Begitu Laras melewati gerbang, keran dapur Nomor 9 mendadak mati. Galih tahu karena hal pertama yang dia lakukan setelah perempuan itu pergi adalah mengeceknya.
Tentu saja dia mengecek.
Perempuan yang katanya dia cintai baru saja meninggalkannya. Namun, sebelum sempat berlari mengejar, tangan Galih sudah lebih dulu membuka aplikasi bank. Dia menarik layar ke bawah, menunggu angka baru muncul seperti yang selalu terjadi setelah Nyai Sari memakai tubuh Laras.
Tidak ada uang masuk.
Jumlah di rekeningnya tidak berkurang, tetapi berhenti bertambah. Galih menatap saldo itu cukup lama sampai rasa mual naik ke tenggorokan. Bukan karena uangnya berhenti, melainkan karena baru sekarang dia melihat urutan tindakannya dengan jelas.
Laras pergi.
Galih memeriksa harga kehilangan itu.
Dia menutup ponselnya dan berlari menuju gerbang, tetapi Jalan Kenanga sudah kosong. Tidak ada suara langkah, tidak ada bayangan Laras di bawah lampu jalan, dan tidak ada kendaraan yang bisa dia hentikan untuk mengejar.
Malam itu, rumah tidak menjawab apa pun.
Galih tidur sendirian di kamar utama. Bantal Laras masih menyimpan bau sampo. Sikat giginya berdiri di samping sikat gigi Galih. Pot kecil yang dibeli Laras masih berada di dekat jendela, dengan tanah yang baru disiram pagi tadi. Semua barang itu membuat kepergian Laras terasa seperti sesuatu yang belum selesai, seolah perempuan itu hanya keluar sebentar dan akan kembali setelah kemarahannya reda.
Galih membuka percakapan mereka dan mulai mengetik.
Ras, aku bohong. Uang itu datang setiap kali Sari pakai tubuhmu. Aku tahu dan aku biarkan.
Dia berhenti cukup lama, kemudian menambahkan:
Aku minta maaf. Aku nggak akan cari kamu lagi.
Jempolnya menggantung di atas tombol kirim hampir satu menit. Namun, pesan itu tidak pernah dikirim. Kalau Laras membaca pengakuan tersebut, tidak akan ada lagi bagian dari hubungan mereka yang bisa Galih sebut nyata. Selama pesan itu masih tersimpan sebagai draf, Galih tetap bisa berpura-pura Laras pergi karena salah paham, bukan karena akhirnya memahami siapa dirinya.
Pada hari ketiga, Galih membeli kartu telepon baru dan menghubungi Laras dari nomor yang tidak dikenal. Laras mengangkat setelah dering ketiga.
“Halo?”
“Ras.”
Telepon langsung ditutup. Beberapa detik kemudian, nomor itu tidak bisa lagi digunakan untuk menghubunginya.
Galih tidak marah. Dia duduk di lantai dapur dan menangis sampai pagi. Ketika matahari mulai masuk melalui jendela, keran di hadapannya masih tidak mengeluarkan air, meskipun seluruh tagihan sudah dibayar.
Pada hari kelima, Galih mendatangi tempat tinggal lama Laras. Kamar petaknya sudah kosong. Ibu pemilik kos mengatakan Laras datang sehari setelah meninggalkan Jalan Kenanga, membayar tunggakan, mengambil seluruh barangnya, lalu pergi tanpa meninggalkan alamat baru.
“Kalau dia menghubungi Ibu, bilang saya cari,” kata Galih.
Ibu kos memandanginya dengan curiga.
“Mas ini siapa?”
Galih membuka mulut. Ada beberapa jawaban yang muncul di kepalanya. Pacar. Calon suami. Orang yang pernah berjanji akan menjaga Laras. Laki-laki yang katanya membuat Laras tidak perlu hidup sendirian lagi.
“Orang yang bikin dia pergi,” jawab Galih akhirnya.
Ibu kos menutup pintu tanpa mengatakan apa-apa.
Di tengah gang sempit itu, Galih baru menyadari betapa rapi dia memilih Laras sejak awal. Perempuan itu tidak punya keluarga dekat, tidak memiliki teman yang suka ikut campur, dan tidak ada seseorang yang akan langsung mencarinya kalau dia menghilang.
Dulu semua itu Galih sebut cocok.
Sekarang, semua itu membuat Laras hampir mustahil ditemukan.
Pada hari ketujuh, Galih duduk di ruang tengah dan berkata kepada dinding, “Aku jual dia.”
Rumah tetap diam.
“Aku tahu.”
Tidak ada jawaban.
“Aku bisa berhenti setelah utang lunas. Aku nggak berhenti.”
Kesunyian Nomor 9 memaksa Galih mendengar pengakuannya sendiri tanpa bantuan siapa pun. Tidak ada suara Nyai Sari yang menyuruh, membenarkan, atau memberinya alasan baru. Tidak ada ancaman yang bisa dipakai untuk menyebut dirinya korban.
Selama beberapa hari, rasa bersalah itu datang dalam bentuk yang utuh. Galih tidak bisa makan, tidak membuka aplikasi bank, dan tidak berani menyentuh barang-barang Laras. Dia tidur di ruang tengah karena tidak sanggup melihat sisi ranjang yang kosong.
Namun, tubuh manusia tidak dibuat untuk menanggung rasa bersalah yang utuh terlalu lama. Kalau rasa itu tidak bisa dibuang, pikiran akan mulai mencari nama lain agar bebannya terasa lebih ringan.
Pada hari kesepuluh, Galih mulai mengingat bahwa dia juga pernah membuat Laras bahagia. Dia mengantar Laras ke dokter ketika demam, membangun warung yang diinginkannya, memberi tempat tinggal, dan mengatakan kata kita saat tidak ada orang lain yang pernah mengucapkannya kepada Laras.
Semua itu benar.
Galih menyusun kebenaran-kebenaran kecil tersebut di sekitar satu kebohongan besar, seperti meletakkan furnitur bagus untuk menyembunyikan retakan di dinding.
Keesokan harinya, dia mulai memikirkan Wening dan Bahar. Wening menulis bahwa Bahar tidak memahami aturan rumah sampai semuanya terlambat. Galih meyakinkan dirinya bahwa dia berbeda.
Dia sudah tahu tentang nama, darah, persetujuan, dan saksi. Bahar gagal karena tidak mengerti apa yang sedang dia jual.
Galih memahami kontrak.
Kalau Laras mau kembali dan mendengarkan, pikirnya, dia bisa memperbaiki syaratnya. Dia bisa bernegosiasi dengan Nyai Sari. Dia bisa memastikan Laras tidak benar-benar hilang. Mungkin ada cara agar Nyai Sari dan Laras berbagi tubuh dengan waktu yang lebih seimbang.
Pikiran itu tidak memiliki dasar apa pun. Namun, terdengar jauh lebih baik daripada mengakui bahwa tidak ada perjanjian baru yang bisa mengembalikan waktu yang sudah dicuri dari hidup Laras.
Pada hari kelima belas, Galih mulai menyalahkan Laras karena pergi tanpa memberinya kesempatan menjelaskan. Pada hari kedelapan belas, dia sudah bisa berkata, “Dia juga memilih masuk rumah ini,” tanpa langsung merasa ingin muntah.
Rumah tetap diam.
Diamnya bukan penolakan.
Galih mulai menganggapnya sebagai persetujuan.
Pada hari kedua puluh dua setelah Laras pergi, Galih mengemas kopernya. Keputusan itu terasa masuk akal. Tanpa Laras, Nyai Sari tidak memiliki tubuh. Tanpa tubuh, rumah tidak menghasilkan uang. Namun, semua uang yang sudah masuk masih ada. Utang Pak Daud sudah lunas dan saldo rekeningnya cukup untuk membeli sebuah ruko kecil atau membuka usaha di kota lain.
Galih bisa pergi.
Memulai kembali hidupnya di tempat yang tidak memiliki pintu bergerak sendiri atau suara perempuan di dalam dinding.
Dia berdiri di ruang tengah dengan koper di tangan. Barang-barang Laras masih berada di tempatnya. Pot tanaman di teras, piring yang dia beli, tirai baru pilihannya, serta rancangan warung yang ditempel dengan selotip di dinding.
Untuk sesaat, Galih merasa sedih. Namun, rasa sedih itu lebih menyerupai perasaan seseorang saat meninggalkan hotel yang nyaman daripada seseorang yang kehilangan rumah.
“Makasih,” katanya kepada Nomor 9.
Galih berbicara dengan sopan, seperti seorang tamu yang selesai menginap. Dia membawa koper keluar, mengunci pintu depan, kemudian melewati gerbang.
Jalan Kenanga langsung terasa sangat panjang.
Awalnya hanya ada tarikan ringan pada telapak tangan kanannya, tepat di bekas luka paku berkarat. Rasanya seperti seutas benang tipis tersangkut pada lukanya dan ditarik perlahan dari belakang.
Galih tetap berjalan. Dia mencapai ujung gang, kemudian naik angkot menuju pusat kota. Pada jarak sekitar tiga kilometer dari Nomor 9, telapak tangannya mulai terasa panas.
Rasanya seperti ada bara kecil yang ditanam di bawah kulit.
Galih mengusap telapak tangannya, tetapi panas itu justru menyebar sampai ke siku. Lima kilometer dari rumah, dia turun dari angkot karena tidak sanggup menahan sakit. Galih duduk di halte sambil menekan tangannya ke dada. Rasa panas terus menjalar melalui lengan menuju leher.
Pada jarak delapan kilometer, Galih muntah di pinggir jalan.
Yang keluar bukan makanan.
Serpihan cat berwarna kuning gading jatuh ke aspal di antara ludahnya. Galih mengenal warna itu. Dia sendiri yang memilihnya ketika mengecat ulang ruang tengah Nomor 9 untuk menyambut Laras.
Dia memandangi serpihan cat tersebut.
Kemudian tertawa.
Awalnya pelan, lalu semakin keras sampai orang-orang yang menunggu di halte mulai menjauh. Galih baru berhenti tertawa ketika rasa panas di dalam tubuhnya berubah menjadi sesuatu yang terasa seperti api.
Dia langsung berjalan pulang.
Semakin dekat ke Jalan Kenanga, panas di tangannya semakin turun dan tarikan pada luka semakin longgar. Ketika akhirnya sampai di depan gerbang Nomor 9, Galih jatuh berlutut di atas rumput. Tubuhnya langsung terasa ringan, seperti seseorang yang hampir mati kehausan dan akhirnya menemukan air.
Gerbang terbuka sendiri. Udara hangat mengalir keluar dari halaman.
“Kamu mau ke mana?”
Suara Nyai Sari terdengar tepat di belakang tengkuknya. Lembut, seolah mereka hanya sedang membicarakan Galih yang pulang terlambat.
Itu pertama kalinya Nyai Sari berbicara lagi.
Galih menunduk.
“Aku cuma mau keluar sebentar.”
“Kamu membawa semua pakaianmu.”
“Aku mau cari tempat baru.”
Rumah mengeluarkan bunyi panjang. seperti seseorang yang sedang tertawa karena mendengar kebohongan yang terlalu buruk untuk dipercaya.
“Tempatmu di sini, Galih.”
Galih mencoba pergi tujuh kali lagi. Setiap percobaan dilakukan dengan jarak yang lebih jauh, dan setiap kali akibatnya menjadi semakin buruk.
Pada jarak dua puluh kilometer, matanya mengeluarkan darah. Ketika Galih mengusap wajah dengan sapu tangan, ada serbuk gergaji menempel di kainnya.
Pada jarak tiga puluh kilometer, dia menginap di sebuah hotel kecil di kota sebelah. Tengah malam, lengannya terasa seperti dipenuhi sesuatu yang merayap di bawah kulit. Galih menggaruknya sampai berdarah. Dari dalam lukanya keluar pecahan kecil kayu berwarna gelap.
Kayu jati tua.
Sama seperti kusen kamar tengah.
Pada jarak empat puluh kilometer, Galih terbangun pukul tiga pagi karena mencium bau Nomor 9. Dia benar-benar mencium bau dinding lembap, kayu tua, dan dupa Mak Iyem di dalam kamar hotel.
Ketika lampu dinyalakan, cat pada langit-langit kamar mulai mengelupas. Polanya sama dengan langit-langit ruang tengah Nomor 9, menyerupai peta sebuah tempat yang tidak pernah ada.
Galih berhenti mencoba setelah mencapai jarak lima puluh kilometer.
Malam itu, dia terbangun karena rasa sakit di dada. Kulit di bawah tulang selangkanya terbuka perlahan. terbuka seperti sepasang bibir. Dari dalam dagingnya muncul sebuah bentuk berwarna merah.
Cap tangan.
Basah dan lengkap dengan lima jari.
Ukurannya sama persis dengan telapak tangan Galih. Cap darah yang dahulu dia tekan ke dinding kamar tengah.
Dinding itu ternyata tidak menelan darahnya.
Dinding itu menyimpannya.
Sekarang cap tersebut muncul melalui tubuh Galih, seolah rumah sedang menunjukkan bahwa dia tidak pernah benar-benar meninggalkan Nomor 9.
Sebagian rumah sudah berada di dalam tubuhnya.
Dokter tidak menemukan apa-apa. Hasil pemeriksaan darah Galih normal. Foto rontgen terlihat bersih. Kulit di dadanya juga kembali tampak biasa beberapa jam setelah dia mendekati Jalan Kenanga.