Pagi itu datang tanpa tanda apa pun. Tidak ada yang berubah, setidaknya dari luar. Cahaya matahari masuk melalui jendela ruang makan, jatuh lembut di atas meja kayu jati yang sama seperti malam sebelumnya. Uap tipis dari ubi rebus mengepul pelan, bercampur dengan aroma telur dan ayam rebusan buatan Bi Ida yang sederhana, hampir hambar. Semua tampak… biasa saja.
Mama sudah duduk rapi di kursinya. Rambutnya kembali terikat rendah seperti biasa, tak ada satu helai pun yang terlepas. Wajahnya tenang, terlalu tenang seperti permukaan air yang tidak menunjukkan apa pun yang terjadi di bawahnya. Di seberangnya, Papa sibuk dengan piringnya. Kemejanya sudah licin disetrika, tapi kali ini tanpa dasi. Kerahnya terbuka sedikit, memperlihatkan garis leher yang tampak lebih lelah dari biasanya.
Aku duduk di tempatku, mengupas telur rebus tanpa benar-benar memperhatikan apa yang kulakukan. Kulit telur itu retak pelan di ujung jariku, serpihannya jatuh ke piring tanpa suara. Mataku sesekali terangkat. Memperhatikan. Menunggu. Namun tidak ada yang berbeda.
“Papa hari ini nggak pakai dasi?” suara Mama akhirnya terdengar, ringan, seperti obrolan pagi pada umumnya.
Papa menggeleng kecil tanpa mengangkat kepala. “Nggak, Ma. Hari ini cuma turun ke lapangan. Ngecek proyek pemda.”
Mama mengangguk pelan. “Oh…”
Lalu hening kembali turun, tipis tapi terasa.
Sendok beradu dengan piring. Kursi bergeser sedikit. Hal-hal kecil yang biasanya tak pernah benar-benar terdengar, kini terasa terlalu jelas.
Aku menggigit ubi rebus di tanganku. Rasanya hambar, atau mungkin lidahku saja yang belum benar-benar sadar. Pikiranku masih tertinggal di semalam, di balik dinding, di balik suara yang tak pernah benar-benar ingin kudengar.
Tapi di sini tidak ada apa-apa. Tidak ada suara meninggi. Tidak ada tatapan tajam. Tidak ada jejak dari sesuatu yang sempat pecah. Justru itu yang membuat semuanya terasa janggal.
Aku menatap mereka lagi. Mama menyendok nasi dengan gerakan yang sama seperti biasanya. Papa mengunyah perlahan, sesekali meneguk air. Tidak ada yang saling menghindar, tapi juga tidak ada yang benar-benar saling melihat. Seolah-olah semalam tidak pernah terjadi.
Dadaku terasa sesak. Pelan-pelan aku membuka mulut, sebelum sempat berpikir panjang.
“Ma… Pa…”
Keduanya langsung menoleh.
Papa mengangkat alis sedikit. “Hm?” Tatapan itu jatuh tepat ke arahku. Bersamaan. Menunggu.
Dan tiba-tiba, semua yang tadi terasa ingin keluar… menghilang begitu saja. Kata-katanya berhenti di tenggorokan.
Jantungku berdetak lebih cepat. Aku ingin bertanya. Tentang semalam. Tentang suara itu. Tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu yang tidak jadi kubuka. Tapi di saat yang sama, ada sesuatu yang menahanku. Sesuatu yang berbisik, ‘kalau kamu tahu… kamu nggak bisa pura-pura nggak tahu lagi.’
Aku menelan ludah. Menurunkan pandangan. “Nanti aku naik ojek online aja ya,” akhirnya keluar juga, pelan. “Biar nggak kejebak macet.”
Hening sesaat. Singkat, tapi cukup terasa.
“Oh, iya, Nak. Nggak apa-apa,” jawab Papa cepat, hampir terlalu cepat. “Udah pesen?”
Aku mengangguk tanpa menatapnya. Di sudut mataku, aku melihat Mama kembali ke piringnya. Gerakannya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang terasa… dilepaskan. Seperti napas yang sejak tadi ditahan.
Aku kembali menunduk, mengupas sisa kulit telur yang sudah tak berbentuk. Jari-jariku bergerak tanpa arah, menghancurkan serpihan kecil itu menjadi lebih kecil lagi.
Suara sendok kembali terdengar. Percakapan berlanjut, ringan, biasa, tentang jadwal, tentang kerjaan, tentang hal-hal yang tidak penting. Dan aku duduk di sana, di antara mereka, merasa lebih jauh dari biasanya.
Angin pagi menyapu pelan wajahku saat motor melaju membelah jalanan yang mulai ramai. Aku duduk di belakang, memeluk tas di pangkuan, membiarkan pandanganku mengikuti deretan ruko, lampu merah, dan orang-orang yang berlalu begitu saja, seolah masing-masing dari mereka punya tujuan yang lebih jelas daripada yang kupunya pagi ini.
Helm yang kupakai sedikit kebesaran, membuat suaraku teredam bahkan untuk diriku sendiri. Dunia terasa jauh, seperti dipisahkan oleh lapisan tipis yang membuat semuanya terdengar samar.
Aku menyandarkan tubuh sedikit ke belakang. Mencoba mengosongkan kepala. Tapi, seperti biasa, pikiranku tidak pernah benar-benar kosong. Kenangan datang tanpa diminta. Tentang masa-masa yang sudah lama berlalu, tapi anehnya masih terasa dekat.
Dulu, waktu SD… aku tidak pernah benar-benar punya teman. Bukan karena aku tidak mau. Tapi karena entah bagaimana, aku selalu berada di luar lingkaran. Anak-anak lain punya kelompoknya masing-masing. Berbisik, tertawa, saling memanggil dengan akrab. Sementara aku… hanya ada di sana. Ikut duduk, ikut mendengar, tapi tidak pernah benar-benar diajak masuk. Kadang aku mencoba mendekat. Duduk di antara mereka. Tersenyum saat mereka tertawa. Tapi selalu ada jarak yang tidak terlihat, yang entah kenapa tidak pernah bisa kulewati.
SMP tidak jauh berbeda. Hanya bentuknya saja yang berubah. Tatapan yang lebih lama. Bisikan yang lebih pelan. Tawa yang berhenti begitu aku mendekat. Dan yang paling menyakitkan, aku tidak pernah benar-benar tahu alasannya. Apa aku terlalu aneh? Terlalu diam? Atau… memang ada sesuatu dari diriku yang membuat orang lain tidak nyaman? Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar terjawab.
Tapi perlahan, aku berhenti mencoba. Berhenti bertanya. Berhenti berharap. Aku belajar untuk cukup dengan diriku sendiri. Dan mungkin… dari situlah semuanya bermula.
Hubunganku dengan rumah pun tidak pernah benar-benar terasa dekat.
Mama selalu ada. Selalu memastikan aku makan, sekolah, berpakaian rapi. Suaranya tegas, langkahnya cepat, tangannya selalu sibuk, entah di dapur, entah di butik yang ia bangun dari nol. Ia tidak pernah kejam. Tidak pernah benar-benar menyakitiku. Tapi… aku juga tidak pernah benar-benar dimanja. Tidak ada pelukan tanpa alasan. Tidak ada kata-kata lembut yang tinggal lebih lama dari yang seharusnya. Segalanya cukup. Tapi tidak pernah lebih.
Papa berbeda. Setiap kali ia punya waktu, semuanya terasa seperti hadiah. Ia akan mengajakku pergi, membelikanku sesuatu, atau sekadar mengajakku makan di luar. Senyumnya hangat, caranya berbicara selalu ringan, seolah dunia ini tidak pernah terlalu berat untuk dihadapi. Tapi waktu itu… jarang. Terlalu jarang untuk benar-benar membangun sesuatu yang utuh. Karena lebih sering dari tidak, Papa hanya hadir sebagai jeda, bukan bagian dari keseharian.
Dan di antara itu semua, aku tumbuh. Di rumah yang lengkap. Dengan orang tua yang baik. Tapi entah kenapa… selalu terasa ada jarak yang tidak pernah benar-benar hilang.
Motor berhenti di lampu merah. Aku menatap pantulan diriku di kaca spion kecil di depan. Wajahku tertutup helm, tapi mataku tetap terlihat. Diam. Menahan sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak sepenuhnya mengerti.
Mungkin itu sebabnya… aku tidak pernah benar-benar bisa bertanya. Tentang semalam. Tentang suara yang kudengar. Tentang sesuatu yang terasa retak, tapi tidak pernah diakui. Karena di rumah kami, ada hal-hal yang tidak pernah dibicarakan. Dan aku… sudah terlalu lama belajar untuk tidak menanyakannya.
Gerbang sekolah sudah terlihat dari kejauhan saat motor yang kutumpangi melambat. Deretan siswa berseragam putih abu memenuhi halaman depan. Sebagian tertawa, sebagian berjalan tergesa, sebagian lagi hanya berdiri sambil memainkan ponsel. Suasana yang sama seperti hari-hari lainnya.
Aku turun dari ojek, mengucapkan terima kasih singkat, lalu melepas helm. Begitu helm terangkat, rambutku langsung jatuh berantakan. Helaian yang tadi pagi kucatok dengan susah payah kini kehilangan bentuknya. Ujung-ujungnya masih sedikit melengkung, tapi tidak lagi rapi. Beberapa bagian malah mengembang tak beraturan, ditiup angin sepanjang perjalanan.
Aku menyelipkan rambut ke belakang telinga, mencoba merapikannya dengan tangan, meski tahu itu percuma.
“Dania!”
Suara itu langsung membuatku menoleh.
Harum berdiri tak jauh dari gerbang, melambai ke arahku dengan senyum lebar. Rambut ikalnya yang sebahu bergerak ringan mengikuti langkahnya saat ia berlari kecil mendekat, tidak pernah benar-benar rapi, tapi justru terlihat pas dengan dirinya.
“Kamu dari tadi aku tungguin,” katanya, sedikit terengah, tapi tetap ceria seperti biasa.
Aku tersenyum kecil. “Maaf, agak telat dikit.”
Harum mengamati wajahku sebentar, lalu matanya turun ke rambutku. “Rambutmu tadi dicatok, ya?”
Aku menghela napas pelan, refleks meraba ujung rambutku yang sudah tak berbentuk. “Iya… tapi kalah sama angin.”
Harum tertawa ringan. “Masih bagus kok. Lebih natural malah.”
Aku hanya mengangguk, meski dalam hati tidak benar-benar peduli.
Kami berjalan berdampingan memasuki area sekolah. Rok abu-abu kami yang selutut bergerak pelan mengikuti langkah, sepatu hitam menggesek lantai dengan ritme yang sama. Di antara keramaian, kami terlihat seperti dua orang biasa. Tidak mencolok, tidak juga benar-benar hilang.