Percakapan selesai bagi Bu Sri. Galih meninggalkan kampung itu menjelang sore dengan lebih banyak cerita daripada jawaban. Sepanjang perjalanan, perkataan Bu Sri terus terngiang.
Mendadak kaya. Menikah. Lalu menghilang.
Cerita orang kampung, pikir Galih. Sama seperti cerita pesugihan, bunuh diri, dan mayat di bawah dapur. Rumah yang kosong terlalu lama biasanya memang akan punya cerita sendiri. Kalau tidak ada kejadian seram, orang-orang akan membuatnya.
Yang dibutuhkan Galih bukan cerita.
Dia butuh pembeli.
Sisa hari itu dia habiskan untuk menawarkan Nomor 9. Dia menelepon kembali calon pembeli lama, mengirim pesan ke nomor-nomor yang pernah bertanya soal rumah murah, lalu mengunggah ulang iklan ke media sosial.
Rumah luas dengan harga di bawah pasar. Lokasi tenang. Cocok untuk keluarga atau investasi. Bisa survei segera.
Dia memilih foto halaman yang terkena cahaya sore. Foto ruang tamu dia buat sedikit lebih terang. Foto kamar utama tidak dia pakai. Galih mengirim iklan itu ke grup jual beli properti, grup warga, akun komunitas, sampai grup alumni sekolah yang sudah lama tidak dia buka. Dia juga menawarkan pembagian komisi kepada dua agen lain kalau mereka berhasil membawa pembeli.
Tidak ada hasil.
Satu orang bertanya alamat, lalu berhenti membalas setelah Galih menyebut Jalan Kenanga Nomor 9. Seorang agen hanya mengirim emoji tertawa. Agen lain menelepon dan langsung bertanya apakah Galih sedang punya masalah keuangan.
Menjelang malam, Galih menyerah menatap layar. Dia pulang ke kontrakan dengan kepala penuh tagihan, batas waktu dari Pak Daud, dan komisi Nomor 9 yang terasa semakin jauh. Dia cuma ingin mandi, makan mi instan, lalu tidur.
Namun, saat motornya masuk ke gang kontrakan, Galih melihat sebuah kemeja tergantung di pagar.
Itu kemeja kerjanya.
Di sebelahnya ada dua celana panjang dan jaket tipis yang biasa dia pakai naik motor. Semakin dekat, semakin banyak barang yang terlihat. Sebuah koper tua tergeletak di dekat pintu. Kardus berisi buku, kabel, sepatu, dan perlengkapan mandi ditumpuk di bawah jendela. Kasur lipatnya disandarkan ke tembok. Ember, kipas angin kecil, dan penanak nasi juga sudah berada di luar.
Seluruh isi hidupnya yang tidak seberapa sudah dikeluarkan dari kamar.
Bu Ningsih, pemilik kontrakan, berdiri di depan pintu sambil menyilangkan tangan. Galih mematikan mesin motornya.
“Bu?”
“Bayar sekarang,” kata Bu Ningsih. “Atau pergi dari kontrakan gue.”
Galih turun dari motor.
“Bu, kok barang saya dikeluarin semua?”
“Kalau nggak gue keluarin, lu bakal masuk, tidur, terus besok minta waktu lagi.”
“Tolong kasih waktu sedikit lagi, Bu.”
Bu Ningsih mendengus.
“Sedikit lagi apaan? Udah lebih dari tiga bulan lu minta waktu.”
“Saya lagi pegang listing besar. Kalau rumahnya laku, saya bayar semuanya. Sama dendanya juga.”
“Gue nggak makan listing.”
“Bu, saya janji.”
“Bayar dulu. Baru boleh masuk lagi.”
Galih berdiri di depannya tanpa tahu harus menjawab apa. Memohon lebih keras hanya akan membuatnya terlihat semakin menyedihkan. Bu Ningsih masuk dan menutup pintu. Kunci diputar dari dalam.
Galih akhirnya duduk di atas kardus pakaiannya. Gang itu sempit dan mulai gelap. Beberapa orang yang lewat memperlambat langkah untuk melihat, lalu kembali berjalan ketika sadar tidak ada pertengkaran yang menarik.
Galih memandangi barang-barangnya.
Ternyata seluruh hidup seseorang bisa dikeluarkan dari sebuah kamar dalam satu sore.
Ponselnya berbunyi. Nama Bu Ratna muncul di layar. Galih membiarkannya berdering dua kali sebelum mengangkat.
“Halo, Bu.”
“Besok pagi ada pasangan dari luar kota yang mau lihat Nomor 9.”
Galih langsung berdiri. Kardus yang tadi didudukinya hampir terguling.
“Serius?”
“Serius. Mereka baru jual rumah lama dan sedang cari rumah secepatnya. Anggarannya cocok. Mereka juga nggak terlalu banyak tanya soal harga.”
Untuk pertama kalinya sejak pulang, dada Galih terasa sedikit lebih ringan.
“Jam berapa, Bu?”
“Jam sembilan. Kamu datang lebih pagi. Buka semua jendela, nyalakan lampu, bersihkan semampunya. Jangan sampai kacau kayak kemarin.”
“Nggak akan, Bu. Saya pastikan.”
“Ini pembeli serius pertama sejak berbulan-bulan. Jangan bikin mereka kabur.”
Telepon ditutup. Galih menatap barang-barangnya, lalu melihat pintu kontrakan. Dia mengetuk lagi.
“Bu Ningsih.”
Tidak ada jawaban.
Galih mengetuk lebih keras.
“Bu, tolong. Semalam aja. Besok pagi saya ada klien serius. Kalau rumahnya jadi dibeli, saya langsung bayar.”
Pintu terbuka sedikit. Bu Ningsih muncul dengan wajah yang lebih kesal.
“Nggak ada.”
“Bu, saya cuma perlu tidur beberapa jam. Besok pagi barang-barang ini langsung saya beresin.”
“Gue udah capek-capek ngeluarin barang lu dan bersihin kamarnya. Besok juga ada orang yang mau lihat kontrakan ini.”