NUMPANG HIDUP

Indra S Miraj
Chapter #9

Ijab

“Kita menikah,” kata Nyai Sari.

Galih duduk di lantai kamar tengah, tepat di samping ranjang tempat Laras terbaring tidak sadarkan diri. Dia tertawa kecil karena lega. Menikah. Setelah semua yang terjadi, ternyata hanya itu yang harus dilakukan.

“Setelah nikah, kamu bisa tinggal di tubuh Laras selamanya?”

“Selamanya.”

“Terus kita bisa pergi dari rumah ini?”

Nyai Sari tidak langsung menjawab. Jeda itu hanya berlangsung sebentar, tetapi cukup untuk membuat seluruh rumah terasa diam. Galih tidak memperhatikannya. Dia sudah membayangkan dirinya meninggalkan Jalan Kenanga bersama perempuan berwajah Laras. Mereka naik mobil, keluar kota, lalu semakin jauh dari Nomor 9. Uang akan terus datang. Cap tangan di dadanya akan hilang. Benang yang selama ini menarik telapak tangannya ke arah rumah akan berpindah kepada Nyai Sari yang berjalan di sampingnya.

“Aku belum pernah melihat laut,” kata Nyai Sari akhirnya.

Suaranya sangat pelan. Ada kerinduan di dalamnya, kerinduan yang membuat Galih merasa dirinya sedang melakukan sesuatu yang baik.

“Lebih dari lima puluh tahun aku nggak pernah bisa melewati gerbang. Kamu mau mengajakku melihat laut?”

“Besok.”

Galih menatap Laras.

“Besok pagi kita pergi.”

“Besok pagi,” ulang Nyai Sari.

Rumah bergetar senang. Debu berjatuhan dari langit-langit. Lampu kamar tengah berkedip, lalu menyala semakin terang.

“Terus aku harus ngapain?”

“Siapkan mas kawinnya.”

“Apa?”

“Darah.”

Galih memandang luka lama di telapak tangannya.

“Darah siapa?”

“Darahmu.”

Suara Nyai Sari terdengar dari dalam dinding.

“Rumah ini tidak percaya kertas. Kertas bisa disobek dan dibakar. Rumah hanya percaya kepada sesuatu yang keluar dari tubuh.”

Galih pernah mendengar kalimat serupa pada malam ketika dia membuat perjanjian pertama. Saat itu, dia memberikan nama dan darahnya kepada rumah. Sekarang rumah meminta lebih banyak.

Terdengar bunyi benda diletakkan di lantai.

Galih menoleh. Sebuah kaleng biskuit sudah berada di tengah kamar. Kaleng yang ditemukan Laras di balik lemari. Kaleng milik Wening. Galih mengenali karat pada tutupnya.

“Kenapa harus pakai ini?”

“Aku selalu memakai kembali barang milik istri sebelumnya.”

“Kenapa?”

Nyai Sari tidak menjawab. Galih tidak bertanya lagi. Dia sudah belajar bahwa ada pertanyaan yang jawabannya hanya akan membuat semuanya terasa lebih buruk.

Galih mengambil pisau dari dapur. Dia memanaskan ujungnya di atas api, lalu kembali ke kamar tengah.

“Sebanyak apa?”

“Buka lukanya. Rumah yang menentukan cukup atau belum.”

Jawaban itu seharusnya membuat Galih berhenti.

Dia tetap menyayat lengan kirinya.

Darah menetes ke dalam kaleng.

Tik.

Tik.

Tik.

Tetes pertama mengenai dasar kaleng, lalu melebar terlalu cepat. Setetes darah membentuk genangan selebar telapak tangan. Tetes berikutnya membuat permukaannya naik jauh lebih banyak daripada seharusnya.

Galih memandangnya sambil menahan napas. Kaleng itu tidak sedang diisi sesuai jumlah darah yang keluar dari tubuhnya. Rumah memperbanyak apa yang dia berikan.

Setelah beberapa menit, lukanya mulai menutup.

“Belum,” bisik Nyai Sari.

Galih menyayatnya sekali lagi. Kepalanya mulai terasa ringan. Genangan merah di dalam kaleng naik sampai menutupi dasar dan sebagian dindingnya, meskipun darah yang keluar dari lengan Galih tidak mungkin sebanyak itu.

Rumah berderak pelan.

“Cukup,” kata Nyai Sari.

Galih membalut lengannya dengan kain. Ketika dia menoleh ke arah Laras, dinding kamar tengah sudah berubah. Permukaannya menonjol di puluhan tempat, membentuk telapak-telapak tangan yang menekan dari sisi dalam.

Ada tangan kecil milik anak-anak. Ada tangan dengan jari panjang dan kurus. Ada pula tangan yang memakai cincin, gelang, atau hanya menyisakan bentuk tulang di bawah lapisan cat.

Galih berdiri perlahan.

“Mereka siapa?”

“Saksi.”

“Semua?”

“Mereka yang pernah menerima rumah ini sebagai tempat tinggal.”

Galih menghitung sekilas. Ada lebih dari dua puluh telapak tangan.

“Berarti semuanya pernah jadi istri?”

“Sebagian pernah menjadi istri. Sebagian hanya sempat dipersiapkan.”

“Terus kenapa mereka masih di dalam dinding?”

Rumah mengeluarkan bunyi panjang.

“Karena tidak semua orang menepati janji.”

Galih memandang wajah Laras yang masih tidak bergerak.

“Dia harus sadar?”

“Persetujuan tidak bisa diberikan orang yang tidur.”

Galih membeku.

“Aku membawa dia dalam keadaan nggak sadar.”

“Kamu yang memilih caranya.”

“Kalau dia menolak?”

“Buat dia percaya bahwa tidak ada jalan lain.”

Nyai Sari mengatakannya tanpa nada menyuruh. Seperti biasa, dia hanya memberikan keadaan dan membiarkan Galih menemukan sendiri cara terburuk untuk menyelesaikannya.

Galih duduk di tepi ranjang. Dia menepuk pipi Laras perlahan.

“Ras.”

Laras tidak bergerak.

Galih menepuknya sedikit lebih keras.

“Ras, bangun.”

Kelopak mata Laras bergerak. Napasnya berubah berat, lalu tubuhnya menegang ketika kesadaran kembali. Dia membuka mata dan langsung mencoba bangkit, tetapi Galih sudah memegang kedua bahunya.

“Jangan bergerak dulu.”

Laras menatap sekeliling. Pandangannya jatuh pada kaleng berisi darah, telapak-telapak tangan yang menonjol dari dinding, lalu kembali kepada Galih.

Wajahnya tidak langsung menunjukkan ketakutan.

Yang muncul lebih dulu adalah pengertian.

“Kamu bawa aku balik.”

“Dengar dulu.”

“Kamu menculik aku.”

“Aku nggak punya pilihan.”

Laras tertawa pendek. Suaranya serak.

“Kamu selalu punya pilihan, Mas. Kamu cuma nggak pernah suka pilihan yang bikin kamu rugi.”

Galih melepaskan salah satu bahunya dan meraih gelas air. Laras menepisnya.

“Nyai Sari mau menikah,” kata Galih.

Laras berhenti bergerak.

“Dengan kamu?”

Galih mengangguk.

“Di tubuhku.”

Galih tidak menjawab.

Laras melihat kaleng berisi darah.

“Itu mas kawinnya?”

“Iya.”

Laras memejamkan mata sebentar. Ketika membukanya kembali, wajahnya jauh lebih tenang.

“Wening sudah tulis semuanya.”

“Aku juga sudah baca.”

“Kalau sudah baca, kamu seharusnya tahu pernikahan ini bukan jalan keluar.”

“Wening gagal karena terlambat.”

“Wening gagal karena orang yang dia percaya tetap memilih rumah.”

Galih menarik napas.

“Aku ngerti aturannya sekarang.”

Laras menatapnya dengan sedih.

“Mas masih pikir rumah ini transaksi yang bisa kamu menangkan kalau baca syaratnya lebih teliti.”

“Kali ini beda.”

“Bedanya apa?”

“Aku tahu soal nama, darah, tangan, sama saksi.”

“Kamu baru tahu nama aturan. Bukan maksudnya.”

Galih menggenggam pergelangan Laras.

“Kita bisa pergi setelah ini.”

Laras melihat tangannya yang sedang dipegang, lalu mengangkat wajah.

“Maksudmu kamu dan siapa?”

Galih tidak langsung menjawab.

“Maksudku aku dan...”

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Laras mengerti.

“Kamu sama dia.”

Galih menatap lantai.

Laras menarik napas panjang.

“Mas, dengarkan aku satu kali saja.”

“Ras...”

“Habis ini kamu mau melakukan apa pun, terserah.”

Galih terdiam.

“Jangan diterusin.”

Rumah yang tadi terus bergetar mendadak diam. Telapak-telapak tangan di dinding tetap terbuka, seolah semuanya ikut mendengarkan.

“Kamu pikir setelah nikah kamu bisa pergi,” kata Laras. “Nggak bisa.”

“Dia bilang bisa.”

“Dia nggak pernah bilang bisa. Dia cuma tanya kamu mau ngajak dia melihat laut.”

Galih teringat jeda Nyai Sari ketika ditanya apakah mereka bisa meninggalkan rumah. Jeda yang sangat singkat. Namun, sekarang jeda itu kembali terdengar jelas di dalam kepalanya.

“Wening menulis semuanya,” lanjut Laras. “Rumah ini bukan penjara Nyai Sari. Rumah ini bagian dari dia. Menikah cuma bikin dia punya tubuh selamanya. Bukan berarti dia bisa keluar dari tanah ini.”

Galih melepaskan tangan Laras.

“Itu kata Wening.”

“Itu yang terjadi pada Bahar.”

“Aku bukan Bahar.”

“Semua laki-laki di rumah ini mungkin bilang begitu.”

Laras memandang kemeja Galih yang dikancingkan sampai ke leher.

“Kamu sudah terikat sejak memberi darah ke rumah. Ikatan itu makin kuat setiap kali kamu menyentuh tubuhku saat Sari ada di dalam.”

Galih langsung teringat pasar malam. Tangan Sari yang menggenggam lengannya. Malam-malam ketika dia tidur di samping tubuh Laras tanpa mengetahui siapa yang sedang berada di dalamnya.

“Makanya kamu nggak bisa pergi jauh,” lanjut Laras. “Cat yang keluar dari mulutmu. Kayu yang keluar dari tanganmu. Cap di dada kamu.”

Galih tidak bergerak.

“Kalau nikah ini selesai, ikatan itu nggak hilang. Justru jadi permanen.”

“Nikah ini bikin Sari bisa keluar.”

“Nikah ini bikin dia punya tubuh selamanya.”

Laras melihat ke arah gerbang yang tidak terlihat dari kamar.

“Selama Sari belum permanen, masih ada kemungkinan dia hilang.”

“Caranya?”

Laras diam cukup lama.

“Kalau tubuhku mati, pintunya ikut tertutup.”

Galih menatapnya.

“Jangan ngomong begitu.”

“Dia akan kembali ke dinding.”

“Kamu nggak tahu pasti.”

“Nggak.”

Laras mengangguk.

Lihat selengkapnya