Gerbang besi di depan rumah terbuka lebar, seperti dua puluh tujuh tahun terakhir. Tidak pernah dikunci karena memang tidak perlu. Tidak ada seorang pun di dalam Nomor 9 yang bisa melewatinya, sementara orang-orang di luar sudah terlalu lama belajar untuk tidak mendekat.
Angin pagi masuk melalui halaman, membawa bau asap kendaraan, gorengan dari warung Bu Sri, dan suara anak-anak yang sedang berangkat sekolah. Sesekali terdengar suara ibu memanggil anaknya agar tidak terlambat, pedagang sayur menawarkan dagangan, lalu motor melintas di ujung Jalan Kenanga.
Bau kehidupan orang lain yang terus berjalan di luar sana.
Nyai Sari masih memandang ke arah gerbang. Kopi di tangannya sudah tidak lagi mengeluarkan uap, tetapi dia belum meminumnya. Setiap pagi, pandangannya selalu berhenti di tempat yang sama, tepat pada garis batas antara halaman Nomor 9 dan Jalan Kenanga.
Garis yang tidak terlihat oleh siapa pun.
Garis yang sudah dicobanya lewati ribuan kali.
Galih meletakkan cangkirnya di atas meja. Bagian bawah cangkir meninggalkan lingkaran basah pada permukaan kayu. Tangannya masih gemetar setelah setoran darah malam sebelumnya. Luka pada sisi lengannya tertutup perban, tetapi warna merah sudah mulai merembes melalui kain kasa.
Nyai Sari tidak memperhatikannya.
“Apa laut masih sama?” tanyanya.
Galih menatap punggung perempuan yang memakai tubuh Laras.
“Aku nggak tahu.”
“Kamu pernah lihat.”
“Sudah lama.”
“Baunya seperti apa?”
Galih mencoba mengingat. Ombak, pasir basah, angin asin yang menempel pada kulit. Namun, semua ingatan tentang dunia di luar rumah semakin sulit dipanggil. Dua puluh tujuh tahun tinggal di Nomor 9 membuat tempat-tempat lain terasa seperti cerita yang pernah didengar dari orang lain.
“Asin,” jawabnya akhirnya.
Nyai Sari menoleh.
“Aku tahu rasanya asin.”
“Baunya juga begitu.”
“Itu jawaban bohong.”
Galih tidak membantah. Nyai Sari kembali memandang gerbang. Jalan di luar sana terlihat begitu dekat. Hanya perlu berjalan melewati halaman, membuka pagar, lalu menurunkan satu kaki ke trotoar.
Hanya satu langkah.
Namun, bagi mereka, satu langkah itu lebih jauh daripada seluruh tempat yang pernah dijanjikan Galih.
Galih bangkit dari kursinya. Lututnya mengeluarkan bunyi kecil. Dia berjalan menuju wastafel sambil membawa cangkir. Keran dibuka. Air mengalir pelan, membawa sisa kopi ke lubang pembuangan.
Di kaca jendela sebelah meja, embun bergerak.
Awalnya Galih mengira air itu hanya turun karena terkena cahaya pagi. Namun, lima garis muncul perlahan dari sisi dalam kaca.
Satu demi satu.
Panjang dan sejajar.
Membentuk jari-jari tangan.
Galih berhenti bergerak.
Telapak itu menekan kaca dengan rapi dan tenang. Bentuknya tidak sebesar tangan Nyai Sari. Jari-jarinya lebih kecil, dengan kelingking yang lurus dan utuh.
Bukan tangan dari tubuh yang sedang berdiri di depan gerbang.
Tangan itu bergeser sedikit. Ujung telunjuknya menyentuh embun, kemudian menarik satu garis melingkar. Galih mendekati jendela dengan langkah pelan.
“Ras?”
Suara itu hampir tidak terdengar.
Nyai Sari tidak menoleh. Dia masih memandangi Jalan Kenanga sambil membicarakan laut yang tidak pernah dilihatnya.
Di balik kaca, kelima jari bergerak sekali lagi. Telapak itu menekan lebih kuat, seperti seseorang yang sedang mencoba memastikan ada orang di sisi lain yang melihatnya.
Kemudian jari telunjuknya mulai menulis.
Satu huruf terbentuk di permukaan embun.
P.
Galih menahan napas.
Huruf berikutnya muncul perlahan.
I.
Kemudian huruf ketiga.
N.
Galih berdiri sangat dekat dengan kaca. Jantungnya berdegup cepat. Selama dua puluh tujuh tahun, Laras tidak pernah menunjukkan dirinya sejelas ini. Hanya gerakan kecil, kedipan yang tidak sesuai, atau tangan basah yang mendadak diam ketika Nyai Sari lengah.
Sekarang Laras sedang menulis.
T.
Nyai Sari akhirnya mendengar napas Galih berubah. Dia menoleh dari gerbang.
“Kamu lihat apa?”
Galih berdiri di depan kaca, menutupi tulisan dengan tubuhnya.
“Nggak ada.”
Nyai Sari mengerutkan dahi.
“Kamu bohong lagi.”
Galih tidak bergerak. Di balik punggungnya, satu huruf terakhir terbentuk di antara embun.
U.
PINTU.
Galih menatap kata itu.
Laras tidak menulis tolong.
Tidak menulis sakit.
Tidak pula meminta Galih menyelamatkannya.
Dia hanya menulis satu kata yang sejak awal menjadi pusat dari seluruh hidupnya.
Pintu.
Pintu yang terbuka ketika dia berusia enam tahun.
Pintu yang membuat roh-roh datang dan pergi melalui tubuhnya.
Pintu yang dijanjikan Galih kepada Nyai Sari.