NUMPANG HIDUP

Indra S Miraj
Chapter #7

Perempuan Berikutnya

Namaku Wening.

Kalau kamu membaca ini, berarti kamu perempuan berikutnya. Dan laki-laki itu pasti sudah bilang dia sayang kamu.

Laras membaca kalimat itu tiga kali. Setelah itu, dia menutup buku tersebut, meletakkannya di lantai, lalu menatapnya cukup lama seperti sedang menunggu buku itu bergerak sendiri.

Rumah tetap diam. Rumah memang selalu diam saat Laras sendirian. Baru sekarang dia memahami alasannya.

Sesuatu yang sedang menunggu pembayaran tidak perlu terburu-buru menagih.

Laras membuka buku itu kembali. Tulisan pada halaman-halaman awal masih rapi, tulisan seseorang yang belum ketakutan dan masih merasa memiliki banyak waktu.

Namanya Bahar. Dia agen properti. Dia baik sekali. Dia tidak pernah meminta apa-apa dariku. Aku baru tahu kalimat itu sangat mahal untuk perempuan seperti kita setelah ada yang mengatakannya.

Perut Laras terasa seperti terjun bebas, seolah seluruh isi tubuhnya mendadak kosong dan meluncur turun tanpa pegangan.

Perempuan seperti kita.

Wening tidak menulis seperti aku. Dia menulis seperti kita. Perempuan yang sudah lama mati itu tahu persis siapa yang suatu hari akan menemukan buku ini.

Laras membalik halaman. Tulisan Wening mulai miring.

Bahar membawaku ke rumah ini. Aku masuk karena mau. Tidak ada yang menarik atau memaksaku. Aku bahkan masuk sambil tertawa karena melihat pohon mangga di halaman belakang.

Laras menoleh ke jendela. Di luar, daun pohon mangga bergerak perlahan tertiup angin. Dulu pohon itu membuatnya yakin rumah ini bisa menjadi tempat tinggal.

Sekarang bentuknya terlihat seperti tangan yang sedang melambai.

Laras kembali membaca.

Awalnya aku hanya kehilangan waktu sebentar. Setengah jam. Satu jam. Bahar bilang aku kelelahan. Aku percaya karena aku ingin percaya. Kalau aku tidak percaya, berarti satu-satunya orang yang pernah baik kepadaku sedang membohongiku.

Lalu uang mulai datang.

Semakin banyak uang yang datang, semakin lama aku menghilang.

Aku menghitungnya. Setiap kali aku kehilangan satu jam, ada uang masuk ke rekening Bahar. Aku menghitung berkali-kali karena berharap aku salah. Aku tidak salah.

Laras berhenti membaca. Dia teringat malam ketika dirinya mendatangi Galih dalam keadaan gemetar.

Aku hilang tiga hari, Mas.

Galih memeluknya.

Kamu cuma kecapekan. Sekarang kita punya uang. Besok kita cari dokter.

Laras menekan bibirnya rapat-rapat. Tangannya mulai gemetar, tetapi dia tetap membalik halaman.

Aku tanya dari mana uang itu datang. Bahar bilang komisi. Rezeki lama. Uang proyek. Dia selalu punya jawaban.

Tapi setiap menjawab, dia tidak pernah berani menatap mataku.

Buku di tangan Laras bergetar semakin kuat. Baru beberapa detik kemudian dia menyadari bahwa bukan bukunya yang bergerak.

Tangannya.

Tulisan pada halaman-halaman berikutnya terlihat semakin terburu-buru.

Aku mulai menemukan barang yang tidak pernah kubeli. Pakaian yang tidak pernah kupakai. Orang-orang menyapaku seperti sudah mengenalku, padahal aku tidak pernah bertemu dengan mereka.

Kadang aku bangun dan tubuhku terasa asing. Seperti baru dipakai bekerja keras oleh orang lain.

Bahar bilang itu tetap aku. Tubuhnya tubuhku. Yang di dalam hanya menumpang.

Menumpang.

Sekarang aku mengerti kenapa dia diam saja. Dia tidak cuma menjual waktuku. Dia membiarkan perempuan itu memakai hidupku.

Laras menutup buku tersebut. Dia mencoba berdiri, tetapi ruangan terasa miring. Tangannya cepat-cepat memegang sisi lemari agar tidak terjatuh.

Tiga hari.

Dia pernah kehilangan waktu dari hari Selasa sampai Jumat. Ketika terbangun, tubuhnya terasa pegal, rambutnya berubah, dan di dalam ponselnya terdapat foto-foto yang tidak pernah dia ambil.

Galih mengatakan bahwa dia kelelahan.

Laras mempercayainya karena selama ini Galih selalu tahu kalimat apa yang perlu diucapkan agar semuanya kembali terasa baik-baik saja.

Laras keluar dari kamar tengah dan berjalan menuju kamar mandi. Dia menyalakan lampu, kemudian berdiri di depan cermin. Perempuan di dalam pantulan terlihat pucat.

Selama dua puluh delapan tahun, Laras hidup di dalam tubuh yang tidak pernah benar-benar bisa dikunci. Namun, setidaknya selama ini dia masih tahu kapan pintunya dibuka.

Sekarang seseorang masuk tanpa izin, tinggal selama berhari-hari, dan laki-laki yang katanya mencintainya mengetahui semua itu.

Laras menyentuh sisi lehernya. Di sana terdapat bekas samar yang sebelumnya dia anggap sebagai gigitan serangga atau iritasi. Dia berdiri cukup lama di depan cermin.

Anehnya, dia tidak menangis.

Ada sesuatu yang bergerak naik dari dalam perutnya.

Bukan kesedihan.

Kemarahan.

Bagi Laras, marah adalah perasaan yang mahal. Sejak kecil, dia lebih sering diminta bersyukur. Ketika berumur enam tahun, dia tenggelam di sungai belakang rumah nenek. Ada sesuatu yang memegang tangannya di dalam air. Setelah diselamatkan, pintu di dalam dirinya tidak pernah bisa tertutup lagi.

Orang-orang menyebutnya beruntung. Diberi kelebihan. Diberi karunia. Tidak ada yang menjelaskan bahwa karunia itu berarti tubuhnya akan menjadi jalan yang bisa dilewati siapa saja.

Orang-orang datang dan pergi.

Tidak pernah ada yang bertanya apakah Laras mau.

Saat berumur dua puluh dua tahun, Laras sudah terlalu lelah untuk melanjutkan hidup seperti itu. Dia menulis surat satu halaman. Surat itu tidak ditujukan kepada siapa pun karena saat itu memang tidak ada seorang pun yang terasa cukup dekat untuk diberi pesan terakhir.

Namun, sebelum sempat menyelesaikan niatnya, tubuh Laras berhenti mengikuti perintah. Tangannya bergerak sendiri. Sesuatu masuk melalui pintu yang tidak bisa dia kunci, mengambil alih tubuhnya, lalu memaksanya mundur.

Laras mencoba lagi pada waktu yang lain. Hasilnya tetap sama. Selalu ada sesuatu yang datang dan menghentikannya.

Bertahun-tahun kemudian, Laras baru memahami alasannya. Pintu seperti miliknya langka. Kalau Laras mati, pintu tersebut ikut tertutup.

Mereka tidak sedang menyelamatkannya.

Mereka sedang menjaga sesuatu yang masih ingin mereka pakai.

Sejak saat itu, Laras memilih mengatur pintunya sendiri. Dia menentukan siapa yang boleh masuk, berapa lama mereka bisa tinggal, dan kapan mereka harus keluar. Itu satu-satunya cara agar tubuhnya masih terasa sedikit seperti miliknya.

Lihat selengkapnya