Di kantor, listing rumah di Jalan Kenanga Nomor 9 lebih sering disebut Nomor 9 saja. Tidak ada agen yang mau menyentuhnya.
“Serius, Bu Ratna? Nomor 9?”
Galih meletakkan map itu di atas meja dengan hati-hati, seolah-olah di dalamnya ada sesuatu yang berbahaya dan bisa melukainya.
“Itu listing yang bikin Pak Yudha resign karena stres, kan?”
“Pak Yudha resign karena ikut istrinya pindah ke Semarang.” Bu Ratna tetap menatap layar komputer. “Sama karena delapan bulan nggak closing satu rumah pun.”
“Ya karena satu-satunya listing dia Nomor 9.”
“Karena dia nggak usaha.”
Bu Ratna akhirnya mengangkat wajah.
“Pemilik rumahnya tinggal di luar negeri. Semua urusan sudah diserahkan ke kantor, termasuk satu set kunci yang nggak pernah ada agen mau bawa pulang.”
Dia mendorong sebuah amplop cokelat ke arah Galih. Bunyi kunci terdengar dari dalamnya.
“Saya kasih ini ke kamu bukan karena saya sayang. Saya kasih karena nggak ada yang mau ambil.” Bu Ratna menatapnya sebentar. “Dan karena kamu kayaknya lagi butuh uang.”
Galih tidak menjawab. Dibilang sedang butuh uang rasanya terlalu sederhana untuk menjelaskan keadaannya sekarang. Dua tahun lalu, Galih ikut menanam modal di proyek ruko yang kelihatannya tidak mungkin gagal. Lokasinya bagus, harga sewanya tinggi, dan developernya bicara seperti semua hal sudah pasti berhasil. Enam bulan kemudian, developernya kabur ke luar negeri. Yang tertinggal hanya pondasi setengah jadi dan cicilan Galih yang masih harus dibayar penuh. Uang untuk ikut proyek itu dia pinjam dari Pak Daud.
Pak Daud bukan tipe orang yang menelepon sambil marah-marah menagih utang. Dia jauh lebih tenang dari itu. Biasanya dia mengirim makanan lebih dulu. Setelah makanan sampai, baru dia menelepon untuk menanyakan kabar. Tiga hari lalu, Pak Daud mengirim satu kotak martabak. Lima menit kemudian, dia menelepon Galih, bertanya soal ibunya di kampung, lalu menyebut nama sekolah keponakan Galih dengan lengkap. Setelah itu dia berkata dengan nada santai, seperti sedang menawarkan teh.
“Saya orangnya sabar, Lih. Tapi sabar juga ada batas waktunya.”
Galih diberi waktu satu bulan. Kalau lewat dari itu, kata Pak Daud, mereka akan mencari cara lain yang lebih kreatif. Galih tidak bertanya apa maksudnya. Dia cukup mengenal Pak Daud untuk tahu bahwa kata kreatif bukan kabar baik.
Galih membuka map Nomor 9. Di pojok kanan atas ada angka perkiraan komisi kalau rumah itu berhasil terjual. Jumlahnya hampir sama dengan seluruh utangnya kepada Pak Daud, bahkan masih ada sisa untuk Galih berpikir bisa makan enak setiap hari.
Galih tidak percaya hantu. Tapi dia percaya angka.
“Saya ambil,” katanya.
Bu Ratna memandanginya lama, seperti seseorang yang tahu persis risiko di depan mata tapi sudah terlalu sering melihat orang tetap melangkah ke sana. Ada sedikit kelelahan di wajahnya, seolah ia sudah siap mendengar cerita buruk berikutnya tentang rumah itu, apa pun yang nanti akan Galih alami.
“Baca dulu catatan agen sebelumnya.”
Galih membaca catatan itu malam harinya, sekitar pukul sebelas. Setelah itu dia tidak bisa tidur. Ada tulisan tangan dari empat agen berbeda. Tulisan di bagian awal masih rapi, tetapi semakin ke belakang semakin terburu-buru.
Survei dibatalkan. Klien pusing dan muntah setelah masuk kamar tengah.
Klien mendengar suara anak kecil berlari di atas plafon, padahal rumah hanya satu lantai.
JANGAN pernah tinggalkan klien sendirian di dapur.
Di halaman terakhir ada satu kalimat tanpa nama. Tintanya ditekan begitu kuat sampai kertasnya hampir sobek.
Rumah ini bukan sekadar angker. Kalau cuma angker, paling hanya bikin takut. Tapi yang ini gangguannya bikin siapa pun nggak akan kuat.
Galih menutup map itu, lalu tertawa sendirian di dalam kontrakannya.
Tawanya hanya terdengar sebentar.
Malam itu juga dia mengirim pesan kepada Pak Daud. Sekadar mengulur waktu dan menunjukkan bahwa dia masih berusaha.
Pak, saya lagi pegang listing besar. Kalau closing, uangnya cukup buat lunasin semuanya. Jalan Kenanga Nomor 9.
Tanda sedang mengetik muncul, lalu hilang.
Muncul lagi.
Untuk orang yang biasanya tidak pernah terburu-buru, Pak Daud cepat sekali membalas pesannya.
Yang di ujung Jalan Kenanga itu?
Iya, Pak.
Tanda sedang mengetik kembali muncul. Lalu masuk satu pesan yang tidak pernah Galih sangka akan dikirim oleh orang seperti Pak Daud.
Jangan nginep di sana, Lih.
Galih menatap layar ponselnya. Pak Daud tidak pernah memberi nasihat secara gratis. Galih hendak bertanya kenapa, tetapi tanda sedang mengetik tidak muncul lagi.
Keesokan paginya, Galih tetap membawa kunci Nomor 9. Dia datang saat matahari sudah tinggi, sengaja memilih waktu ketika semuanya terlihat terlalu terang untuk terasa menyeramkan. Rumah itu berdiri di ujung Jalan Kenanga, agak jauh dari rumah-rumah lain. Pagar besinya berkarat. Rumput di halaman sudah setinggi lutut. Sebagian teras tertutup tanaman liar.
Dari luar, rumah itu sebenarnya tidak terlalu menakutkan. Catnya memang mengelupas. Beberapa genting bergeser. Jendelanya kusam dan kusennya mulai lapuk. Tapi tidak ada pohon besar dengan tali bergantung, bercak darah di dinding, atau wajah muncul dari balik jendela. Hanya rumah kosong yang terlalu lama tidak ditempati.
Galih membuka pintu depan dan langsung menyalakan semua lampu yang masih berfungsi. Dia membuka jendela, menyapu seadanya, mengganti beberapa bohlam, lalu mulai mengambil foto. Dia mencari sudut yang membuat ruangan terlihat lebih luas dan terang. Retakan kecil dia sembunyikan di luar bingkai. Bercak lembap dia tutupi dengan arah pencahayaan.
Masalah baru muncul saat dia memotret kamar tengah.
Foto pertama buram.