Hidup Mahendra memang tampak kelam, namun tidak sepenuhnya kehilangan warna. Dibalik mantra keputusasaan yang dia rapalkan setiap malam, Mahendra masih menyisakan sedikit ruang bagi tawa untuk menyelinap masuk.
Momen-momen itu biasanya hadir di tengah riuhnya pasar, saat dia sedang bermandikan peluh membantu ayahnya sebagai buruh angkut. Di sela-sela memanggul beban yang menindih bahu ringkihnya, ada saja hal sepele yang mampu memancing tawa lebarnya pecah.
Pasar adalah panggung komedi baginya. Dia sering menjadi sasaran empuk celetukan nakal para pedagang perempuan yang gemar menggodanya.
"Duh, Mahendra, makin hari makin ganteng saja kamu. Cocok jadi menantuku," goda mereka sembari tertawa renyah.
Tawaran-tawaran perjodohan jenaka seperti itu, dengan anak perempuan mereka menjadi musik latar yang menghibur di tengah bau pasar yang menyengat. Bagi Mahendra, sanjungan ringan dan candaan itu adalah "upah tambahan" yang tidak ternilai. Di saat itulah, dia sejenak melupakan lubang di hatinya dan merasa bahwa dunia—setidaknya sudut kecil di pasar itu—masih memiliki tempat untuknya.
Wajar jika para pedagang gemar menggodanya, sebab Mahendra memang memiliki aura ketampanan yang sulit diabaikan. Meski kulit sawo matangnya perlahan mulai menggelap dan "terbakar" oleh sengatan matahari pasar, hal itu justru mempertegas sosoknya.
Garis rahangnya yang tegas tidak pernah memudar. Justru semakin kokoh dan matang seiring dia memasuki masa akil baligh di kelas 2 SMP. Ketajaman wajahnya itu berpadu sempurna dengan rambut hitam lurus yang tampak berkilau setiap kali terpapar cahaya matahari.