Numpang Hidup

Bksai
Chapter #2

Mahendra

Mahendra, nama yang singkat, padat, dan berdiri sendiri tanpa embel-embel di depan maupun di belakang. Tidak seperti kebanyakan orang pada umumnya. Malah, ada yang penamaannya penuh rentetan panjang bagai gerbong kereta api. Sehingga kadang bikin lidah keseleo dan mengalami kebingungan harus dipanggil apa sebagai sapaan sehari-hari.

​Dia tidak menyandang gelar Gede, Ketut, Ngurah, Putu, Anak Agung atau sebutan lainnya yang menjadi ciri khas garis keturunan Bali. Sebab Mahendra bukan penganut agama Hindu; ia seorang Muslim. Meski lahir di tanah Dewata. Walau memang ada beberapa orang muslim yang memakai panggilan khas tersebut. Ini biasanya masih digunakan oleh orang-orang yang lahir dan berasal dari Desa Pegayaman. Demi tetap melestarikan nama-nama khas Bali secara turun-temurun. Sebagai bagian dari identitas yang kuat kalau mereka merupakan bagian dari sejarah panjang kerajaan Buleleng. Namun Mahendra tidak termasuk di dalamnya karena dia tidak lahir di desa tersebut, tapi di pinggiran kota yang berdekatan langsung dengan sungai dan pantai Singaraja. Walau demikian, namanya murni seolah ingin menegaskan identitas sendiri. Tanpa harus terikat pada sekat-sekat tradisi yang lazim ditemui di sekitarnya.

Sejarah Desa Pegayaman berakar kuat pada abad ke-17, jauh sebelum Belanda menguasai Bali. Semua bermula dari kebijakan Ki Barak Panji Sakti—Raja Buleleng, yang merekrut 100 laskar Muslim dari Blambangan (Banyuwangi) untuk menjadi prajurit pilihan yang memiliki misi khusus: menjaga wilayah perbukitan di selatan Buleleng yang strategis. Di mana di tempat itu jugalah mereka menetap dan membentuk desa. Menikahi gadis-gadis Bali dan menjadikan mereka sebagai mualaf. Dari sinilah akulturasi budaya berjalan dan menyatu. Sehingga mereka dan keturunannya hingga kini tetap menjaga identitas sebagai penganut Islam yang taat sekaligus pemegang teguh tradisi Bali.

Mahendra, dalam bahasa Sansekerta, nama itu berarti "Penguasa yang Agung". Sebuah doa mulia yang disematkan orang tuanya dengan harapan dia kelak tumbuh menjadi pemimpin yang bijak dan berwibawa. ​Namun sayangnya, keagungan itu seolah berhenti di atas kertas akta kelahiran. Sebab, semenjak dia menginjak bangku sekolah dasar, dirinya tidak pernah menjadi "penguasa" dalam hal apa pun. Baik jabatan ketua kelas yang selalu jatuh ke tangan teman-temannya yang lain. Hingga gelar juara kelas pun terasa seperti mimpi yang terlalu jauh untuk digapai.

​Tidak hanya itu, laporan hasil akhir belajarnya—rapor, selalu menampilkan deretan angka yang membosankan—alias rata-rata. Dan karena ini juga dia tidak pernah menjadi siswa yang mencolok, namun tidak pula terlalu terbelakang hingga menjadi juru kunci di kelas. Mahendra hanyalah sosok yang "ada", terjebak dalam zona nyaman yang biasa-biasa saja di tengah riuh rendah ambisi teman-temannya.

Sangat wajar jika hal itu dialami oleh Mahendra. Sebab, dia memiliki ketimpangan nalar dan kemampuan dalam menyerap mata pelajaran yang lemah. Dan ini terlihat paling telanjang saat dia berhadapan dengan angka. Pelajaran berhitung adalah musuh bebuyutannya; sebuah labirin tanpa jalan keluar yang membuat nilai Matematikanya jarang menyentuh angka lima. Puncaknya, dia pernah mencicipi pahitnya nilai nol dalam ujian caturwulan—sebuah raport merah yang mempertegas posisinya di barisan belakang.

​Walaupun demikian, dibalik "kelumpuhan" logikanya, Mahendra menyimpan senjata rahasia: Bahasa Indonesia.

Lihat selengkapnya