NOWHERE

Dewi Anggraeni (Brownieck)
Chapter #3

Yang Tidak Terlihat

Rumah tidak lagi berbunyi seperti rumah. Tidak ada suara televisi yang biasanya menyala sejak pagi, tidak ada percakapan ringan yang mengisi sela-sela waktu. Hanya langkah kaki yang terdengar seperlunya, pintu yang dibuka dan ditutup tanpa suara keras, dan sendok yang diletakkan terlalu hati-hati seolah takut mengganggu sesuatu yang tak terlihat.

Mama dan Papa masih berada di ruang yang sama, tapi tidak pernah benar-benar bersama. Jika Mama berjalan ke dapur, Papa akan memilih diam di ruang tamu. Jika Papa berbicara, suaranya diarahkan pada hal-hal yang tidak membutuhkan jawaban. Kalimat-kalimat pendek yang terdengar biasa, tapi terasa dingin, seperti sesuatu yang sengaja dijaga agar tidak melebar.

Aku duduk di antara mereka saat sarapan, menatap piringku lebih lama dari biasanya. Uap dari teh hangat naik perlahan, tapi tidak cukup untuk menghangatkan apa pun. Tidak ada yang menyinggung malam itu. Tidak ada yang mencoba memperbaiki. Seolah-olah dengan diam, semuanya bisa kembali seperti semula.

Dan aku… memilih percaya itu.

Memilih mengunyah perlahan, menelan tanpa rasa, dan berpura-pura bahwa semua ini hanya jeda. Bahwa nanti malam, atau besok, atau entah kapan semuanya akan kembali seperti dulu.

Saat keluar rumah, udara pagi terasa lebih lega daripada di dalam. Aku berdiri di depan gerbang, menunggu ojek online yang sudah kupesan. Tanganku memegang ponsel, tapi pandanganku kosong, tidak benar-benar membaca apa pun di layar. Lalu suara mesin mobil terdengar.

Aku menoleh.

Mobil Mama keluar dari garasi, bergerak pelan melewati depan rumah. Kaca jendelanya tertutup, wajahnya tidak terlihat jelas. Tapi entah kenapa, ada sesuatu dari cara mobil itu melaju—tidak terburu-buru, tapi juga tidak ragu, yang membuat dadaku terasa tidak nyaman.

Perasaan itu datang begitu saja. Tanpa alasan yang jelas. Tapi cukup kuat untuk membuatku tidak bisa diam.

Ojek yang kutunggu sudah datang. Aku naik tanpa banyak bicara, lalu sebelum sempat berpikir lebih jauh, aku menyebutkan arah yang berbeda dari biasanya.

“Mas… bisa ikutin mobil itu nggak?”

Pengemudinya sempat menoleh lewat spion, ragu sejenak, lalu mengangguk pelan. Motor kembali melaju, mengikuti mobil Mama yang sudah lebih dulu berbelok di ujung jalan.

Aku menggenggam tas di pangkuanku lebih erat. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, seolah aku tahu sesuatu yang tidak ingin aku ketahui. Jalanan pagi terasa lebih panjang, setiap lampu merah seperti memperlambat segalanya. Mobil itu tetap di depan, tidak terlalu jauh, tapi cukup untuk membuatku takut kehilangannya.

Kami berhenti di sebuah gedung yang asing. Tidak terlalu besar. Tidak terlalu ramai. Tapi cukup resmi. Tulisan di depannya terlihat jelas saat aku turun dari motor.

Pengadilan Agama.

Langkahku terasa berat saat melihat Mama memarkirkan mobilnya. Ia mematikan mesin, lalu duduk sebentar di dalam, seperti mengumpulkan sesuatu yang tersisa. Setelah itu, ia keluar, membawa map berwarna coklat di tangannya. Tebal. Penuh.

Aku tidak ingat bagaimana kakiku mulai bergerak. Tahu-tahu aku sudah berdiri di depannya.

“Ma…”

Suara itu keluar lebih kecil dari yang kuharapkan.

Mama terkejut. Jelas. Matanya membesar sesaat sebelum berubah menjadi sesuatu yang lebih sulit dibaca.

“Dania?”

Aku menatap map di tangannya, lalu kembali ke wajahnya. Napasku terasa pendek. “Jangan,” kata itu keluar tanpa rencana. Tanpa susunan yang jelas. Hanya satu kata yang terasa cukup untuk mewakili semuanya. “Jangan, Ma…” suaraku mulai bergetar. “Jangan ke sini.”

Mama tidak langsung menjawab. Tangannya yang memegang map itu sedikit mengencang, lalu perlahan melemah. Ia menatapku lama, seperti mencoba mencari sesuatu di wajahku.

“Aku nggak mau,” lanjutku, lebih cepat sekarang. “Aku nggak mau kita kayak gini. Kita bisa… kita bisa baik-baik lagi, kan?” Kata-kataku saling bertabrakan, tidak rapi, tapi aku tidak peduli. Yang penting keluar. Yang penting Mama berhenti. “Aku nggak mau punya keluarga kayak gini…” Kalimat itu menggantung. Ada sesuatu di dalamnya yang bahkan aku sendiri tidak berani selesaikan.

Mama menarik napas panjang. Dalam. Lalu menghembuskannya perlahan, seperti seseorang yang sedang mencoba tetap berdiri di tempat yang goyah.

“Dania…” suaranya lembut, tapi tidak goyah. “Kamu sudah cukup besar untuk ngerti.”

Aku menggeleng cepat. “Nggak, aku nggak ngerti. Aku nggak mau ngerti.” Air mataku mulai jatuh, tanpa bisa kutahan.

Mama menatapku, dan untuk sesaat, aku melihat sesuatu di matanya, lelah yang terlalu lama, luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

“Mama juga punya hak buat milih,” katanya pelan. “Mama juga capek.”

Kalimat itu tidak keras. Tidak memaksa. Tapi justru itu yang membuatnya terasa lebih berat.

Aku membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu lagi, memohon lagi, tapi tidak ada yang keluar. Semua kata yang tadi berdesakan tiba-tiba hilang, menyisakan ruang kosong yang terlalu luas di dalam dadaku. Tanganku yang tadi ingin meraih Mama perlahan turun. Lemah. Tidak ada lagi yang bisa kupegang. Mama tidak mendekat. Tidak juga pergi. Ia hanya berdiri di sana, memegang map itu, dengan jarak yang tidak bisa lagi kujangkau.

Aku mundur satu langkah. Lalu satu lagi. Air mataku masih jatuh, tapi tidak lagi terasa panas. Hanya dingin. Aku berbalik sebelum semuanya terasa semakin nyata. Kembali ke arah motor yang sejak tadi menunggu. Kakiku terasa ringan, tapi bukan karena tidak ada beban, melainkan karena aku sudah tidak tahu lagi harus membawa apa.

“Sekolah, ya, kak?” tanya pengemudi itu pelan.

Aku mengangguk.

Motor kembali melaju. Jalanan pagi tetap sama. Ramai, bising, penuh orang yang berjalan ke arah tujuan masing-masing. Aku duduk diam di belakang, menatap lurus ke depan tanpa benar-benar melihat. Tidak peduli jika aku terlambat. Tidak peduli jika ada yang menunggu. Karena untuk pertama kalinya, aku merasa… tidak ada tempat yang benar-benar harus kutuju.


Pintu kelas terbuka sedikit lebih keras dari biasanya saat aku mendorongnya. Engselnya berdecit, memotong suara spidol yang bergerak di papan. Beberapa kepala langsung menoleh, termasuk Bu Devi yang berdiri di depan dengan punggung tegak dan tatapan yang langsung mengunci ke arahku.

“Maaf, Bu… saya terlambat,” kataku pelan, pandanganku jatuh ke lantai.

Tidak ada jawaban langsung. Hanya tatapan yang ditahan beberapa detik terlalu lama, cukup untuk membuat seluruh kelas ikut diam.

“Tiga puluh menit,” ucapnya akhirnya, suaranya datar. “Ini yang terakhir.”

Aku mengangguk.

“Duduk.”

Aku melangkah masuk, melewati lorong di antara meja-meja yang tersusun rapi, empat sap ke samping, memanjang ke belakang. Ruang itu terasa lebih sempit dari biasanya. Setiap langkahku seperti terdengar terlalu jelas.

Bangku di sap kedua paling depan sudah menunggu. Harum duduk di sebelah kiri, tubuhnya sedikit condong ke depan, tangannya bergerak cepat menulis. Ia melirik sekilas saat aku duduk, alisnya sedikit terangkat, lalu kembali ke bukunya tanpa bertanya.

Aku menarik kursi pelan. Bunyi gesekannya tetap terdengar. Tas kutaruh di samping. Aku duduk. Di depanku, papan tulis penuh tulisan. Garis-garis penjelasan bercabang, istilah-istilah yang terasa asing meski seharusnya tidak.

Bu Devi kembali berbicara, seolah tidak ada yang baru saja terjadi.

Aku membuka buku.

Kosong.

Halamannya terlalu bersih, terlalu putih. Ujung jariku berhenti di sana, tidak tahu harus mulai dari mana.

Di sampingku, pena Harum terus bergerak. Di baris belakang, beberapa kursi berderit pelan. Di depan, spidol kembali bergesekan dengan papan, mengeluarkan suara tipis yang terasa tajam di telinga.

Aku menatap lurus ke depan. Tapi pikiranku tidak di sana. Ia masih tertinggal di tempat lain, di halaman gedung itu, di tangan Mama yang menggenggam map, di sesuatu yang tidak bisa kutarik kembali.

Lihat selengkapnya