebal. Namun hentakan itu membuat keseimbangan buyar.

Tubuh gadis itu terlempar ke depan. Rosman di belakang ikut tersungkur. Bangku kayu berderit keras.

“Hoi, konyol! Sakit, tahu!”

Suara itu meledak tiba-tiba.

“Kau tidak sehebat Andreas mengendalikan kuda! Bagaimana bisa sebodoh ini, makhluk manja!”

Gadis itu ternganga. Amarahnya bahkan lupa pada nyeri yang menjalar di tubuhnya sendiri.

“Apa katamu?”

Ia bangkit dengan napas tersengal. Hijab di bagian belakang ditarik terbuka sepenuhnya.

Kini jarak mereka nyaris tak ada.

“Kamu?”

Kata itu keluar serentak.

Tatapan mereka terpecah, masing-masing memalingkan wajah. Dien menelan ludah. Gugupnya terasa nyata.

“Maaf,” ucap Dien pelan, hampir tenggelam oleh suara napas sendiri.

“Bagaimana kamu bisa ada di sini?” tanya gadis itu. Nada suaranya melunak tanpa disadari.

“Panggil aku Dien,” sambutnya, masih kaku.

“Aku Er.”

Pandangan Er tertahan pada mata biru Dien—terlalu dekat, terlalu jujur.

“Senang mengenalmu, Er,” jawab Dien. Senyum tipis muncul, kikuk tapi tulus.


Di luar kereta, han penjaga menyapu keadaan sekitar. Debu pasir beterbangan, membuat matanya perih. Ada sesuatu yang tidak beres.

“Putri,” katanya sambil mengusap wajah, “sepertinya ada yang mengikuti kita.”

“Gawat,” ucap Er lirih. “asebel… kedutaan itu memang hanya mengganggu ketentraman.”

“Sekarang bagaimana, putri?” tanya han itu.

“Kamu tetap di sini,” jawab Er tegas.

“Aku akan membawa rosman ini pergi.”

Dien yang kebingungan bertanya,

“Ada apa?”

“Penutup kepalamu terbuka saat kamu tidur,” jelas Er.

“Ada satu asebel yang melihatnya. Sekarang ia memata-matai kita,” wajah Dien menegang.

“Maafkan aku. Aku tidak tahu bisa sampai begini.”

“Keselamatan atas keberadaan rosman adalah prioritas nomor satu kami,” kata Er mantap.

“Dien, kita harus pergi dari kereta ini.”

Kata-kata itu membuat dada Dien menghangat—tersanjung di tengah bahaya.

Angin tiba-tiba berhembus kencang. Debu-debu menusuk mata.

“Sialan,” gumam Er.

“Pakai penutup kepalamu!”

Mereka berlari.

Debu-debu kecil di belakang mereka berputar, menyatu. Dari partikel halus itu terbentuk pusaran angin, lalu wujud yang utuh—tubuh berjubah coklat menutupi seluruh badan.

Faeyis Asebel.

Mata merahnya menyala tajam, menembus cahaya. Han penjaga menggigil hebat, tubuhnya lemas, hingga air seni mengalir tanpa bisa ditahan.

Dien dan Er berlari, langkah berpacu dengan detak jantung. Di belakang, Faeyis Asebel melebur menjadi gumpalan pasir yang bergerak liar—bukan berlari, melainkan meluncur, menyapu tanah dengan kecepatan mengerikan. Pasar yang semula riuh berubah kacau.

Lapak-lapak terguncang saat gelombang pasir melintas. Meja pedagang terbalik. Kain dagangan terseret angin kasar. Beberapa bangunan kecil retak, seakan tanah di bawahnya menolak kehadiran makhluk itu.

Teriakan pecah di mana-mana.

Dien dan Er melompati meja, menghindari keranjang, menerobos celah sempit di antara lapak. Tepung merah terpelanting ke udara, berhamburan seperti kabut darah, memberi warna ganjil pada kepanikan yang memuncak.

Gumpalan pasir itu tidak melambat sedikit pun. Tidak peduli jeritan, tidak peduli kekacauan. Fokusnya hanya satu—mengejar.

Di sekeliling mereka, ketakutan menjalar. Beberapa makhluk pasar membeku, sebagian lain berlari tanpa arah. Ada yang menoleh dengan wajah pucat, bertanya-tanya—mengapa dua anak itu diburu Asebel Tanah.

Para Aibret ikut berhamburan, berlari pontang-panting sambil menggenggam mutiara-mutiara kecil di tangan, seolah benda itu bisa menyelamatkan hidupnya.

Dien dan Er tidak berhenti.

Langkah mereka semakin berat, namun tubuh terus dipaksa bergerak. Di sela napas yang tersengal, suara Er terdengar cepat dan tegang.

“Mereka sangat berbahaya, Dien. Jika ini dibiarkan, bisa memicu perang besar antara han dan asebel.”

Dien menoleh sekilas, masih berlari.

“Asebel itu sebenarnya apa?”

“Makhluk terkuat di dunia ini,” jawab Er tanpa ragu. “Satu asebel setara dengan seribu monster.”

Kata-kata itu menghantam kesadaran Dien.

Ada rasa yang tidak asing—seperti gema dari luka kemarin. Tangannya baru saja pulih dari kehancuran. Rasa sakit itu belum sepenuhnya pergi. Kini, takdir seakan mendorongnya kembali ke hadapan ancaman yang bahkan melampaui monster batu… melampaui seekor naga.

Di belakang mereka, pasir berputar semakin rapat.

Faeyis semakin dekat.

“Er, emangnya kita salah apa?” teriak Dien sambil berlari. “Kenapa dia harus seperti ini hanya karna melihatku tanpa penutup kepala?”

“Dia melihat makhluk baru,” jawab Er cepat.

“Yaitu kamu.”

“Apa… berarti dia ingin menangkapku?”

“Tepat sekali.”

Dien memaki keras di sela napas.

“Sialan… kenapa hidupku bisa sesial ini?”

“Aku juga sial,” balas Er sambil berlari. Nada suaranya malah terdengar kesal bercampur konyol.

Kekonyolan itu tidak membuat keadaan aman. Gumpalan pasir di belakang mereka terus mendekat, semakin rapat, semakin berat tekanannya.

“Sekarang kita harus bagaimana?” teriak Dien, memaksa langkah lebih cepat.

“Eh, dasar pengecut, tungguin!” bentak Er marah—tapi jelas manja.

“Makhluk manja, buruan!” balas Dien.

Jarak makin menyempit.

Tiba-tiba Dien berhenti.

Er masih berlari beberapa langkah sebelum sadar. Ia menoleh ke belakang dengan wajah heran.

“Ayo, rosman aneh!”

“Aku bukan pengecut,” jawab Dien datar.

“Dasar telinga panjang. Kau bodoh sekali,” sembur Er.

“Aku lari karena kamu yang minta. Bukan kemauanku,” jelas Dien tanpa berteriak.

Er menoleh ke sekitar. Pasar sudah jauh tertinggal. Di area ini berdiri beberapa rumah besar berpagar tinggi. Sunyi. Tak satu pun penghuni terlihat.

Er berdiri di belakang Dien.

Di depan mereka, gumpalan pasir melambat, lalu menyatu. Butiran demi butiran mengikat diri, membentuk tubuh utuh. Jubah coklat menjuntai, menyelimuti wujud tinggi itu.

Faeyis Asebel berdiri tegak.

“Kenapa kau mengejarku?” tanya Dien.

“Buka penutup kepalamu,” jawab asebel itu tenang.

“Kau juga menutupi seluruh tubuhmu.”

“Aku asebel,” ucap Faeyis. “Tugasku menjaga penyusup yang akan merusak kerajaan dari dalam. Kami membiarkan perang terjadi di medan perang. Tapi tidak serangan dari dalam.”

“Mulianya niatmu,” balas Dien.

“Semoga itu benar. Tapi batinku bilang kau berbohong.”

Tanpa aba-aba, Dien melesat maju.

Tinju menghantam dada Faeyis.

Mata Er membelalak.

“Kenapa kau memukulnyaaaaa, bodoh?” teriak Er kaget menyaksikan tindakan konyol itu.

Lihat selengkapnya