Novel DT || The Hidden Soul Of Kaz

Hiday atrum
Chapter #8

Mamidobaos

Rumah-rumah di Taman Firdos tampak seperti tumpukan batu dan kristal warna-warni yang diletakkan secara acak, namun tetap estetik. Bahkan, beberapa rumah seluruh bagiannya terbuat dari kristal. Setiap kali cahaya datang, permukaannya memantulkan kilau yang menawan—tanpa panas, tanpa membuat air laut naik ke permukaan.

Andreas melewati rumah-rumah itu dengan langkah cepat. Tas kecil yang ia bawa berayun ke depan dan ke belakang, mengikuti irama jalannya yang nyaris seperti berlari. Ia kemudian melambat ketika melewati sebuah rumah dengan kilau berbeda: bangunan berbahan kristal penuh berwarna magenta. Itu adalah rumah teman Dien, bernama Ailen.

Tepat di halaman rumah Ailen, tumbuh tanaman hias monstera variegata, sama seperti yang dulu Andreas lihat di Hutan Terlarang. Beberapa rumah setelahnya, adalah kediaman Dien.

Rumah itu berwarna cokelat, terbuat dari batu bukit, dan tidak memiliki unsur kristal sama sekali. Perbedaan rumah-rumah di Taman Firdos bukanlah soal kasta, sebab seluruh masyarakat memiliki kekayaan yang sama dan merata. Perbedaan itu semata-mata soal selera.

Keluarga yang benar-benar istimewa di sana mungkin hanya keluarga Madin Wikel, sebab dialah pemimpin Taman Firdos.

Dien tinggal bersama bibi dan pamannya

Aida Kaz11 G316.

Nazer Kaz15 G316.

Serta Sem, sepupunya.

Pagi itu, Andreas datang di waktu yang sangat tepat—tepat ketika Bibi Aida sedang meletakkan hidangan lezat di atas meja makan.

Selain makanan utama, tersaji pula semangka, pisang, dan mamidobaos—camilan yang sangat disukai Dien.

Makanan itu berupa roti gandum kering, berisi jagung, stroberi, dan sari pisang. Di atasnya terdapat taburan kismis dan strawberry, buatan khas sang bibi tersayang—kakak dari ibu kandungnya Dien.

Bibi Aida dan Paman Nazer mengajak Andreas sarapan bersama mereka. Sebuah suasana yang bisa membuat iri siapa pun: menikmati pagi hari bersama keluarga yang saling mencintai.

Selepas sarapan yang menyenangkan sekaligus mengenyangkan, bibi dan paman harus berangkat bekerja—menjalankan tugas mereka sebagai penyihir penjaga di Kerajaan Han Utara. Dien dan Andreas memilih ikut mengantarkan mereka. Sementara itu, Sem—anak kandung Aida—memilih berlatih bersama Vikel di halaman gedung tua.

Benattiu Atland akhirnya datang dan menunggu di depan halaman. Ia adalah pengantar para rosman yang bergantian jam jaga, mengantar kepergian sekaligus kepulangan menuju portal masuk Kerajaan Han. Benattiu Atland menunggangi seekor lipan berbulu putih keemasan, makhluk yang dapat berjalan sangat cepat dan mampu terbang meski tanpa sayap.

Di atas punggung lipan itu, sudah ada rekan Paman Dien, Kaz G320:

Abil Kaz10 dan Adeus Kaz17.

Mereka semua saling berjabat tangan. Bahkan, Bibi Aida memberikan dua Kaz itu camilan mamidobaos.

Lipan itu pun mulai berjalan, lalu perlahan terbang.

Suasana taman di pagi hari terasa sangat menyejukkan—tanpa membuat tubuh menggigil. Terang benderang, tetapi tidak gersang atau panas. Penuh warna-warni, meskipun kebun-kebun dan hutan lebat mengelilingi.


*


Palang menuju Kerajaan Han dijaga oleh dua han dan dua Sulmen. Mereka menjaganya bergantian setiap 12 jam sekali. Pagi ini yang berjaga bernama Marrayem Han dan Sulmen bernama Antielbaskor. 

Dua makhluk berbeda yang dapat bekerja sama dengan baik. Penjaga pagi ini tidak sama dengan penjaga malam itu—saat Dien pergi menyaksikan pertandingan Fiqon beberapa minggu yang lalu.

Marrayem membukakan Portal dengan mantra yang diucapkan di dalam hatinya. Lalu Antielbaskor berkata;

“Jangan pernah membuka penutup kepala kalian, itu akan menyelamatkan kalian selamanya di luar taman,” perkataan itu sama dengan kalimat yang beberapa minggu lalu Dien dengarkan. 

Bibi Aida memeluk Dien

“Anakku… jaga dirimu baik-baik, aku meninggalkan setoples mamidobaos di dalam lemari. Makanlah itu, jika kau merindukanku,” Bibi Aida. 

“Bagaimana bila itu habis, bibi?” tanya Dien. 

“Aku bisa bergantian dengan temanku, untuk pulang dan membuatkan kembali mamidobaos,” jawab bibi dengan senyumnya yang tenang. 

“Aku bisa, menghabiskannya dalam satu jam bibi,” lalu Dien tertawa. 

“Kamu tidak perlu habisin itu satu jam. Itu bisa bertahan lebih dari sepuluh tahun. Karena bahan-bahannya diambil dari tanah taman yang diberkati,” jelas bibi kepada keponakan kesayangannya. 

“Baiklah, aku akan memakannya dengan bersabar. Hati-hati bi, hati-hati paman.”

Dien mencium tangan sang bibi dan pamannya.

Begitu juga Andreas, ia mencium tangan bibi dan pamannya Dien.

Mereka semua melambaikan tangan dan melepaskan senyuman. 

Dien berteriak,

“Kaz, sampaikan salamku kepada paman!”

Paman yang Dien maksud adalah Kazu Marion. 

“Baik Dien,” balas Adeus sambil mengacungkan jempolnya.

Ketika jari jempol itu diacungkan, mata Dien tiba-tiba bersinar.

Penglihatannya yang sangat baik aktif kembali. Seperti waktu itu, ketika ia terkurung di dalam pembatas hutan terlarang.

Dia melihat, istana kerajaan.

Jendelanya yang terbuat dari marjan dan pintu-pintu yang lebar dan panjang, semuanya—termasuk gadis han yang teramat menawan (Putri Er).

Dien menajamkan alisnya dan berkata;

“Perempuan itu, rasanya aku pernah mengenalnya. Tapi dimana?” tanya Dien kepada dirinya sendiri. 

“Dien, kenapa kau termenung?” tanya Andreas yang berada di sebelahnya. 

“Penglihatanku, aktif kembali. Aku melihat Istana Han dari sini, dan di situ ada makhluk paling indah sedunia. Aku merasa mengenalnya. Tapi kapan, dan di mana? Apakah ini mimpi, Andreas?” ucap Dien kepada sahabatnya Andreas. 

“Waah, rosman tidak bermimpi. Tapi mungkin kau beda dari yang lain,” jawab Andreas sambil cengar-cengir. 

Melihat Dien dan Andreas masih di depan portal...

Sulmen bernama Antielbaskor pun mendatangi mereka.

“Wahai dua anak baik, pulanglah! Tidakkah kalian melihat, Benattiu akan berangkat.”

“Yaps, benar sekali Tuan Elbas,” jawab Benattiu ramah dan bersemangat. 

Dien melihat di belakangnya ada bukit yang sejajar dengan portal. Kemudian berkata;

“Wahai Paman Benattiu yang baik, aku dan Andreas ingin pulang jalan kaki saja,” Dien mengatakan itu, karena Dia ingin sekali melihat gadis han itu kembali.

Sembari mengingat, kenapa dia merasa mengenal sosok gadis cantik yang menawan, dari Bangsa Han itu.

Kali ini, dia ingin pindah posisi berdiri, tidak lagi di dekat portal, tapi di area bukit yang sejajar dengan portal menuju Istana Han. 

“Bagaimana Andreas, putra Mas?” tanya Benattiu. 

“Tidak apa paman, aku akan berjalan kaki bersama temanku Dien.”

Andreas teman yang baik.

Ia tahu, Dien pasti ingin melakukan sesuatu yang pasti menarik. Dia bersedia mengikuti Dien dan membantunya meski harus bertaruh raga dan nyawa. 

“Baiklah, semoga hari kalian menyenangkan!” teriak Benattiu, Sambil pergi membawa lipan berbulu putih keemasannya.

Sulmen dan han penjaga, bahagia melihat Benattiu yang selalu bersemangat. 

“Baiklah para penjaga portal yang budiman, kami gerak dulu. Sampai jumpa lagi,” kata Dien kepada dua penjaga itu. 

“Hati-hati anak baik!” seru penjaga portal. 

Mereka pun pergi dari sana.

Portal menuju istana itu seperti bukit.

Terletak di tempat yang tinggi di sebelah utara.

“Andreas, kita akan ke bukit—di depan—bukit selatan,” ujar Dien sambil berjalan turun dari bukit utara. 

“Untuk apa kita ke bukit selatan, wahai guru,” tanya Andreas. 

“Mataku tadi aktif, aku seakan mengenal salah satu han yang aku lihat. Tapi aku lupa di mana,” jawab Dien. 

“Bukankah kita sepakat, itu tidak mungkin mimpi,” kata Andreas sambil jalan menurun. 

“Makanya, aku ingin melihat lagi,” jelas Dien. 

“Kenapa gak di atas saja?” kata Andreas seperti mengeluh, “Ini jauh, kau tahu?”

“Bukankah kau lihat sendiri... secara santun, mereka mengusir kita dari tempat itu,” jelas Dien. 

“Aduh, pura-pura bodoh harusnya; yang penting... urusan kita bisa selesai,” Andreas Atland. 

“Tidak bisa, karena mereka pasti melihat mataku berubah,” jawab Dien. 

“Itu hal biasa, kamu itu rosman,” Balas Andreas. 

“Sudahlah Andreas, ikuti aku saja!” Dien akhirnya lelah membalas semua pernyataan Andreas. Karena kalo dipikir-pikir benar juga. 

Di Tengah jalan, mereka melihat kelompok harimau.

“Dien!” Andreas memanggilnya. 

“Bagaiman kalau kita, naik harimau aja ke bukit selatan?” ia bertanya sambil tersenyum seperti biasanya. 

“Bukankah kamu dilarang mengendarai tunggangan sebelum 19 tahun?” balas Dien berhenti berjalan.

“Jika Madin Wikel tahu, kamu bisa dihukum. Para Rosman menghalalkan hukuman, untuk mereka yang suka melanggar aturan,” sambung Dien. 

“Minta maaf guru, bukit itu terlalu jauh untukku jika berjalan kaki. Kenapa guru agak sedikit bodoh pagi ini?” cetus Andreas.

“Apa kamu sedang jatuh cinta?” sambung Andreas. 

“Aku, aku tidak jatuh cinta. Aku penasaran saja, kenapa… aku merasa pernah melihatnya,” jelas Dien.

Kemudian dua harimau menghampiri mereka.

Andreas tersenyum. 

“Kapan kamu memanggil mereka?” tanya Dien. 

“Sudah naik saja. ‘Tapi?’ ini tugasku sebagai atland, aku tidak peduli hukuman bangsa kalian. Sekarang naiklah! Aku ambil resiko untukmu.”

“Andreas?” ucap Dien. 

“Dien, sejak kapan kau jadi pengecut?” sanggah Andreas buat Dien berhenti bicara. 

Tiada pilihan, Dien dan Andreas menunggangi harimau itu juga.

Lihat selengkapnya