Di rumah kami, makan malam selalu berarti menunggu, setidaknya dalam beberapa bulan terakhir. Menunggu Papa pulang, menunggu Mama berhenti mengomel agar aku membantu di ruang makan, dan menunggu rasa lengkap itu akhirnya datang, meski sering kali hanya singgah sebentar, lalu pergi tanpa pamit.
Malam itu, seperti biasa, Mama sibuk di dapur bersama Bi Ida, menyiapkan hidangan dengan ritme yang sudah mereka hafal di luar kepala. Dari ambang pintu, aku bisa melihat Mama dengan rambut panjangnya yang selalu diikat rendah, beberapa helai terlepas dan menempel di pelipis karena uap masakan. Wajahnya cantik dengan cara yang tenang, bukan mencolok, tetapi hangat dipandang. Di sampingnya, Bi Ida yang bertubuh lebih kecil bergerak lincah, tangannya cekatan meski usianya tak lagi muda.
Sementara itu, aku menata piring, sendok, dan gelas di atas meja makan berbentuk lingkaran sempurna dari kayu jati. Banyak orang bilang rumah kami besar, luas, bahkan terasa mewah. Tetapi bagiku, semuanya tampak biasa saja. Kehangatan rumah ini tidak pernah datang dari ukurannya, melainkan dari hal-hal kecil, dari tawa pelan Mama dan Bi Ida yang saling bersahutan di dapur, dan dari suara televisi yang hampir tak pernah absen, menyiarkan sitcom kesukaan Papa.
Tak lama kemudian, suara mobil Papa terdengar memasuki garasi. Disusul langkah sepatu pantofelnya yang tergesa, tegas, berat, seperti langkah seseorang yang terbiasa ditunggu. Ketika ia masuk, sosoknya langsung memenuhi ruang: tubuhnya tinggi dengan bahu yang lebar, rambutnya tersisir rapi meski sedikit berantakan di bagian depan, dan wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis halus di sekitar mata, jejak kelelahan yang tak pernah benar-benar hilang.
“Aduh… udah setengah jalan nih ya acaranya?” tanyanya padaku sambil melepas sepatu di dekat pintu, lalu buru-buru duduk di sofa menghadap televisi.
Ruang makan kami menyatu dengan ruang TV, tanpa sekat. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat layar sekaligus memerhatikan Papa.
“Iya, Pa. Tadi si Neneng malah naik bajaj bapaknya, padahal bapaknya mau narik,” jelasku, berusaha menceritakan adegan yang terlewat. Papa hanya tersenyum cengengesan, matanya tetap terpaku pada layar.
Bi Ida muncul dari dapur membawa dua piring berisi ayam kari dan sayur lodeh, sementara Mama menyusul dengan bakul stainless berisi nasi yang masih hangat mengepul.
“Pa, ayo duduk di sini dulu. Jangan di sofa, kita makan dulu. Dania udah lapar dari tadi,” ujar Mama sambil menarik kursi.
Tanpa banyak kata, Papa bangkit. Langkahnya melambat saat mendekati meja makan, sesekali menoleh ke arah televisi, seolah enggan benar-benar meninggalkan tayangan itu.
Dengan cekatan, Mama menyendok nasi ke piring Papa. “Bi Ida, ambil lauk sama nasinya ya. Jangan lupa kasih ke Pak Omang juga, pasti capek habis nganterin Bapak.”
“Iya, Bu. Terima kasih,” jawab Bi Ida lembut. “Nanti habis makan dan beres-beres, saya pamit ya, Bu. Besok saya datang lebih pagi.”
“Iya, Bi, makasih ya hari ini.” sahut Mama singkat.
Bi Ida lalu menyiapkan dua piring, mengisinya dengan nasi dan lauk, sebelum berjalan ke depan menghampiri Pak Omang, sopir kami yang bertubuh besar dengan kulit yang menggelap karena sering terpapar matahari. Wajahnya ramah, dengan senyum yang selalu muncul setiap kali kami menyapanya.
Suasana ruang makan kembali seperti biasa. Papa makan sambil sesekali melirik televisi yang tepat menghadap ke arahnya. Aku fokus dengan makananku, sementara Mama juga diam, sibuk dengan piringnya sendiri. Hanya suara sendok yang beradu pelan dengan piring dan suara tawa Papa yang sesekali terdengar.
Beberapa saat kemudian, ketika acara favorit Papa selesai, ia mematikan televisi dengan remote. Ruangan seketika terasa lebih sunyi. Mama yang lebih dulu memecah keheningan.
“Lembur lagi, Pa?”
Papa menjawab tanpa menatapnya, suaranya tetap hangat. “Iya, Ma. Ada rapat dewan yang mendesak. Gara-gara demonstrasi beberapa hari lalu.”
“Rapatnya sampai berhari-hari begitu ya?”
Aku hanya diam, mendengarkan. Nada Mama terdengar biasa saja, tapi aku tahu ada sesuatu yang diselipkan di baliknya—sejenis sindiran halus yang sudah sering kudengar.
“Kebetulan masalahnya memang besar, Sayang,” lanjut Papa. “Kami lagi pusing menghadapi keluhan rakyat yang nggak ada habisnya. Sekarang juga masih diulur dulu, sampai warga dan media agak mereda. Baru nanti keadaan bisa kembali normal.”
Papa akhirnya menatap Mama, menghadirkan senyum yang seolah ingin menenangkan—atau mungkin sekadar meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Di seberangnya, Mama membalas dengan senyum tipis yang cepat menghilang, sebelum kembali menunduk pada piringnya, seakan ada hal-hal yang lebih aman disimpan dalam diam.
Suasana yang sempat menggantung itu perlahan mencair ketika Papa mengalihkan pandangannya kepadaku. Senyumnya berubah hangat, lebih ringan, seperti yang selalu ia tunjukkan setiap kali berbicara denganku.
“Lalu Dania, bagaimana di sekolah tadi?”
Aku mengangkat bahu kecil, memainkan ujung sendok di piringku. “Kayak biasa aja, Pa. Tadi ada kelas kimia di laboratorium. Nggak suka pelajarannya sih… tapi jadi seru kalau ada Harum.”
Nama itu langsung mengundang reaksi. Papa terkekeh pelan, matanya menyipit penuh rasa geli. “Oh, si Harum ya? Awet juga ya kamu temenan sama dia. Setahun, kan? Biasanya kamu nggak pernah cerita soal teman… kecuali yang satu ini.” Ia berhenti sejenak, menatapku lebih dalam, lalu menambahkan dengan nada yang lebih lembut, “Awet-awet ya, Nak. Papa senang kamu akhirnya punya kawan.”
Belum sempat aku menjawab, Mama sudah lebih dulu bangkit dari kursinya. “Tadi siang Harum ke sini, bawain kue jualan ibunya. Masih ada di kulkas,” katanya sambil berjalan ke dapur. “Papa mau coba? Enak, loh.”
Papa dan aku saling pandang, lalu tertawa kecil. “Belum dijawab, udah diambilin aja sama Mama,” celetuknya, setengah menggoda.
Tak lama, Mama kembali dengan sepiring kue tradisional yang tertata rapi. Aroma manisnya langsung memenuhi meja makan, mengusir sisa-sisa ketegangan yang tadi sempat tertinggal. Papa mengambil satu, menggigitnya tanpa ragu, lalu mengangguk-angguk puas.
“Enak banget, ya,” ujarnya dengan mulut masih setengah penuh.
Mama menggeleng sambil tertawa kecil. “Pa… nasinya belum habis, tapi udah makan kue. Habisin dulu nasinya.”