nusaNtara

Nunu nugraha
Chapter #1

Chapter #1 Edelweiss di ujung senja


Langit sore menggantungkan warna jingga yang perlahan ditelan kelabu.

Senja hari itu terasa lebih lambat dari biasanya.


Angin membawa aroma tanah yang mengering setelah hujan semalam. Suasana SMA Negeri itu dipenuhi riuh ucapan selamat, pelukan, dan tawa para siswa yang baru saja dinyatakan lulus.


Namun di tengah hiruk-pikuk itu, ada dua hati yang diam-diam bergetar.


Tara berdiri terpaku di bawah pohon angsana tua. Tatapannya tertuju pada sosok yang melangkah perlahan ke arahnya, Nusa. Senyumnya tenang, sorot matanya hangat, namun tersimpan sesuatu yang tak mudah dibaca.


“Aku punya sesuatu untukmu,” ujar Nusa, seraya mengeluarkan sebuah kalung liontin Edelweiss dari saku jaketnya.


Tara menahan napas. Jemari Nusa menggenggam tangannya dengan lembut, lalu menggantungkan liontin itu di lehernya.


“Bunga ini kuat,” ucap Nusa pelan. “Ia bertahan di tempat tertinggi, melawan badai dingin. Aku harap… kamu pun selalu begitu.”


Tara tak mampu membalas kata-kata itu. Hanya senyum tipis dan Pipinya bersemu merah. Hatinya berdebar menerima liontin dari seseorang yang diam-diam ia harapkan cintanya.


“Kamu datang ke acara kelulusan nanti, kan?” bisik Tara.


“Iya. Kita rayakan bareng,” jawab Nusa, melangkah mundur. “Aku pulang duluan, ya?”


berjalan pergi, meninggalkan jejak langkah yang berat namun pasti. Perlahan, bayangnya menghilang di balik lorong kelas.

Tara menatap punggung itu, seolah ingin menahan… atau memeluknya.


Senja menggantung lama sore itu, seolah ikut menunda perpisahan yang tak bisa dicegah.

 

suara raungan motor memecah sunyi , betenaga, cepat dan membelah suasana yang mulai mendingin..


Nusa tidak langsung pulang. Ia menyusuri jalan-jalan kota dengan motor gede warna hijau kesayangannya..


motor itu bukan hanya tunggangan, tapi bagian dari jiwa Nusa bebas, cepat, dan sulit ditebak.


Helm tertutup menyamarkan identitasnya, hanya ingin menolong, Membantu, atau sekadar membagikan makanan pada gelandangan. Nusa pahlawan kecil tanpa nama.


 Dan warung sate keliling milik Pa Budi. tempat terakhir yang ia kunjungi. Lelaki tua yang sudah seperti teman lama baginya.


Mereka bercanda, berbagi tawa, atau hanya sekadar diam menikmati malam.


anak itu selalu membeli sate di akhir dagangannya, dan tak pernah tau siapa nama anak itu. ia hanya memanggil nya jang!!!


membeli banyak, makan di tempat, sisanya dibawa pulang, untuk sopir dan pembantu rumah.


sedangkan .Nusa tahu persis siapa mereka. Tara adalah anak satu-satunya Pa Budi. Dan lebih dari itu, Pa Budi adalah orang yang pernah menyelamatkan hidupnya.


sate yang tergantung di perjalanan pulang, membawa aroma danging hangus terbakar


Mengingatkannya pada aroma hangus dari kap mobil yang terbalik di pinggir jalan, merenggut nyawa supir dan ibunya,


nusa yang masih bocah selamat dalam pelukan penuh darah ibunya.. di tarik keluar oleh pa budi yang tak sengaja lewat..

membawanya serta ke rumah sakit,


kenangan kelam itu teringat olehnya..


Sejak hari itu, hidup Nusa berubah. Trauma membuatnya enggan naik mobil lagi.


berbuat baik menjadi cara untuk ia bersukur..

cara yang bisa ia mengerti: diam-diam, tulus, tanpa pamrih.


Motor yang ia kendarai perlahan diam dan sampai di depan rumahnya, suasana terasa janggal. Gerbang tak dibukakan oleh satpam seperti biasanya.


memanggil beberapa kali, namun tak ada sahutan. Hingga ia masuk sendiri dan mendapati satpam rumahnya duduk tak bergerak di pos.


Saat disentuh, tubuhnya terjatuh dingin, pucat, dan terdapat bekas cekikan halus di lehernya.


Jantung Nusa berdegup keras. Panik. Ia berlari ke dalam rumah.

Langkah berat penuh kebingungan dan ketakutan ,


Ruangan acak-acakan. Kaca pecah berserakan. Jejak darah di lantai.


di kamar atas, ia menemukan ayahnya terkapar bersimbah darah dengan luka tembak di perut. nusa menghampirinya,


"yah,yah,bangun yah! apa yang terjadi? "


air mata tak terbendung, gemetar menahan pemandangan mengerikan...


“Ini… bukan perampokan,” desah ayahnya, nafas tersengal menahan sakit.


Lihat selengkapnya