Galih tidak tidur lagi sampai pagi. Dia duduk di dalam sleeping bag sambil menatap sepasang sepatu hitam yang tergeletak di samping kepalanya. Lampu darurat terus menyala sampai cahayanya mulai redup. Sekitar pukul lima, azan subuh terdengar dari kampung di belakang rumah. Baru setelah mendengar suara itu Galih berani menyentuh sepatunya.
Tanah merah di bagian sol masih basah. Ketika diusap dengan tisu, tercium bau tanah setelah hujan, padahal semalam tidak turun hujan. Galih membawa sepatu itu ke kamar mandi, mencuci solnya sampai bersih, lalu menaruhnya kembali di dekat pintu depan.
“Udah,” katanya kepada rumah. “Kita anggap semalam nggak pernah kejadian.”
Rumah itu tidak menjawab.
Galih mandi, mengganti pakaian, lalu mulai menyiapkan rumah untuk calon pembeli. Semua jendela dibuka dan semua lampu dinyalakan. Dia menyemprotkan pengharum aroma vanila ke setiap sudut sampai rumah itu lebih mirip toko roti daripada rumah kosong. Bercak lembap di ruang tamu ditutup dengan kalender lama yang ditemukan di dalam lemari, sedangkan kamar tengah dikunci dari luar. Kuncinya dia masukkan ke saku celana.
Pukul delapan lewat lima puluh, sebuah mobil putih berhenti di depan gerbang. Pasangan dari luar kota itu datang sepuluh menit lebih awal. Si suami bernama Pak Arman dan istrinya bernama Bu Rika. Mereka datang bersama seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun yang sejak turun dari mobil terus memainkan mobil-mobilan merah.
Bu Ratna benar. Mereka terlihat serius. Pak Arman membawa salinan iklan rumah yang sudah dicetak, sementara Bu Rika membawa buku catatan dan meteran. Mereka bahkan sudah menyiapkan beberapa pertanyaan tentang biaya renovasi.
Galih menyambut mereka dengan senyum terbaiknya.
“Silakan, Pak, Bu. Maaf halamannya masih belum sempat dirapikan. Tapi justru enak, nanti mau dijadikan taman atau tempat bermain anak masih bebas.”
Bu Rika memandang pohon mangga di samping rumah.
“Bagus, ya. Teduh.”
Pak Arman mengangguk. “Tanahnya luas juga.”
Galih merasa sedikit lega. Awalnya semua berjalan lancar. Mereka menyukai ruang tamunya. Pak Arman membicarakan kemungkinan mengganti lantai, sedangkan Bu Rika sudah membayangkan meletakkan sofa di dekat jendela. Saat masuk ke kamar utama, tidak ada sosok yang duduk di ranjang. Tidak ada suara yang menyebut nama siapa pun. Ranjang itu bahkan terlihat biasa saja.
Galih mulai berpikir mungkin rumah tersebut benar-benar mendengar permintaannya semalam.
Mereka melanjutkan survei ke kamar belakang.
“Yang ini bisa buat kamar anak,” kata Bu Rika.
Anak laki-laki mereka masuk sambil mendorong mobil-mobilannya di lantai.
“Kamarku gede,” katanya.
Pak Arman tertawa. “Belum dibeli juga.”
“Tapi kalau jadi, ini kamar aku.”
Galih ikut tertawa. Di kepalanya, dia sudah mulai menghitung komisi. Utang Pak Daud bisa lunas. Tunggakan kepada Bu Ningsih bisa dibayar. Dia bahkan mungkin masih memiliki cukup uang untuk menyewa kontrakan baru dan membeli kasur yang lebih bagus.
Kemudian mereka sampai di depan kamar tengah.
Bu Rika berhenti.
“Kamar ini apa, Mas?”
Galih langsung berdiri sedikit di depan pintu.
“Gudang, Bu. Kosong. Agak lembap juga, jadi nggak terlalu menarik buat dilihat.”
Bu Rika memperhatikan gagang pintunya.
“Kok dikunci dari luar?”
“Engselnya sudah jelek. Kalau nggak dikunci, pintunya suka kebuka sendiri.” Galih tersenyum. “Angin.”
Seolah ingin membantahnya, dari balik pintu terdengar suara anak kecil tertawa. Awalnya pelan, kemudian terdengar lagi dengan lebih jelas. Tawa seorang anak yang sedang senang bermain petak umpet.
Bu Rika mundur satu langkah. Pak Arman langsung menggenggam tangan istrinya, sedangkan anak mereka berhenti memainkan mobil-mobilannya.
“Ada anak di dalam?” tanyanya.
“Nggak ada,” jawab Galih terlalu cepat.
Tawa itu terdengar lagi. Kali ini sangat dekat dengan pintu.
Kemudian sebuah suara kecil berbisik dari dalam.
“Ketemu.”
Bu Rika segera menarik anaknya menjauh. Pak Arman menatap Galih dengan wajah yang berubah tegang.
“Mas bilang tadi kosong.”
“Memang kosong, Pak. Mungkin suara dari luar. Di belakang rumah ada kampung, jadi suara anak-anak kadang masuk.”
“Kuncinya ada sama Mas?”
Galih merogoh saku celananya. Kunci kamar tengah masih ada di sana.
“Iya.”
“Jadi nggak ada orang yang bisa masuk?”
“Nggak ada.”
Gagang pintu bergerak perlahan.
Sekali.
Dua kali.
Seperti seseorang di dalam sedang berusaha membukanya.
Galih membuka mulut dan mencoba mencari penjelasan. Kayu memuai. Tikus. Suara tetangga. Namun, tidak ada alasan yang cukup masuk akal untuk menjelaskan gagang pintu yang bergerak dari dalam kamar terkunci.
Pak Arman menggendong anaknya.
“Kita pergi.”
“Pak, sebentar. Saya bisa buka kamarnya. Kita periksa sama-sama.”
“Nggak usah.”
Mereka berjalan cepat menuju ruang tamu. Galih mengikuti mereka sampai ke teras.
“Pak, Bu, rumah kosong memang kadang banyak suara. Nanti bisa kita cek bangunannya. Saya juga bisa kasih harga khusus.”