Hanya dalam hitungan hari, nama Raya mulai jadi perbincangan di kalangan keluarga Darmawan. Sebagian besar dari mereka masih sulit menerima kenyataan bahwa orang asing tiba-tiba masuk dalam lingkaran warisan mereka.
Di sisi lain, Raya memilih tetap fokus untuk menata rumah warisan itu. Bersama Alvin dan Adit, ia mulai membersihkan bagian demi bagian rumah tua tersebut. Tak jarang, tumpukan debu dan sarang laba-laba menjadi lawan sehari-hari mereka.
"Aduh, Vin, ini kayanya rumah udah kayak museum deh. Banyak banget barang-barang kuno di sini," keluh Raya sambil mengelap sebuah patung porselen kecil.
Alvin mengangkat satu lukisan besar dari dinding, lalu menatapnya heran.
"Kak, liat deh. Ini siapa ya? Mukanya kayak mafia zaman Belanda."
Adit mendekat dan ikut memperhatikan lukisan itu. "Kayaknya sih salah satu leluhurnya Darmawan. Serem amat mukanya."
Tiba-tiba, ponsel Raya berdering. Nama pengacara notaris muncul di layar.
"Halo, Pak Herman?"
"Selamat siang, Ibu Raya. Saya hanya ingin mengabarkan bahwa keluarga Darmawan telah resmi mengajukan gugatan terkait warisan ini."
Raya menarik napas panjang. "Mereka beneran serius, ya, Pak?"
"Ya, Bu. Tapi Ibu tenang saja. Posisi hukum Ibu sangat kuat. Surat wasiat asli, sah secara hukum, lengkap dengan saksi dan notaris. Ini hanya masalah waktu saja."
"Baik, Pak. Terima kasih infonya."
Setelah menutup telepon, Raya menghela napas berat.
"Udah mulai nih," katanya.
Alvin langsung nyengir. "Santai, Kak. Mereka boleh punya pengacara, kita punya... pasukan stand up komedi!"
Adit ikut menimpali, "Dan pasukan itu udah gue panggil. Nanti sore mereka dateng ke sini."
Raya memandang kedua sahabatnya dengan heran. "Maksud lo?"