NUMPANG HIDUP

Indra S Miraj
Chapter #5

Isi Rumah

Galih kembali dari warung membawa dua gelas cup minuman, satu kopi dingin untuk dirinya sendiri dan satu teh tawar dingin dengan sedikit es untuk Laras. Dia menyerahkan botol itu tanpa banyak bicara. Laras menerimanya sambil memperhatikan label di gelas cup.

“Beneran nggak pakai banyak es.”

“Pesanan klien harus tepat.”

“Aku belum jadi klien.”

“Bagus. Berarti saya nggak perlu pasang senyum kerja.”

Laras menatapnya sebentar, lalu tertawa kecil. Galih ikut menatapnya sambil memperhatikan label di gelas cup.

“Beneran nggak pakai banyak es?” Laras tersenyum.

Kalau mau menjual rumah, jangan pernah mulai dari rumahnya. Itu hal pertama yang Galih pelajari ketika baru menjadi agen delapan tahun lalu. Orang tidak membeli tembok, atap, atau luas tanah. Mereka membeli kehidupan yang mereka bayangkan akan terjadi di dalamnya. Karena itu, jangan langsung membicarakan bangunan. Cari tahu dulu hidup seperti apa yang mereka inginkan. Setelah itu, tinggal yakinkan mereka bahwa rumah yang kamu bawa bisa memberikan kehidupan tersebut.

Malam itu, Galih memakai cara yang sama kepada Laras. Dia tidak menyebut Jalan Kenanga, tidak membicarakan Nomor 9, dan tidak membahas suara perempuan di dalam rumah atau perjanjian yang sudah dibuatnya dengan darah.

Mereka berpindah dari teras rumah petak ke warung kopi di seberang jalan. Laras masih membawa amplop bayarannya, tetapi belum membukanya.

“Jadi Mas nggak mau cerita butuh bantuan apa?” tanya Laras.

“Nanti aja.”

“Kok nanti?”

Galih membuka tutup gelas cup kopinya.

“Kamu baru selesai kerja. Kalau saya baru pulang kerja terus langsung ditanyain soal kerjaan lagi, rasanya pengin nangis.”

Laras kembali tertawa, kali ini sedikit lebih lepas. Galih mencatatnya di dalam kepala. Bukan karena dia merasa senang berhasil membuat Laras tertawa, atau mungkin bukan hanya karena itu. Dia mencatatnya seperti saat melihat calon pembeli berhenti lebih lama di depan dapur. Itu berarti dapur penting bagi mereka. Berarti di situlah penawaran harus diarahkan.

Laras jarang diajak berbicara tentang hal biasa.

Itu berarti hal biasa adalah pintunya.

Mereka mengobrol hampir satu jam tanpa membahas hantu. Laras mengeluh karena teh tawarnya ternyata masih terasa manis, sementara Galih bercerita tentang pasangan pembeli yang pernah bertengkar hebat mengenai warna dinding ruang tamu.

“Suaminya mau putih. Istrinya mau hijau,” kata Galih.

“Terus jadinya warna apa?”

“Dua-duanya.”

“Setengah putih, setengah hijau?”

“Bukan. Saya bilang, cat putih dulu. Kalau istrinya masih marah, timpa pakai hijau.”

Laras tertawa.

“Mas ini agen properti atau konsultan rumah tangga?”

“Kalau komisinya cukup, saya bisa jadi apa aja.”

Ketika Laras akhirnya berdiri untuk pulang, dia baru teringat alasan Galih datang.

“Mas belum bilang masalahnya apa.”

Galih ikut berdiri.

“Besok aja.”

“Kenapa besok?”

“Kalau kamu nggak capek.”

Ada perubahan kecil pada wajah Laras. Sangat cepat, tetapi Galih melihatnya. Sepanjang hidupnya, perempuan itu selalu didatangi oleh orang yang sedang membutuhkan sesuatu. Mereka datang membawa anak kesurupan, rumah berisik, atau keluarga yang merasa sedang diikuti. Tidak ada yang peduli apakah Laras sedang lelah.

Mungkin kalimat kalau kamu nggak capek adalah hal paling baik yang didengarnya sepanjang hari.

Entah kenapa, menyadari hal itu membuat perut Galih terasa tidak nyaman.

Malam itu, setelah kembali ke Nomor 9, Galih membuka catatan di ponselnya. Dia biasa membuat catatan seperti itu setelah bertemu calon pembeli.

Hal yang dia cari: diperlakukan seperti orang biasa.

Hal yang dia inginkan: didatangi tanpa selalu dimintai bantuan.

Hal yang dia takutkan: hanya dianggap berguna karena kemampuannya.

Galih membaca catatan itu cukup lama, kemudian menambahkan satu kalimat.

Jangan mulai dari rumah. Mulai dari hidup yang dia mau.

Galih mematikan layar.

“Kamu mulai bekerja?”

Suara perempuan terdengar dari dalam dinding. Galih tidak lagi terkejut seperti sebelumnya. Dia tetap takut, tetapi rasa takut itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang bisa disimpan di belakang kepala.

“Sudah.”

“Dia cocok?”

“Sepertinya.”

“Bawa dia ke sini.”

“Belum bisa.”

Udara ruang tengah mendadak menjadi lebih dingin.

“Aku sudah bilang, dia harus datang karena mau. Kalau saya ajak sekarang, dia pasti tahu ada yang aneh.”

“Aku sudah menunggu lama.”

“Kalau sudah lama, berarti bisa nunggu beberapa hari lagi.”

Rumah itu diam. Galih menggelar sleeping bag, lalu memandang ke arah kamar tengah.

“Ngomong-ngomong, saya masa harus panggil kamu rumah terus?”

Tidak ada jawaban.

“Kalau kita kerja sama, paling nggak saya perlu tahu nama kamu.”

Lantai di dekat kamar tengah berbunyi pelan. Beberapa saat kemudian, suara perempuan itu menjawab.

“Dulu mereka memanggilku Sari.”

“Bu Sari?”

“Nyai Sari.”

Galih mengangguk meskipun tidak ada siapa-siapa di hadapannya.

“Oke. Nyai Sari.”

Dinding rumah berbunyi seperti kayu yang sedang mengembang. Galih tidak tahu apakah itu jawaban atau peringatan.

Selama dua minggu berikutnya, dia tidak pernah menyebut Nomor 9 kepada Laras. Mereka bertemu beberapa kali. Kadang Galih menjemputnya setelah selesai membantu orang, kadang mereka hanya makan mi ayam di pinggir jalan, dan kadang mereka duduk di taman kota sambil membicarakan orang-orang yang lewat.

Galih pernah mengirim foto seekor anjing gemuk yang tertidur di trotoar depan kantor. Tidak ada pesan, hanya foto. Laras membalasnya dengan foto kucing kurus yang duduk di atas motornya.

Galih juga menelepon pada sore hari, bukan tengah malam dan bukan karena ada keadaan darurat.

“Sudah makan?”

“Belum.”

“Makan.”

“Mas menelepon cuma buat nyuruh makan?”

“Iya.”

“Kurang kerjaan?”

“Banyak. Tapi kamu lebih susah diatur daripada klien.”

Semua hal kecil itu terasa baru bagi Laras. Tidak ada yang meneleponnya hanya untuk bertanya apakah dia sudah makan. Biasanya orang menghubunginya sambil menangis, berteriak, atau meminta dia datang secepat mungkin.

Galih membuat dirinya hadir pada waktu-waktu yang tidak penting.

Itulah yang membuatnya mulai terasa penting.

Sementara itu, Pak Daud terus mengingatkan soal utang dengan caranya sendiri. Setiap tiga hari, makanan datang ke kantor. Kadang nasi kotak, martabak, atau ayam bakar. Tidak pernah ada pesan. Galih tahu semua itu bukan hadiah.

Itu hitungan mundur yang dikirim dengan sopan.

Pada hari kesepuluh, sebuah kotak donat datang bersama secarik kertas.

Dua puluh hari lagi.

Galih meremas kertas itu, lalu membuangnya ke tempat sampah. Setiap malam ketika kembali ke Nomor 9, luka di telapak tangannya terasa berdenyut. Benang yang menghubungkan dirinya dengan rumah seperti ditarik sedikit demi sedikit.

“Kamu lambat,” kata Nyai Sari pada suatu malam.

Galih sedang berbaring sambil membalas pesan Laras.

“Orang nggak akan datang sendiri kalau merasa diburu.”

“Aku bisa membuatnya datang.”

“Terus dia datang karena kamu paksa. Perjanjiannya batal.”

Rumah itu diam. Galih meletakkan ponselnya.

Lihat selengkapnya