Lorong pengadilan itu dingin dengan cara yang tidak bisa dijelaskan. Bukan karena udara, tapi karena tidak ada satu pun yang terasa seperti tempat yang seharusnya aku pijak. Aku duduk di deretan kursi plastik berwarna pucat, agak menjauh dari Mama dan Papa, cukup jauh untuk tidak ikut dalam percakapan mereka, tapi cukup dekat untuk tetap mendengar potongan-potongan suara yang tidak benar-benar ingin kudengar. Di tubuhku, baju bebas yang kupilih terburu-buru pagi tadi terasa asing. Blus tipis berwarna krem dengan lengan sedikit menggantung, dipadukan dengan celana panjang hitam yang terlalu rapi untuk hari yang berantakan seperti ini. Rambutku yang biasanya kucatok rapi kini mulai kehilangan bentuknya, bagian ujungnya kembali melengkung tak beraturan, seolah lelah dipaksa lurus. Beberapa helai jatuh ke wajahku, menempel di pelipis yang lembap, tapi aku tidak punya tenaga untuk merapikannya.
Di seberang sana, Mama duduk tegak dengan map tebal di pangkuannya. Tangannya bergerak cepat, membuka lembar demi lembar, sesekali menandai sesuatu dengan ujung jarinya, seolah semua ini hanyalah urusan yang harus diselesaikan, rapi, jelas, tanpa celah. Wajahnya tidak lagi menyimpan sisa keraguan yang pernah kulihat semalam. Tidak ada air mata, tidak ada suara meninggi. Hanya garis tegas di rahangnya dan sorot mata yang tidak lagi mencari siapa pun. Bahkan tidak ke arahku. Sesekali seseorang berbicara padanya—mungkin pengacara, mungkin petugas—dan Mama menjawab singkat, datar, tanpa jeda yang berarti. Tidak ada ruang untuk hal lain.
Papa duduk tidak jauh darinya, tapi rasanya seperti berada di dunia yang berbeda. Tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya bertaut di depan, jemarinya saling menekan tanpa ritme. Matanya tidak benar-benar fokus ke mana pun. Kadang ke lantai, kadang ke dinding, kadang ke orang yang lewat tanpa benar-benar melihat. Ia tidak bicara. Tidak mencoba mendekat. Tidak juga menjauh. Hanya diam, seperti seseorang yang sudah kehabisan sesuatu bahkan sebelum sempat mempertahankannya.
Aku menarik napas pelan, menatap ujung sepatuku sendiri. Sepatu yang seharusnya kupakai ke sekolah pagi ini. Harusnya sekarang aku duduk di kelas, mendengarkan guru menjelaskan sesuatu yang mungkin tidak akan kuingat, menertawakan hal kecil bersama Harum, meskipun kami masih agak canggung karena kejadian tempo hari, atau sekadar mengeluh tentang tugas yang belum selesai. Hal-hal sederhana yang tiba-tiba terasa begitu jauh, seolah milik orang lain.
Suara langkah kaki bergema di lorong. Pintu di ujung terbuka dan tertutup silih berganti, memperlihatkan sekilas dunia lain di luar sana. Orang-orang dengan urusan masing-masing, percakapan ringan, tawa kecil yang terdengar terlalu hidup untuk tempat seperti ini. Untuk sesaat, aku menoleh ke arah pintu itu. Jaraknya tidak terlalu jauh. Cukup beberapa langkah. Aku bisa berdiri, berjalan keluar, dan meninggalkan semuanya di belakang.
Tapi aku tidak bergerak.
Di antara suara kertas yang dibalik, bisikan percakapan, dan langkah kaki yang berlalu, aku tetap duduk di tempatku. Tidak dipanggil, tidak diajak, tidak benar-benar dibutuhkan. Hanya ada, di tengah sesuatu yang seharusnya menjadi urusan orang lain, tapi entah bagaimana tetap menyeretku ke dalamnya.
Mama menutup mapnya dengan satu gerakan pasti. Suara kecil itu terdengar lebih keras dari seharusnya. Papa sedikit mengangkat kepala, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak pernah benar-benar melakukannya. Tidak ada yang saling menatap. Tidak ada yang mencoba lagi.
Dan di detik itu, dengan jarak yang tidak pernah sejauh ini meski kami duduk dalam ruangan yang sama, aku akhirnya mengerti. Perpisahan tidak selalu dimulai saat seseorang pergi. Kadang, semuanya sudah selesai… bahkan sebelum benar-benar berakhir.
Beberapa minggu setelah hari itu, rumah tidak benar-benar berubah, hanya terasa lebih sunyi dengan cara yang sulit dijelaskan. Pintu tetap terbuka dan tertutup seperti biasa, suara langkah masih terdengar di pagi dan malam hari, tapi tidak ada yang benar-benar saling menunggu. Aku lebih sering menghabiskan waktu di kamar, duduk di depan meja dengan buku terbuka yang tidak pernah benar-benar kubaca, atau sekadar berbaring sambil menatap langit-langit sampai pikiranku lelah sendiri.
Di sekolah, aku masih duduk di tempat yang sama—di samping Harum. Ia masih bercerita seperti biasa, tentang hal-hal kecil yang dulu selalu membuatku tertawa. Aku tetap menoleh, tetap mendengarkan, bahkan sesekali menjawab. Tapi ada jeda yang tidak pernah ada sebelumnya. Tawa yang datang sedikit terlambat. Jawaban yang terasa lebih pendek. Kadang aku hanya mengangguk, membiarkan ceritanya berlalu tanpa benar-benar masuk.
Harum sempat menatapku lebih lama dari biasanya, seolah mencari sesuatu di wajahku yang tidak ia temukan. Aku tahu itu. Tapi setiap kali ia hampir mengatakan sesuatu, aku lebih dulu mengalihkan pandangan ke buku, ke jendela, ke apa saja yang bisa kupakai untuk tidak menjelaskan apa pun.
Beberapa hari pertama, semuanya masih terasa bisa dijalani seperti itu. Duduk, pulang, diam. Mengulang. Sampai akhirnya diam mulai terasa lebih berat daripada salah.
Entah sejak kapan, aku mulai tidak betah berlama-lama di satu tempat. Jam istirahat terasa terlalu sunyi jika hanya dihabiskan di bangku sendiri. Aku mulai berdiri lebih cepat, berjalan tanpa benar-benar tahu ke mana, lalu berhenti di tempat-tempat yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan untuk didatangi. Meja-meja yang dulu terasa jauh, kini tidak lagi terasa asing.
Aku masih bersama Harum. Tapi tidak selalu.
Kadang aku tertawa bersama orang lain, sedikit lebih keras dari yang seharusnya. Kadang aku ikut dalam percakapan yang tidak benar-benar kupahami, hanya agar tetap berada di dalamnya. Ketika seseorang menyelaku, aku tidak lagi diam. Kata-kata keluar lebih cepat, nadanya sedikit lebih tajam, cukup untuk membuat orang lain berhenti sejenak sebelum kembali seperti biasa.
Di sela-sela itu, tanganku sering bergerak sendiri, merapikan rambut yang mulai kehilangan bentuknya, menarik ujung rok agar jatuh dengan cara yang lebih pas, memastikan aku terlihat… cukup.
Cukup untuk diperhatikan. Cukup untuk tidak dilupakan.
Aku tidak pernah benar-benar mengatakan itu pada siapa pun. Tapi setiap kali aku berhenti bergerak, berhenti bicara, berhenti tertawa perasaan itu datang lagi. Seolah jika aku diam terlalu lama, aku akan benar-benar menghilang.
Harum masih datang seperti biasa—menarik kursi di sampingku tanpa diminta, membuka kotak makan dengan cerita yang sudah siap keluar sebelum tutupnya benar-benar terangkat. Rambut ikalnya sedikit mengembang karena udara siang, jatuh apa adanya di bahunya, dan ia tidak pernah terlihat peduli. Ia tertawa saat bercerita tentang hal-hal kecil. Ibunya yang salah menghitung uang kembalian, bapaknya yang pulang lebih awal lalu memaksa semua orang makan bersama, hal-hal sederhana yang dulu akan kutanggapi dengan tawa yang sama. Sekarang, aku hanya mendengarkan dengan jeda yang terlalu panjang. Sendokku berhenti di tengah jalan, mataku masih ke arahnya, tapi pikiranku seperti berdiri sedikit lebih jauh.
“Bapakku tadi pagi ribut gara-gara kompor lagi rusak,” katanya sambil tertawa kecil, seolah itu hal yang lucu untuk diingat. Aku mengangguk pelan, menarik sudut bibir yang terasa kaku. Di kepalaku, bayangan lain muncul tanpa diminta. Meja makan yang terlalu rapi, kursi yang jarang terisi lengkap, suara yang tidak pernah benar-benar kembali. Aku menunduk, mengaduk nasi di kotak makan tanpa benar-benar mengambilnya.
“Kamu nggak makan?” tanya Harum lagi, nadanya masih sama. Ringan, tanpa curiga.
“Lagi nggak lapar,” jawabku singkat. Terlalu cepat.
Ia mengangguk, lalu kembali bercerita, seolah tidak ingin membuatku tidak nyaman. Tapi kali ini, aku yang lebih dulu memotong. “Seru ya,” kataku pelan, tanpa benar-benar menatapnya. “Bisa ribut soal hal-hal kayak gitu.”
Harum berhenti sebentar. Tawa di wajahnya tidak langsung hilang, tapi juga tidak kembali seperti tadi. “Maksudnya?”
Aku mengangkat bahu kecil, pura-pura sibuk merapikan sendok. “Nggak apa-apa.”
Hening datang sebentar di antara kami. Tidak lama, tapi cukup untuk terasa. Harum menatapku lagi, lebih hati-hati kali ini, seperti mencoba menyusun kata yang tidak akan salah. Aku tahu tatapan itu. Tatapan yang sama setiap kali ia merasa ada sesuatu yang tidak kubagi. Tapi seperti biasa, aku lebih dulu menghindar. Pandanganku beralih ke halaman sekolah, ke orang-orang yang lalu-lalang, ke apa saja yang bukan dirinya.
Ia tetap di situ. Tidak pergi, tidak memaksa. Hanya diam lebih lama dari biasanya, sebelum akhirnya kembali membuka pembicaraan lain, lebih ringan, lebih aman. Aku mengangguk di tempat yang tepat, tersenyum di saat yang seharusnya, tapi semuanya terasa seperti mengikuti ritme yang bukan lagi milikku.
Di antara suaranya yang tetap hangat dan keheningan yang mulai tumbuh di dalamku, ada sesuatu yang perlahan berubah bentuk. Bukan karena ia melakukan kesalahan, tapi karena aku tidak lagi tahu bagaimana harus berada di dekatnya tanpa merasa ada yang hilang.
Ia tidak berubah. Tapi aku tidak lagi bisa mendengarnya dengan cara yang sama.