NUMPANG HIDUP

Indra S Miraj
Chapter #6

Bulan Madu

Laras menghabiskan hampir satu jam melihat-lihat Nomor 9. Dia langsung jatuh suka pada halaman belakangnya. Di bawah pohon mangga, dia berdiri sambil mendongak ke sela-sela daun. Cahaya sore masuk sedikit demi sedikit dan membuat wajahnya terlihat lebih tenang.

“Kalau ada meja kecil di sini enak, ya,” katanya. “Bisa buat orang duduk sambil minum kopi.”

Galih berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Depan buat warung. Belakang buat kita.”

Kata kita keluar lebih mudah sekarang. Laras menoleh sambil tersenyum.

“Mas sudah mikir sejauh itu?”

“Saya agen properti. Kerjaan saya memang mikirin rumah orang sebelum orangnya sempat mikir.”

Mereka masuk ke ruang tengah. Galih menunjukkan kamar utama, dapur, dan kamar belakang. Hanya kamar tengah yang tidak dibuka. Laras sempat berhenti di depannya.

“Yang ini apa?”

“Gudang. Lembap banget. Nanti aja kalau sudah dibersihkan.”

Laras menyentuh gagang pintunya. Dari balik pintu, Galih merasa ada sesuatu yang sedang berdiri sangat dekat.

Menunggu.

Namun, Laras melepaskan tangannya.

“Ya sudah.”

Rumah itu tetap diam. Tidak ada suara anak kecil, pintu yang bergerak sendiri, atau sosok yang duduk di atas ranjang. Untuk pertama kalinya, Nomor 9 bersikap seperti rumah biasa.

Malam itu, Galih menawarkan agar Laras mencoba menginap.

“Cuma semalam,” katanya. “Biar tahu cocok atau nggak.”

Laras terlihat ragu.

“Baju aku nggak ada.”

“Besok pagi aku antar pulang.”

“Alat mandi?”

“Ada warung.”

“Bantal?”

Galih menunjuk koper dan sleeping bag yang masih tergeletak di ruang tengah.

“Saya saja sudah tinggal di sini pakai beginian.”

Laras memandangnya.

“Mas beneran tinggal di sini?”

“Kontrakanku sudah dikasih orang.”

Galih mengatakannya sambil tertawa kecil, seolah itu bukan sesuatu yang memalukan. Laras tidak ikut tertawa.

“Kenapa Mas nggak cerita?”

“Bukan cerita yang bagus buat kencan.”

“Ini kencan?”

“Kalau kamu mau.”

Laras menunduk untuk menyembunyikan senyum.

Akhirnya mereka tidur di ruang tengah. Galih memakai sleeping bag, sedangkan Laras tidur di atas kasur lipat yang diambil Galih dari warung tempat barang-barangnya dititipkan.

Malam itu tidak terjadi apa-apa. Tidak ada suara napas, ketukan dari dapur, atau pintu kamar tengah yang terbuka sendiri. Untuk pertama kalinya sejak kecil, Laras tidur di sebuah rumah tanpa mendengar suara-suara yang memanggilnya.

Pagi harinya, Laras bangun menjelang pukul delapan. Galih sudah duduk di teras dengan dua gelas kopi.

“Tidur nyenyak?” tanyanya.

Laras menerima gelas kopinya.

“Aneh.”

“Aneh kenapa?”

“Sepi.”

Dia melihat ke dalam rumah.

“Biasanya kalau aku tidur di tempat baru, selalu ada yang datang. Minimal ada yang berdiri di pojok kamar.”

Galih berusaha tidak melihat ke arah dinding.

“Semalam nggak ada?”

Laras menggeleng.

“Nggak ada apa-apa.”

Dia tersenyum kecil.

“Enak juga.”

Galih tahu rumah sedang menjual dirinya.

Dan rumah itu jauh lebih pandai daripada dia.

Dua hari kemudian, Laras membawa beberapa baju, alat mandi, dan satu kardus berisi barang-barang kecil. Dia belum menyebutnya pindah. Katanya hanya ingin mencoba tinggal selama seminggu.

Pada hari ketiga, Laras membawa kompor. Pada hari keempat, dia menaruh pot tanaman di teras. Pada hari kelima, sikat giginya sudah berdiri di sebelah sikat gigi Galih.

Tidak ada satu pun dari mereka yang mengucapkan bahwa Laras sekarang tinggal di Nomor 9.

Mereka tidak perlu.

Sementara itu, batas waktu dari Pak Daud habis. Galih menjual ponsel cadangan, jam tangan, dan beberapa barang elektronik yang masih dia miliki. Seluruh uangnya dia kirim kepada Pak Daud sebagai pembayaran awal.

Pak Daud menelepon beberapa menit kemudian.

“Ini baru sedikit, Lih.”

“Saya tahu, Pak.”

“Rumahnya sudah laku?”

“Belum. Tapi sudah ada yang serius.”

“Berapa hari?”

Galih memandang Laras yang sedang menyapu halaman belakang.

“Sepuluh hari.”

Pak Daud diam cukup lama.

“Sepuluh hari,” katanya akhirnya. “Setelah itu saya yang datang.”

Telepon ditutup. Galih mendapat tambahan waktu.

Sekarang rumah hanya perlu menepati janjinya.

Uang pertama datang delapan hari setelah Laras tinggal di Nomor 9. Datangnya sangat biasa sampai hampir terasa bodoh. Galih menemukannya di saku celana yang sudah tiga bulan tidak dia pakai. Empat lembar uang seratus ribu rupiah terlipat rapi dan terasa licin seperti baru keluar dari mesin ATM.

Galih yakin celana itu kosong. Bulan lalu dia pernah menggeledah seluruh sakunya hanya karena kekurangan lima belas ribu rupiah untuk membeli bensin.

Dia membawa uang itu ke ruang tengah.

“Ras.”

Laras sedang melipat pakaian.

“Kenapa?”

“Kamu pernah masukin uang ke celana cokelatku?”

“Buat apa?”

Galih menunjukkan uang tersebut. Laras menggeleng.

“Mungkin Mas lupa.”

“Mungkin.”

Galih memasukkan uang itu ke dompet.

Dua hari kemudian, seorang klien yang sudah menghilang selama delapan bulan tiba-tiba menelepon. Klien tersebut meminta maaf karena lupa membayar komisi penjualan tanah. Sore harinya, uang masuk ke rekening Galih. Jumlahnya cukup untuk membuatnya duduk menatap layar selama beberapa menit.

Seminggu kemudian, developer proyek ruko yang kabur ke luar negeri ditangkap di bandara. Sebagian asetnya disita. Galih mendapat surat resmi yang mengatakan bahwa beberapa korban akan menerima pengembalian dana. Angka di dalam surat itu membuat tangannya gemetar.

Semua kejadian tersebut bisa dijelaskan. Uang di saku mungkin memang terlupakan. Klien lama bisa saja baru ingat. Developer buron memang bisa tertangkap. Tidak ada satu kejadian pun yang benar-benar mustahil.

Masalahnya, ketika semuanya disusun berurutan, Galih bisa melihat polanya. Seperti ada sebuah tangan yang terus menuangkan uang ke dalam hidupnya.

Dan setiap kali uang datang, Laras selalu kehilangan waktu.

Suatu sore, setelah Galih menerima transfer dari klien lama, Laras keluar dari kamar sambil memegangi kepala.

“Mas.”

“Kenapa?”

Laras melihat jam dinding.

“Tadi aku ngapain?”

“Maksudnya?”

“Aku terakhir ingat habis makan siang. Jam dua kurang.”

Sekarang sudah hampir pukul empat. Laras memandang sekeliling.

“Aku tidur?”

“Mungkin.”

“Aku nggak merasa tidur.”

Galih melihat ponselnya. Transfer masuk tepat pukul dua lewat tiga menit.

“Kayaknya kamu kecapekan,” katanya.

Laras menerima jawaban itu.

Karena Laras selalu percaya kepadanya.

Pertama kali melihat Nyai Sari memakai tubuh Laras, Galih hampir tertawa. Bukan karena lucu. Dia hanya tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

Malam itu Laras sudah tidur. Galih terbangun sekitar pukul satu karena mendengar pintu kulkas dibuka. Ketika turun ke dapur, dia menemukan Laras berdiri di depan kulkas. Perempuan itu hanya mengenakan kaus tidur dan celana panjang. Rambutnya terurai. Kedua tangannya masuk ke dalam kulkas, menyentuh udara dingin yang mengalir keluar.

“Ras?”

Perempuan itu menoleh.

Wajahnya sama. Tubuhnya juga sama. Namun, Galih langsung tahu yang sedang menatapnya bukan Laras. Rasa lelah yang selalu tinggal di wajah Laras sudah hilang. Matanya terlihat lebih terang. Cara berdirinya juga berbeda, lebih tegak dan tenang.

“Dingin,” katanya dengan kagum.

Dia memasukkan kedua tangannya lebih dalam.

“Kotak ini menghasilkan dingin di dalam rumah.”

Galih bersandar di kusen pintu.

“Nyai Sari?”

Perempuan itu tersenyum menggunakan wajah Laras.

“Jangan panggil Nyai kalau aku pakai tubuh seperti ini. Kedengarannya tua.”

Galih tidak ikut tersenyum.

“Itu kulkas.”

“Kulkas,” ulang Sari.

Dia mengucapkan kata tersebut perlahan, seperti sedang mencicipinya. Sari mengambil sebutir telur, memandanginya cukup lama, kemudian meletakkannya kembali dengan sangat hati-hati.

“Dulu, es harus dibeli. Dibungkus koran. Sampai rumah biasanya sudah tinggal separuh.”

Dia menutup pintu kulkas, kemudian membukanya lagi. Lampu di dalam kulkas menyala dan mati. Sari tersenyum setiap kali lampunya kembali menyala.

Galih seharusnya merasa takut. Namun, melihat makhluk yang selama ini tinggal di dalam rumah bermain-main dengan pintu kulkas membuat rasa takutnya terasa aneh.

Malam itu, Galih mengajari Sari menggunakan ponsel. Sari menekan layar terlalu keras dan mengira semua video sedang berlangsung secara langsung. Ketika Galih memesan makanan, Sari menunggu di depan gerbang seperti sedang menanti tamu penting.

Begitu pengemudi ojek daring datang, Sari bertanya dengan sangat serius.

“Mas berkeliling kota sepanjang hari menunggu orang lapar?”

Lihat selengkapnya