nusaNtara

Nunu nugraha
Chapter #2

Chapter 2 . Nama yang di buang

   7 tahun telah berlalu sejak malam kelulusan itu. Sejak motor hijau muda yang kini telah menjadi hitam berada di teras  halaman rumah Pa Budi,


membawa serta kenangan dalam seorang anak laki-laki bernama Nusa.


Di sebuah taman di ibu kota, duduklah seorang pria dengan rambut gondrong, mengenakan jaket kulit hitam lusuh yang tampak keras oleh waktu.


Di jemarinya, sebatang rokok terus menyala, mengepul tak henti seperti pikirannya yang tak pernah tenang.


Tatapannya tajam, dingin, dan penuh bayang-bayang luka yang belum sembuh.


Tak ada lagi yang mengenalnya sebagai Nusa, kini dia hanya “Ares”—nama pemberian gurunya ,


nama untuk menutupi masa lalu, untuk melupakan dirinya yang dulu. Nusa yang ceria telah mati bersama kematian ayahnya, bersama masa kecilnya .


terkadang sesekali, meski telah berganti nama dan rupa, kenangan itu tetap menyelinap. teringat  pamit terakhirnya dengan seorang guru tua di kaki Gunung Karang, Banten. Abah Bumi.


"Nak, ilmu yang aku ajari padamu sudah selesai. Tapi itu hanya cangkang. Isinya, hanya bisa ditemukan dari cara pandangmu terhadap dunia.


Kalau berhasil… aku akan datang menemuimu. Pergilah. Dunia menantimu. Aku akan selalu mengawasimu, Nusa—yang dulu, dan ares yang sekarang."


Seketika itu juga, Nusa merasakan sesuatu mengalir dalam dadanya. Sebuah janji. Sebuah takdir yang belum selesai.


"Tuhan!! ,kemana takdir akan membawaku"


Bisik ares nafasnya berat dan penuh kebingungan


Di sisi lain kota, Jalanan ramai oleh cahaya dan suara. Seorang pria berbadan tegap, berseragam polisi, melangkah mantap keluar dari kantor. Bima.


Bocah konyol yang dulu menyukai Tara kini telah tumbuh menjadi sosok tegas dan tangguh.


Ia memilih jalan sebagai polisi, bukan hanya karena darah militer mengalir dari kakek dan ayahnya, tetapi karena sebuah alasan yang lebih dalam—melindungi orang yang ia cintai, Tara.


Dan Tara—gadis tomboy yang dulu menaruh hati pada Nusa, telah menjadi seorang intelijen muda yang cerdas.


Di balik penampilannya yang elegan dan profesional, ia menyimpan luka yang tak pernah sembuh.


tujuannya menjadi polisi, demi satu harapan: menemukan cinta lamanya "Nusa"....


Kini, dengan keahliannya di bidang IT, Tara berhasil menyusup ke dalam sebuah perusahaan besar .


Sebuah perusahaan yang diduga menjadi kedok dari sindikat narkotika dan perdagangan ilegal.


Tara bekerja sebagai asisten pribadi bos perusahaan itu. Ke mana pun ia pergi, selalu ada laptop di tangan, dan dua bodyguard yang mengawal di belakang.


Malam itu, ketika Tara menemani bosnya menghadiri acara di sebuah klub malam elite


tempat pertandingan tinju bawah tanah.  bosnya berencana merekrut petarung terkuat untuk menjadi pengawal tambahan.


  mobil mewah berhenti di depan klub, Tara turun terlebih dahulu, jas hitam membalut tubuh rampingnya, dan liontin edelweiss menggantung di dadanya.


Ia berjalan dengan anggun, penuh percaya diri, diapit dua pengawal dan pria tua di sampingnya.


"apa semua sudah di persiapkan?" ucap laki laki tua itu


"ya boss!! malam ini ada pertandingan, nanti bisa memilih siapa yang cocok untuk mendampingi"! jawab tara


dari kejauhan, Ares… atau Nusa, melihat semuanya, jantungnya berhenti berdetak sejenak. Dunia di sekelilingnya redup. Hanya wanita itu yang bersinar.


Liontin itu…


"Itu Tara".


Matanya menatap tajam. Tangan menggenggam keras rokok yang hampir habis. Nafasnya tercekat kaget!...


hatinya tahu, pertemuan ini bukan kebetulan.

Dan mungkin… ini adalah awal dari sebuah akhir. 


     Ares melangkah cepat, menembus kerumunan dan gemerlap lampu kota.


Jantungnya masih berdetak kencang. Matanya tak lepas dari sosok wanita berjas rapi itu..


Kalung berliontin Edelweiss tergantung di leher wanita itu, membuat langkahnya tak bisa berhenti.


Keyakinan itu mengguncang seluruh isi dadanya. sebelum ia sempat memanggil, Tara telah menghilang di balik pintu hitam klub mewah itu.


Ares, atau Nusa yang telah lama menyembunyikan identitasnya mengikuti masuk ke klub itu


Dentuman musik memekakkan telinga. Cahaya lampu menari-nari seperti ilusi. Tempat itu penuh dengan hiruk-pikuk, tawa, dan aroma alkohol.


Lihat selengkapnya