NUMPANG HIDUP

Indra S Miraj
Chapter #4

Tawaran

Galih tetap menatap lorong di depannya. Dia ingin berdiri dan lari. Tubuhnya bahkan sudah menyuruhnya melakukan itu, tetapi rasa lelah membuat kedua kakinya berat. Lagi pula, masih ada bagian dalam dirinya yang bekerja. Bagian yang selama delapan tahun terbiasa membaca nada bicara calon pembeli dan mencari celah dalam setiap percakapan.

Sesuatu yang baru saja mengatakan akhirnya pasti sudah menunggu cukup lama. Kalau sudah menunggu selama itu, mungkin ia mau bicara.

Galih menelan ludah.

“Siapa kamu?”

Suara perempuan itu datang dari lantai di sebelahnya.

“Namaku belum penting.”

Suaranya tidak terdengar muda, tetapi juga tidak benar-benar tua. Seperti suara seseorang yang berhenti bertambah umur pada satu titik, lalu tinggal di sana terlalu lama.

“Kamu tahu namaku?”

“Rumah tahu siapa yang masuk.”

Lantai di sebelah Galih berbunyi kecil, seperti ada seseorang yang sedang mengubah posisi duduk.

“Rumah juga tahu kamu punya utang. Tahu siapa yang menagih. Tahu berapa hari yang tersisa.”

Galih tidak pernah menyebut Pak Daud atau tenggat pembayarannya di dalam rumah.

“Kamu mau apa?”

“Aku mendengar kamu minta bantuan.”

“Aku minta rumah ini berhenti ganggu pembeli.”

“Bukan itu yang paling kamu mau.”

Di atas meja, ponsel Galih menyala dengan sendirinya. Aplikasi bank terbuka dan saldo terakhirnya terlihat jelas. Suara perempuan itu kemudian berbisik di dekat telinganya.

“Kamu mau angka ini berubah.”

Galih segera menutup layar ponselnya.

“Bisa?”

Dinding di belakangnya mengeluarkan bunyi pelan.

“Orang-orang di warung sudah cerita.”

“Mereka juga bilang semua orang yang kaya dari rumah ini akhirnya hilang.”

“Orang kampung selalu menambah bagian yang tidak mereka mengerti.”

“Itu bukan jawaban.”

“Memang bukan.”

Galih menatap lorong yang gelap. Entitas itu tidak membantah cerita Bu Sri, tetapi juga tidak memberikan penjelasan. Ia hanya membiarkan kemungkinan tentang uang tumbuh di dalam kepala Galih.

“Apa harganya?” tanya Galih.

“Bawakan aku jalan.”

Galih teringat ucapan Mak Iyem.

Jalan keluar melalui orang hidup.

“Orang yang pintunya terbuka?”

Rumah terdiam cukup lama sampai Galih tahu tebakannya benar.

“Bukan sembarang orang,” kata suara itu akhirnya. “Dia harus bisa membuka dirinya sendiri.”

“Terus kamu mau masuk ke tubuhnya?”

“Mak Iyem sudah menjelaskan terlalu banyak.”

“Berapa lama?”

Tidak ada jawaban.

“Dia bakal bisa keluar lagi?”

Dinding berderak. Suara perempuan itu berpindah ke belakang Galih.

“Kamu sedang menanyakan nasib orang yang bahkan belum kamu temukan.”

“Aku perlu tahu kesepakatannya.”

“Kamu hanya perlu tahu bagianmu.”

Galih mengepalkan tangan. Jawaban yang tidak lengkap itu seharusnya membuatnya pergi. Namun, justru karena tidak lengkap, pikirannya mulai mengisi sendiri bagian-bagian yang kosong.

Mungkin hanya sementara. Mungkin orang yang menjadi perantara sudah biasa dimasuki roh. Mungkin dia bisa mencari seseorang yang memang bersedia. Mungkin semuanya masih bisa diatur.

“Apa yang aku dapat?” tanyanya.

“Utangmu selesai.”

“Cuma itu?”

“Tidak akan ada lagi malam ketika kamu menghitung uang bensin. Tidak ada pemilik kontrakan yang membuang barangmu. Tidak ada orang yang bisa menyentuh keluargamu untuk menagih kesalahanmu.”

Galih memandang ponselnya lagi.

“Uangnya datang dari mana?”

“Dari tempat yang bisa diterima dunia.”

“Bisa dilacak?”

“Tidak ada yang akan datang menanyakan asalnya.”

Jawaban itu cukup masuk akal bagi seseorang yang sedang ingin percaya.

“Kenapa harus aku?”

“Kamu tahu cara membuat orang melihat hidup yang mereka inginkan, bukan keadaan yang sebenarnya.”

Galih merasa seperti sedang dipuji dan dihina pada saat yang sama.

“Kalau aku menemukan perantaranya, tinggal kubawa ke sini?”

“Dia harus datang sendiri.”

“Kalau aku nggak cerita semuanya?”

“Dia tetap harus memilih masuk.”

“Kenapa?”

“Rumah tidak bisa memakai pintu yang dipaksa.”

Galih teringat kembali ucapan Mak Iyem.

Nama menunjuk siapa yang terikat. Darah menulis janjinya. Telapak tangan berarti orang itu masuk dengan kemauannya sendiri.

“Dia harus suka rumah ini,” kata Galih.

“Dia harus merasa rumah ini miliknya.”

“Dan percaya sama aku.”

Suara perempuan itu tidak menjawab. Namun, Galih bisa mendengar senyum di dalam diamnya.

“Kalau perlu, aku harus bikin dia sayang.”

“Kamu yang bilang, bukan aku.”

Kalimat itu terasa lebih mengerikan daripada perintah langsung. Entitas tersebut tidak menyuruhnya berbohong atau memperdaya siapa pun. Ia hanya berdiri di ujung pikiran Galih dan membiarkan Galih menemukan caranya sendiri.

Galih seharusnya berdiri. Dia seharusnya mengambil koper, meninggalkan rumah itu, lalu menerima apa pun yang akan dilakukan Pak Daud ketika tenggatnya habis. Setidaknya kehancuran tersebut hanya akan menjadi miliknya.

Namun, Galih teringat nama sekolah keponakannya yang disebut Pak Daud. Dia teringat ibunya di kampung dan barang-barangnya yang dikeluarkan ke pinggir gang.

“Apa jaminannya?” tanya Galih.

Lihat selengkapnya