Tahun 1983, di sudut tersembunyi Pulau Dewata. Tepatnya di sebuah kota kecil berjuluk Gumi Kebus, tanah yang diukir oleh legenda Ki Barak Panji. Di tengah keheningan yang menyesakkan. Pada malam panjang tanggal 20 Juni, lahirlah sesosok bayi laki-laki dari keluarga yang hidup dalam naungan kesederhanaan.
Dia datang bukan sekadar dengan tangisan biasa. Melainkan raungan yang memecah tirai malam. Seperti sebuah deklarasi kehendak yang keras kepala. Seolah ingin menuntut tempatnya di bawah langit semesta. Seperti bayi-bayi lainnya yang lahir di hari itu juga.
Dia juga datang dengan penanganan khusus, seperti bayi emas dari anak orang kaya. Padahal kedua orang tuanya bukan berada di ranah tersebut. Di mana seharusnya dia terlahirkan cukup dengan bantuan tangan kasar dukun beranak di kampung. Namun, dia malah mendapatkan perawatan langsung dari tangan malaikat berjuluk tenaga medis.
Semua ini bisa terjadi bukan cuma kebetulan semata. Seolah-olah garis takdir telah menorehkan dirinya untuk hal tersebut. Jika tidak, takdir alternatif lainnya bisa saja terjadi dan ini akan sangat berakhir tragis. Penuh derai air mata. Bukan senyum suka cita. Tapi kabut duka bagi seluruh penduduk di kampungnya. Karena harus menyambut kedatangan kereta putih bertenaga mesin—ambulans yang meraung dengan sirine panjang menyayat hati. Kendaraan pembawa kabar buruk yang membawa pulang dua tubuh manusia tak lagi bertuan. Dengan wajah kaku sedingin es yang akan menghancurkan semangat ayah, orang-orang di kampung, dan kerabatnya.
Beruntung benang takdir belum sepenuhnya putus. Tepat sebelum nyawa ibunya berada di separuh tenggorokan. Sebelum napasnya menjadi bisikan terakhir. Tangan-tangan para tetangga mendorong ibunya untuk segera dilarikan ke rumah sakit daerah. Demi mendapatkan proses persalinan yang jauh lebih intensif di sana.
Sungguh kelahirannya bak sebuah perlawanan atas takdir yang bisa saja akhir dari dirinya. Sebelum dia sempat meninju kerasnya kehidupan dunia fana ini. Dunia yang penuh perjuangan untuk sekedar bisa berjalan tegak. Melawan derasnya arus sang waktu yang menghantam raga di setiap langkah. Tanpa memberi jeda untuk memaknai arti sejati dari makna napas ini.